Aku Dicurangi dan Dikhianati Suami

Kamis, 12 Oktober 2017 - 15:33 WIB

WALAU akhir-akhir ini aku mengetahui sepak terjang suami yang selama ini tega mengkhianatiku, tapi apa dayaku. Cepat atau lambat aku berharap dia bisa kembali untukku, bukan untuk wanita lain.
  

Permasalahan yang muncul saat aku baru dua tahun menikah dan melahirkan anak pertama. Sewaktu menjalani operasi caesar dan di rumah sakit tiga hari lamanya, suamiku tidak pernah datang menjenguk keadaanku. Tiap saat aku melihat rombongan tengah menjenguk keluarganya sambil beramah tamah diiringi senyuman persaudaraan, aku hanya bisa meratap sedih. Tak satu menitpun suami datang menjengukku kecuali ayah dan ibuku.
 

Saat itu aku bertambah bingung, pikiran kacau dan aku tidak tahu siapa yang akan menutup biaya perawatan di rumah sakit.
 

Hari kedua masih dapat tersenyum sambil membelai wajah bayiku, juga melempar senyum pada semua yang melihat bayiku. Dan tak seorangpun tahu jika di dalam dada ini terasa remuk dan hancur disertai rasa panik. Tak tahu siapa yang akan melunasi biaya rumah sakit sedangkan uang simpananku sudah dibawa suami pergi ke Batam untuk menjalankan bisnisnya.
 

Tiba saatnya hari kepulanganku dari rumah sakit. Kedua orang tuaku bertanya, aku punya uang berapa di rumah. Aku haya ditinggali uang berapa ratus ribu oleh suami untuk menutup biaya persalinan. Aku hanya bisa geleng kepala mendapat pertanyaan seputar tanggung-jawab suami.
 

Pikiran bertambah kacau saat ibu menyuruhku menjual perhiasan atau apa saja yang aku punya. Sedangkan aku tak punya apa-apa. Akhirnya orang tua yang panik harus mencari uang untuk biaya persalinanku.
 

Antara senang dan kecewa berkecamuk dalam pikiran. Senangkan dapat pulang bersama bayiku dan cemas bakal ada masalah yang diciptakan suami. Dia bilang pergi satu bulan, nanti akan pulang satu bulan lagi sebelum aku melahirkan. Kenyataannya?
 

Setelah aku melahirkan, suamiku justru sulit dihubungi. Telpon genggamnya tidak pernah aktif. Hingga lima bulan lebih aku tidak tahu bagaimana kabar suamiku. Ketika anak umur satu tahun, suamiku pulang seperti menunjukkan sikap ramah seolah tidak memiliki kesalahan pada siapapun. Tentu saja orang tuaku marah dan tidak mengizinkan aku dia bawa pergi.
 

Aku dan anakku boleh pergi dari rumah orangtua, asal suami mau menempatkan aku di rumah sewaan yang layak dan tidak dicampakkan lagi di rumah kontrakan seperti dulu-dulu lagi. Sejenak pun suami tak menghiraukan nasehat orangtuaku. Diam-diam dan tanpa pamit atau minta izin siapapun aku dibawa pergi. Karena aku memang masih jadi istrinya, aku patuhi apa saja yang dia mau.
 

Kami kembali ke rumah kontrakan lama. Ternyata, janji suamiku tidak mencampakkan aku seperti dulu-dulu, hanya omong kosong. Aku hanya dapat merasakan keharmonisan rumah tangga selama dua bulan lebih. Menginjak bulan ketiga, tak dapat perhatian dari suami, malah aku hidup tersiksa. Suamiku tidak pernah pulang, tidak pernah memberi nafkah lahir juga batin. Untuk hidup biaya sehari-hari aku harus bekerja keras tanpa tahu siapa-siapa.
 

Hingga dua tahun kemudian dan anakku sudah sudah tumbuh besar, dia baru bertemu ayahhnya. Suamiku pulang tak membawa apa-apa, kecuali tiga stel pakaian kotor.
 

Dengan hidup apa adanya, aku bersatu kembali dengan suami hingga aku hamil anak kedua. Pekerjaaan suamiku yang serabutan membuat ia jarang berada di rumah. Aku hanya bisa pasrah saja menerima keadaan. Walau pernah kusarankan agar ia menggeluti usaha yang tetap dan tak perlu bolak-balik ke luar daerah, tapi saranku seperti angin lalu saja.
 

Kali ini aku merasa ada yang aneh dalam sikap suami sehari-hari. Terlebih lagi ketika dia tahu aku hamil lima bulan, tak terlihat bahagia, malah menyuruhku menggugurkan kandungan.
 

Saran konyol itu tak pernah aku hiraukan, lagi pula, mana mungkin aku tega membuang bayiku. Dia darah daging kami yang kuharap dapat menumbuhkan semangatku. Apapun resikonya, dia akan kurawat dengan baik.
  

Seperti biasa, aku tetap hidup dalam kesengsaraan. Setiap kali kutanya penghasilannya, suamiku mengatakan sebagian dikirimkan ke kampungnya. Menurutnya ada adiknya yang masih kuliah dan butuh bantuannya. Aku mengalah. Bahkan sewaktu aku melahirkan anak kedua, sudah berpesan agar aku menjual perabot di rumah jika saatnya nanti aku melahirkan dan dia tidak ada di sisiku.
 

Ternyata, dua kali melahirkan tidak pernah diketahui suami. Sedangkan orangtuaku tidak melihat keadaanku. Itu karena aku tidak pernah member kabar juga tidak menjenguknya.
 

Setelah menginjak lima tahun menikah , aku baru lelah menjalani kehidupan jauh dari suami. Selama ini, keinginanku ikut bersamanya selalu ditolak. Jangan disangka aku patuh apa maunya, lalu aku dianggap ikhlas dapat perlakuan seenaknya. Aku harus tahu kondisi suamiku sebenarnya.
 

Yang kudapati sungguh di luar dugaanku. Tak kusangka kalau aku dicurangi suami. Diam-diam dia telah menikah lagi dan telah memiliki tiga orang anak dari hasil pernikahannya dengan perempuan lain. Hal itu kuketahui cerita seorang famili suamiku yang kebetulan bertemu denganku di rumah sakit.
 

Rasanya dunia telah kiamat dan langit telah runtuh mendengar kenyataan ini.  ***

=
Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Tulis Komentar