Dia Abaikan Aku Tanpa Nafkah

Jumat, 12 Januari 2018 - 15:17 WIB | dibaca : 64 pembaca

Cerita keluarga semestinya memang kadang ada bahagia dan kadang juga sedih. Sayangnya cerita cinta bersama suami yang kualami sekarang kebanyakan adalah cerita sedih. Mungkin sudah nasibku seperti ini.

Aku ibu rumah tangga dengan seorang anak perempuan. Sepertinya aku memang sudah ditakdirkan untuk memiliki nasib buruk seperti yang kualami sekarang ini. Ditinggal suami sesuka hati namun tak ada kemampuanku melawan, setidaknya meminta tanggung jawabnya.

Kadang-kadang aku berpikir kalau saat ini sedang mengikuti sebuah lotere nasib, dimana namaku yang muncul dan aku terpilih untuk menjalani nasib ini. Naas.

Sekarang usiaku sudah 37 tahun. Sepanjang usia pernikahan yang ada hanya cerita sedih tentang perjalanan rumah tanggaku. Kadang timbul rasa penyesalan, mengapa aku harus  menikah dengan suamiku. Tapi nasi sudah menjadi bubur, hidup terus berjalan dan aku menerima semuanya dengan ikhlas.

Semenjak dua belas tahun lalu aku menikah dan selama itu hidupku selalu dirundung duka akibat suami yang selalu saja meninggalkanku. Di awal menikah saja dia sudah pergi dua hari, lalu seminggu, dan sebulan. Dia pulang sesuka hatinya saja. Hanya beberapa hari lalu pergi lagi dengan hanya meninggalkan uang yang tak mencukupi. Begitu terus.

Anehnya, aku tak pernah mampu melawan kondisi ini. Mungkin karena aku hanya perempuan kampung yang selalu diajarkan patuh menurut pada suami. Mental itu begitu terpatri dalam jiwaku. Namun di lain sisi, ada keinginan untuk meminta keadilan atas semua nasib buruk yang kualami ini.

Aku bingung, apakah aku ada salah kepadanya, atau apakah dia punya kehidupan lain yang tak kuketahui? Padahal aku sangat ingin membahagiakan dan mengabdi kepadanya sebagai istri yang solehah.

Memang dulu aku dijodohkan oleh orangtua. Suamiku dulu sebenarnya juga menolak dijodohkan, tapi karena patuh pada orangtua, ia menerima perjodohan kami.

Apakah karena perkawinan yang diawali keterpaksaan yang membuat suamiku tak begitu peduli akan nasibku sebagai istrinya? Jika benar, sungguh, bila saja roda waktu bisa diputar kembali, aku ingin tak pernah berjumpa dengannya.

Aku betul-betul merasakan yang namanya sakit di hati. Pekerjaan suamiku yang katanya berdagang kebanyakan di luar kota menyebabkan aku selalu menyimpan rasa curiga kalau dia mudah tergoda dengan wanita lain. Meski aku tak pernah berani mempertanyakannya, namun ada saja desas-desus tetangga yang menyebut bahwa suamiku punya istri di kota lain. Aku hanya bisa menangis bila mendengar kabar-kabar tak menyenangkan itu.

Aku masih berusaha sabar dan menganggapnya sebagai cobaan yang biasa terjadi di setiap rumah tangga.  Sebagai wanita aku yakin dengan naluriku, bahwa suamiku memang punya selingkuhan.

Wanita-wanita itu pasti masih muda dan modis. Tapi aku berusaha bertahan karena aku mempunyai seorang anak yang masih kecil.

Parahnya dia selalu meninggalkanku tanpa nafkah, padahal dia tahu ada anak semata wayang kami yang harus kuhidupi sendiri.

Beruntung, aku juga bekerja di sebuah butik dan penyewaan pakaian pengantin.Sehingga paling tidak aku masih bisa menghidupi diriku dan anakku. Berdua kami menjalani hidup ini sepi tanpa suami dan ayah.

Aku selalu mencintai suamiku, aku selalu menunggunya, hingga hari ini aku masih menanti kehadirannya. Itulah anehnya aku. Padahal aku tahu sudah dibiarkan tanpa kasih sayang selama ini. Ya, aku bagai bunga yang haus di padang tandus, berharap cinta dari suami.Aku tetap berharap dia pulang dan tak pernah lagi pergi.

Keluarganya tidak ada yang betul betul peduli padaku. Aku hanya berharap dia datang dan mengatakan isi hatinya. Jika saja dia sudah tidak mencintaiku tidak apa. Aku hanya ingin mendengar dari mulutnya sendiri, mungkin dengan cara itu aku bisa melupakannya.

Suamiku, jika kau membaca cerita ini, itu adalah cerita tentang dirimu. Aku hanya ingin kau tahu apa yang kupendam selama ini. ***

=
Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Tulis Komentar