Pilihanku Ternyata Keliru

Senin, 11 September 2017 - 16:11 WIB | dibaca : 133 pembaca

KETIKA panah asmara menembus hati, sepasang sejoli bisa dibuat lupa diri. Itulah yang aku alami. Demi mengejar cintaku, aku bertindak gegabah meninggalkan ibuku yang menentang hubunganku dengan pacarku yang pengangguran.
 

O ya, namaku Merry (disamarkan), dan inilah kisah nyata lika-liku kehidupan cintaku.
 

Saat itu, seperti dibutakan, aku pergi meninggalkan rumah orangtuaku dan nekat menikah secara siri dengan pacarku, Aldi. Sebelumnya hubungan kami selalu ditentang ibu lantaran ibu tahu bagaimana keseharian Aldi. Selain belum punya pekerjaan, ia juga tak pernah memenuhi permintaan ibu agar membawa orangtuanya yang katanya ada di Medan untuk diperkenalkan.
 

“Apakah kamu yakin dia laki-laki pilihan yang tepat? Jangan melihat orang dari luarnya saja, Maria,” begitu nasehat ibu.
 

“Tapi ibu percaya kan Tuhan Maha Penyayang? Merry yakin Tuhan akan membantu membuka jalan untuk Aldi,” kataku mencoba meyakinkan ibu.
 

Aku tahu ibu tak pernah yakin dengan pilihanku. Makanya ibu terus melarangku untuk melanjutkan hubunganku dengan Aldi. “Sejak ayahmu tak ada lagi, ibu selalu cemas denganmu. Jadi tolonglah, percaya sama ibu,” kata ibu.
 

Ibu juga sangat menyayangkan aku yang baru saja diterima bekerja di sebuah perusahaan retail nanti akan dimanfaatkan saja oleh Aldi. Ya, Aldi memang belum punya pekerjaan tetap. Ia hanya bekerja dengan ikut-ikut temannya yang dapat berbagai proyek-proyek kecil.
 

Kami pun tetap berhubungan meski secara sembunyi-sembunyi. Kenekatanku tetap berhubungan dengan Aldi akhirnya membuatku lupa diri. terus terang kami sudah berbuat terlalu jauh. Karena itu pula yang membuatku akhirnya mendesak Aldi untuk nekat kabur dan menikah. Kami pun menikah secara siri melalui wali nikah, setelah itu baru aku memberanikan diri untuk datang kembali ke orangtuaku.
 

Ibu hanya bisa mengurut dada menerima kenyataan yang kubawa ke hadapannya. Tapi bagaimanapun ia tetaplah seorang ibu. Maafnya lebih besar dari marahnya.
 

Setelah empat tahun kami menjalani kehidupan rumah tangga, Tuhan belum juga mengaruniakan buah hati kepada kami. Berbagai usaha medis dan nonmedis telah kami lakukan. Namun sepertinya semua itu sia-sia belaka.
 

“Aku ingin sekali punya anak. Anak laki-laki,” kata Aldi mengungkapkan keinginannya yang sejak dulu jadi obesesinya.
 

Dan yang tak pernah kuperkirakan, Aldi yang kecewa dengan keadaan ini, akhirnya jatuh dalam perselingkuhan. Kabar dan gosip ia main perempuan sering sampai ke telingaku. Meski tak bisa kubuktikan, namun hal itu sering memicu pertengkaran dengan Aldi.
 

Hingga suatu kali seorang teman Aldi melaporkan padaku bahwa Aldi memang benar tengah menjalin hubungan dengan seorang wanita. Wanita tersebut katanya seorang wanita malam yang bekerja di sebuah rumah billiar. Bahkan mereka sudah menikah. Alamak! Betapa hancur hatiku mendengar berita itu.
 

Aku ingin membuktikan semua gosip yang kudengar. Setelah kuperoleh informasi di mana keberadaannya, kuputuskan untuk mendatangi rumah wanita itu dengan penuh kemarahan. Saat kugedor pintu rumah itu, kebetulan Aldi ada di dalam dan membukakan pintu. Aku kaget dan nyaris histeris.
 

Kulihat wanita itu berada di belakang Aldi. Pakaiannya sangat seronok. Sementara  suamiku juga nyaris tak berpakaian, hanya memakai sarung tanpa baju. Apakah mereka tengah bergumul di siang bolong?
 

“Jadi ini perempuan yang telah membuatmu berkhianat?” kataku dengan nada setengah berteriak.
 

Wanita itu yang akhirnya kuketahui bernama Tina itu terus mengendap di balik punggung Aldi.
 

“Sudahlah, Merry. Aku tak mau ribut-ribut. Malu sama tetangga-tetangga di sini. Pulanglah,” ucap Aldi. Kulihat ia bingung antara hendak memperbaiki kondisi sarungnya dan melindungi selingkuhannya.
 

“Malu? Biar malu sekalian. Kamu tega selingkuh!”
 

Lalu Aldi meraih tangan Tina dan menariknya hingga wanita itu berdiri tepat di sampingnya. Seolah-olah suamiku tengah memamerkan selingkuhannya yang berbody seksi itu kepadaku. Darahku mendidih.
 

Tanpa pikir panjang aku ambil pisau yang telah kupersiapkan sebelumnya dari dalam tas dan langsung kuarahkan ke wanita itu. Namun Aldi berhasil merebut pisau itu dan berbalik ingin menusukku, beruntung wanita itu menahan Aldi.
 

Tak ada yang bisa kulakukan selain berteriak-teriak histeris sambil melontarkan makian. Beberapa warga di sekitar rumah itu berdatangan mendengar keributan. Mereka kaget melihat ada pisau tergeletak di lantai di antara aku Aldi dan Tina. Setelah dijelaskan Aldi duduk masalahnya, aku disarankan ketua RT untuk pulang dan menyelesaikan masalah secara kekeluargaan.
 

Aku pulang dengan berurai air mata. Suamiku diambil oleh wanita lain. Ingin menjerit sekencang-kencangnya tapi percuma, akhirnya aku hanya bisa memendamnya dalam hati dan berdoa.
 

Kuadukan semuanya pada ibu. Ibu memelukku dan hanya bisa menenangkan dengan kata-katanya yang seolah-olah tak ada persoalan.
 

“Hidup selalu ada masalah, nak. Kamu harus kuat menghadapinya, sekuat kamu memulainya,” meski mencoba membujuk namun bagiku ucapan ibu terasa seolah menyindirku atas jalan hidup yang kuputuskan dulu.
 

Tak ada lagi yang bisa kuharap. Hidup memang selalu ada masalah. Dan kuputuskan untuk melupakan semuanya, melepaskan suamiku untuk perempuan pilihannya. Kutelan saja pengkhianatanya sebagai pil pahit. Aku telah menentang nasehat ibu, dan kini harus menerimanya. Semoga aku bisa.***

=
Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Tulis Komentar