Sakitnya Dikhianati

Jumat, 13 Oktober 2017 - 15:12 WIB

ENTAH dosa apa yang telah ia lakukan hingga sang suami tega menyakiti dirinya bertubi-tubi dengan kasus yang sama. Sementara dia selalu memberikan segenap cinta dan kasih sayang sekuat jiwa. Cintya (nama samaran) menceritakan lika-liku hidupnya yang dideritanya.
 

Aku karyawan swasta di sebuah dealer mobil. Sementara suamiku Didit juga bekerja pada bidang yang sama namun beda perusahaan. Kami menikah tahun 2013 yang lalu, dan menjalani rumah tangga dalam kondisi hidup sederhana, bahkan sesederhana mungkin yang kami bisa.
 

Dua tahun pernikahan kami berjalan, alhamdulillah telah dikaruniai seorang putri cantik. Kami memberikan sebuah nama, Syaqi, bahagianya kami memilikinya. Hari-hari kami lalui dengan penuh tawa, hingga petaka itu datang.
 

Suamiku diterima di sebuah perusahaan bergengsi, dimana ia mendapatkan salary yang lumayan. Dalam kesibukannya bekerja, suamiku mulai aneh, setiap harinya lebih sering ia pulang malam. Menyapaku pun jarang. Aku tipe istri yang sangat perasa, entah kenapa firasatku mengatakan ia telah mendustai pernikahan kami.

Sekali waktu kujadikan foto keluarga sebagai display picture di bbm suamiku. Dengan cepat ada kontak yang merespon, menanyakan, “Itu anak kamu?”
 

Karena dandanan si cewek itu begitu norak, firasatku sangat-sangat buruk, kubalas “Iya, istri dan anak aku”.
 

Yang tak kusangka, wanita mengirimkan kalimat-kalimat bernada memaki suamiku sedemikian rupa, hingga kata-kata kasar dikirimkan ke suamiku. Aku berusaha tenang, aku berusaha tidak terjadi apa-apa. Aku hanya diam, memeluk putri kecilku, kusembunyikan air mataku dalam pelukan Syaqi.
 

Suamiku menaruh curiga, dimintanya handphone miliknya, kuserahkan dengan lemas. Sampai di rumah kami tak bertegur sapa, aku memilih tidur dan tidak membahas. Keesokan harinya di sepulang kerja aku sudah tidak kuat untuk diam. Kutegur suamiku perlahan.
 

Reaksinya lain dari yang kukira. Ia malah marah-marah sejadi-jadinya. Kutanya perlahan, akhirnya ia mereda, ia mengakui, cewek itu adalah pemandu karaoke di sebuah karaoke keluarga. Hatiku makin sakit, jijik rasanya kulihat suamiku. Ia tega menduakan aku dengan seorang pemandu karaoke di puncak kejayaannya. Ia lupa dengan siapa ia berjuang mencapai semua itu. Jahat, kejam, dusta!
 

Selang beberapa minggu, suamiku kembali aneh, kutemukan sisa percakapan WhatsApp dengan temanku sendiri, teman baikku. Ya Tuhan, rasanya aku ingin menampar suamiku sendiri, aku muak atas semua perilakunya, namun mengingat Syaqi, aku kembali memaafkannya, aku berusaha tegar dan tabah, aku meminta temanku mundur dari kehidupanku dan suamiku.
 

Aku sudah tak mampu menahan airmata dan kesakitan. kugendong putriku, ku ajak kembali ke rumah orangtuaku. Di pangkuan mama, aku menangis sejadi-jadinya, aku memutuskan untuk meminta cerai saja.
 

Mamaku orang yang paling tidak terima dengan kejadian yang menimpaku itu. Ketika suami datang ke rumah mama, mama meminta kami bercerai. Mama meminta Didit jangan pernah menemui aku lagi. Didit menangis dan memohon untuk tidak berpisah, tapi mamaku sudah bulat keputusannya.
 

Hari itu, tanggal 29 November 2013, tepat 28 bulan usia pernikahan kami, suamiku mengirim pesan via bbm. Intinya ia meminta maaf kepadaku dan kepada putri kecilku. Ia meminta kami kembali ke rumah. Namun tak kuhiraukan semua permintaaannya itu. ***

=
Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Tulis Komentar