Rindu Suami Berhati Lembut

Minggu, 14 Januari 2018 - 13:56 WIB | dibaca : 73 pembaca

Saya seorang wanita yang sudah bersuami dan kini berusia 32 tahun. Sementara suami saya berumur 36 tahun. Saat ini saya benar-benar bingung dan stress akibat sikap suami yang tak menghargai saya sebagai seorang istri.

Saya memang berasal dari kampung dan keluarga yang pas-pasan. Sedangkan suami berasal dari kota dan dari keluarga mampu. Pertemuan kami berawal di sebuah acara pernikahan famili yang saya hadiri di Pekanbaru. Di situlah berkenalan dengan suami.

Kemudian perkenalan itu berlanjut menjadi hubungan yang kian dekat dan akhirnya ia mengungkapkan bahwa dia ingin melamar saya. Seperti durian runtuh rasanya, saya yang hanya tamatan SMA kemudian mau dinikahi seorang pria gagah yang bertitel S2 walaupun saat itu ia belum bekerja.
 

Aman-aman saja sampai kami memiliki dua anak yang saat ini sudah berusia 4 tahun dan satu tahun. Suami akhirnya dapat pekerjaan.  Namun semuanya lambat laun berubah. Sikap suami mulai tak mengenakkan.

Sebenarnya dari awal menikah saya sudah mencium gelagat bahwa suami memiliki perilaku yang agak kasar dan suka memerintah. Ia juga jarang memuji apa yang saya kerjakan.

Semuanya berawal dari hal-hal kecil. Bila ada masalah ia tak pernah mau diajak bicara baik-baik. Jika saya ngotot untuk tetap bicara, akhirnya pasti bertengkar, dan dari mulutnya keluar kata-kata kasar.

Dengan seenak hatinya ia akan mengatakan pada saya, “Bodoh sih kamu!”, atau, “Sadar dong!”.
 

Bahkan saya juga pernah dikatai, “Ngaca dong!”. Sampai hal yang menyakitkan hati, “Enggak tahu diuntung kamu!”   Akhirnya, saya pun dikasari secara fisik. Pernah beberapa kali ia ringan tangan dan main tampar. Saya hanya bisa menangis.

Saya memang hanya seorang tamatan SMA, sedangkan suami seorang sarjana dan saat ini punya pekerjaan dan jabatan bagus di perusahaan swasta yang bagus pula.

Dulu, sebelum menikah sampai punya anak satu, saya bekerja. Tapi begitu hamil anak kedua saya berhenti kerja hingga kini. Saya tak pernah bekerja lagi. Itu pun atas keinginan suami.

Padahal, saya sangat ingin bekerja lagi tapi tak diizinkan.

Terkadang saya berpikir, betapa enak dan merdekanya saya ketika masih gadis dulu. Walau hanya tamatan SMA alhamdulillah bisa dengan mudah mendapat pekerjaan dengan gaji lumayan di masa itu. Bahkan bisa membantu orangtua. Tapi coba sekarang, sekadar ingin membeli kosmetik pun harus minta suami.

Kini, hati saya benar-benar hancur, rasanya saya benar-benar tak punya harga diri lagi di mata suami. Semua perkataannya harus dituruti, tanpa memberi sedikit pun waktu bagi saya untuk bicara baik-baik dengannya. Apa yang ia dapatkan sekarang, kan, bukankah itu rezeki bersama? Bukankah saya sebagai istri juga berhak untuk meminta sesuatu tanpa perlu disuruh berkaca dulu?

Soal keuangan, saya tak punya hak ikut mengatur, semua serba dijatah dan harus dirinci. Dalam menentukan sekolah bagi anak-anak pun, semua suami yang mengatur. Pendapat dan suara saya sudah tak didengar lagi.

Padahal, kami memulai semuanya dari nol, tapi mengapa sekarang ketika ia punya uang dan jabatan saya tak dihargai lagi?

Saat ini, yang amat sangat saya inginkan adalah hidup tenang dan saya ingin kuliah lagi. Masih pantaskah saya kuliah lagi di usia yang sudah kepala tiga dan punya dua anak? Saya berharap, dengan bekal ilmu yang saya dapatkan nanti, bisa bekerja lagi dan tak mau lagi dikatai bodoh oleh suami.

Bagaimana jalan keluar terbaik bagi saya, hingga kini saya masih bingung? Apakah perceraian jalan keluar terbaiknya? Jika memang harus berpisah, bagaimana nasib anak-anak? Padahal, saya bertahan hingga kini karena anak-anak. Rasa cinta pada suami sepertinya sudah lenyap oleh hinaan dan tamparannya. ***

=
Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Tulis Komentar