Rahasia Cinta yang Gelap

Jumat, 08 September 2017 - 15:55 WIB

MEMANG sudah nasibku yang buruk menikahi suami yang tukang selingkuh. Aku tahu dia mencintaiku dan juga menyayangi kedua anak kami, tapi dia juga tidak bisa meninggalkan selingkuhannya. Aku yang terlanjur dipenuhi amarah dan dendam ikut-ikutan selingkuh.
 

Cerita perselingkuhan yang mendera rumah tanggaku akhir-akhir ini semakin memuncak. Sekarang rumah tanggaku terancam bubar karena suamiku yang egois itu mengetahui perselingkuhanku.
 

Namaku Ana, aku sudah menikah selama 13 tahun. Saat menikah dulu usiaku masih 24 tahun dan suami 26 tahun.
 

Sebenarnya sejak awal aku sudah tahu suamiku adalah seorang pecinta wanita tapi karena aku memang mencintainya aku menerima lamarannya dengan harapan dia bisa berubah kalau sudah menikah dan memiliki anak. Jujur saja saat itu aku merasa beruntung bisa mendapatkannya.
 

Ternyata harapan tinggal harapan. Kenyataan berbicara lain. Di awal pernikahanku saja dia masih sering main perempuan. Aku tahu dari cerita orang-orang sekeliling kami yang santer membicarakan tabiat suamiku. Bahkan kabarnya dia memiliki pacar di kantornya saat aku mengandung putri pertamaku.
 

Pada tahun ketiga pernikahan aku mengandung lagi, dan di sinilah aku tahu ternyata suamiku masih berhubungan dengan wanita itu. Kesal, marah, dan cemburu tapi takut kehilangan itulah yang ada di pikiranku.
 

Kami sudah memiliki dua orang anak. Akan tetapi suamiku tetap saja dengan dunianya. Suamiku mungkin menyayangi aku dan mencintai buah hati kami, tapi dia juga masih tetap menyukai wanita lain. Pertengkaran demi pertengkaran selalu menghiasi rumah tangga kami.
 

Singkat cerita aku tahu dia masih berhubungan dengan wanita itu. Aku bahkan pernah melabrak perempuan itu. Aku juga sempat mencium gelagat tidak beres antara suamiku dengan pengasuh putriku. Entah sejak kapan mereka dekat dan berhubungan, hanya tuhan yang tahu.
 

Karena selalu stres gara-gara tiap hari makan hati memikirkan kelakuan suami yang buruk, aku memutuskan berhenti bekerja dengan harapan bisa lebih memperhatikan suami. Aku berpendapat mungkin suamiku kurang mendapat perhatian dariku.
 

Ternyata dugaanku keliru. Ada saja yang menceritakan kepadaku tentang suamiku yang suka jalan dengan perempuan lain. Rasanya ingin aku membawanya ke psikolog, sekadar tahu apakah tabiatnya yang susah berhenti main perempuan itu suatu penyakit kejiwaan. Ia hanya tertawa saja ketika aku mengusulkan agar kami berkonsultasi ke psikolog.  
 

Aku sedih dan kecewa sekali tapi sekali lagi aku sangat mencintai suamiku. Aku tak bisa berbuat apa-apa hingga usia perkawinanku menginjak delapan tahun. Saat itu suamiku tengah berhubungan dengan wanita di tempat kerjanya.
 

Sabar ada batasnya. Lama-lama aku kesal juga hingga aku berniat membalas suami dengan berselingkuh. Cuma aku bingung bagaimana caranya selingkuh? jujur saja aku kurang PD akan penampilanku karena aku tipe wanita yang biasa saja. Jauh dari cantik.
 

Sampai akhirnya mendapat kenalan seorang pria, sebut saja namanya Yanto. Dia satu daerah dengan tempat tinggalku sekarang. Cuma dia tidak tahu tentang diriku yang sebenarnya karena aku selalu menutupinya.
 

Sejuta cerita aku suguhkan untuknya karena menurutku takkan ada perjumpaan, lagi pula niatku juga cuma sekedar membuat suamiku cemburu. Laksana punya ‘mainan’ baru aku begitu anteng dan menikmatinya, hingga akhirnya aku jatuh hati padanya. ‘
 

Semua takkan terjadi bila suamiku sedikit saja memberiku perhatian. Dia terlalu sibuk dengan wanitanya, dia tidak menyadari kalau perhatianku mulai terbagi. Setahun sudah aku bercinta lewat telepon dan sesekali bertemu. Ia pun akhirnya tahau aku sudah bersuami.
 

Saat itu aku tengah mengandung putraku yang ketiga, usia kandunganku menginjak lima bulan. Aku janjian bertemu dengan selingkuhanku. Mungkin karena hati telah bicara atau mungkin juga karena dorongan setan, dia tak perduli aku istri orang dan tengah mengandung pula, dia menerimaku apa adanya.
 

Jujur saja aku semakin sayang padanya, aku semakin hanyut dalam cintanya meski kami masih bisa membatasi diri.

Tapi perhatian dan kasih sayang yang selama ini tidak pernah kudapat dari suamiku aku dapat rasakan darinya.
 

Sekarang aku bisa tahu bagaimana rasanya disayang, aku digandeng dan dipeluk di depan umum. Kami bergandengan mesra dan merasakan sejuta keindahan bersama meskipun aku tahu diapun berstatus suami orang.
 

Dan akhirnya suamiku tahu bahwa ia aku selingkuhi. Dia marah sekali waktu itu. Tapi aku balas menentangnya mempersoalkan kelakuannya yang tak pernah berubah itu. Dia tetap dengan dunianya, main perempuan, seolah tak pernah bosan. Hingga pada akhirnya aku tahu suamiku dikejar salah satu teman wanitanya untuk dimintai pertanggungjawaban. Tapi entah bagaimana caranya suamiku mampu ‘menyelesaikannya’.
 

Di situlah aku marah, sakit hati, kecewa dan yang pasti hatiku mulai berontak, percuma selama ini aku mempertahankan kesucian dan kesetiaanku padanya. Akhirnya aku mengenyampingkan peraturan dalam pernikahan, aku tak perduli lagi.
 

Yang ada di hatiku hanya dendam ‘kamu bisa aku juga bisa’, dan akhirnya akupun melanjutkan hubunganku yang dulu sempat berhenti dengan Yanto.
 

Namun meski aku menyembunyikannya dengan rapi. Akhirnya suamiku tahu apa yang terjadi selama ini di belakangnya. Saat perselingkuhanku terbongkar, suamiku murka, dia sangat marah dan merasa harga dirinya aku injak-injak, sejuta makian dia limpahkan kepadaku.
 

Kucoba untuk menjelaskan kepadanya tapi dia tak perduli, seakan dia yang paling suci, dia yang paling benar dan dia yang paling baik.
 

Pada saat bersamaan, Yanto berterus terang bahwa ia akan pergi dari kehidupanku. Alasannya, dia menyadari tak ada gunanya mempertahankan aku karena aku istri orang, sementara dia sendiri punya keluarga.
 

Ya sudah, kini kulanjutkan kehidupanku dengan seorang pria aneh yang hobi main perempuan. Entah sampai kapan aku bisa bertahan. Hidupku, rumah tanggaku laksana di neraka setiap hari. ***

=
Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Tulis Komentar