Khianatmu Membekukan Hatiku

Jumat, 09 Februari 2018 - 15:52 WIB

BUKAN urusanmu! Aku bosan! Itulah ucapan kasar yang ku terima dari suamiku ketika aku menanyakan siapa wanita yang bersamanya saat  ke luar kota. Sikap kasarnya sudah berlangsusng lama dan aku makin tertekan, seolah aku hanya menjadi seorang wanita yang tak ada harga di matanya.

Di lain waktu kejadian serupa bahkan lebih menyakitkan. Suamiku keluar dengan wanita yang juga teman kantornya itu, malam minggu. Bayangkan, suamiku pergi bersama wanita lain di malam minggu sementara aku istrinya tak dianggap apa-apa. Ya Tuhan, sedemikian buruk nasibku sebagai istri?

Malamnya saat ku tanyakan lagi, yang ku terima bukannya pengakuan bersalah dan maaf, sebuah tamparan mendarat di pipi.   Aku sedih dan kecewa jika mengingat keputusanku dulu ketika menerima ia sebagai suami.

Awalnya sebagai wanita tentu aku mendambakan seorang suami yang menyayangiku setulus hati. Bisa membimbingku dunia akhirat, yang kelak akan menjagaku dan anak-anakku dan mencukupkan kehidupan keluarga kami. Namun terlalu berat cobaan yang ku terima.

Akan ku ceritakan kisahku yang semoga dapat dijadikan pelajaran dalam hidup  bagi yang ingin menikah ataupun yang sudah mempunyai suami.  Awal berjumpa dengan Yugi (sebut saja begitu) ketika aku dijodohkan oleh orangtuaku. Sebenarnya aku tidak terlalu menyukainya karena aku mempunyai calonku sendiri, yang sudah ku kenal lama dan ku ketahui pribadinya. Tetapi karena desakan orangtua, akupun terpaksa mengiyakannya. Kalau saja saat itu aku lebih memilih menurutkan kata hatiku dan berani mengutarakan ini ke orangtuaku mungkin kehidupanku akan berbeda.

Tetapi setelah aku berpikir tak pantas aku menyesalinya, karena semua terjadi atas kehendak Allah. Jika aku menyesalinya, sama dengan aku menyalahi takdir yang Allah gariskan padaku.

Akhirnya aku mencoba untuk mencintainya. Satu setengah tahun pernikahan kami berjalan, kami dikaruniai seorang putra. Tak pelak kehidupan keluargaku makin bertambah ramai dengan datangnya buah hati ini.

Namun tak sesuai dengan apa yang aku impikan. Suamiku mulai berubah, sering terlambat pulang kerja, bahkan terkadang sering menginap di kantor. Saat kutanya dia justru tersinggung bahkan karena sering kutanya, ia malah membentakku dengan kata-kata kasar hingga bayi kecil kami menangis karena teriakannya. Aku hanya bisa menangis. Akupun tidak memendam sedikitpun amarah pada suamiku, aku tetap melayaninya sebagai istri.

Sepuluh tahun berlalu, seiring waktu berjalan anakku telah tumbuh semakin besar. Namun tabiat Yugi makin tak kumengerti. Dia semakin kasar bahkan terkadang nafkah yang diberikan semakin berkurang. Saat kutanya apakah ada masalah di kantornya dia malah menyuruhku bekerja untuk mencari tambahan buat biaya hidup kami.

Yang kuheran kemudian adalah saat mertuaku ikut mengomeliku karena alasan yang tidak jelas. Ia sering bilang aku boros dan tak pandai menjaga suamiku. Kerap kata-kata yang menyakitkan pun terlontar untukku.

Berbekal gelar sarjana ekonomi akupun mencari kerja. Akhirnya aku diterima kerja di sebuah perusahaan jasa travel.

Tak jarang kubawa anakku saat bekerja atau kalaupun terlalu sibuk kutitipkan putrakku kepada ibuku. Saat ibu dan ayah bertanya mengapa aku bekerja, kujawab dengan datar, “aku hanya ingin menyibukan diri dan menyiapkan bekal lebih banyak untuk putraku”.

Ibu memarahiku. Karena sudah mempunyai suami mapan tetapi malah menyibukan diri untuk bekerja. Aku hanya diam, tak ku jelaskan soal masalah di keluargaku bahwa suamiku sendirilah yang menyuruhku kerja. Aku tak ingin orangtuaku merasa bersalah karena pilihan mereka.

Beberapa bulan aku bekerja kini, aku tetap saja menerima perlakuan kasar. Terkadang saat suamiku marah dengan alasan tidak jelas, aku tetap meminta maaf padanya dengan kata-kata lembut agar aku diizinkan tidur di sampingnya.

Suatu ketika, karena badanku yang tiba-tiba terasa tidak enak aku meminta izin pulang dari kantor lebih cepat. Kujemput anakku menggunakan taksi di rumah orangtuaku karena sudah tak kuat badanku rasanya ingin tidur di rumah.  Saat sampai di rumah kutengok mobil suamiku di dalam pagar, aku terheran dan saat aku masuk aku melihat sandal seorang wanita. Darahku berdesir.

Kutidurkan anakku di kamarnya lalu kutengok kamarku. Betapa hancur dan marahnya diriku saat melihat suamiku tengah asyik mengobroll dengan seorang wanita. Ia benar-benar tak menghargaiku. lalu tanpa mengacuhkan keherananku ia meninaggalkan rumah bersama wanita itu.

Dalam isak tangis menahan perih hati dan sakit menerima perlakuan suami, aku coba menenangkan diri. Tangisku pecah.

Akhirnya ku jalani hidupku dengan menahan sakit dan segudang pertanyaan yang tak pernah terjawab. Entah apa salahku hingga suamiku lari ke dalam pelukan perempuan lain. Bosan? Sudah tak menarikkah diriku di matanya? Tidakkah tersisa rasa sayang di hatinya betapa aku selalu melayaninya sepenuh hati. Tapi setelah waktu berjalan ia mengaku bosan? Kini ia kembali meninggalkanku dan anakku,

Suamiku hingga saat ini tak juga pulang ke rumah. Ia sepertinya bulat meninggalkan aku dan anak kami, hidup bersama selingkuhannya. Belakangan kudengar kabar mereka menikah.

Setahun kemudian barulah kabar tentang Yugi terdengar di telingaku. Seorang teman mengabarkan bahwa sejak Yugi ditinggal istri barunya itu, hidupnya makin terpuruk. Ia jatuh sakit dan dirawat di rumah sakit. Aku memutuskan mengunjungi dirinya yang tengah terbaring sakit. Kata dokter Yugi menderita kanker darah yang cukup serius.

Saat ku temui, ia menangis dan menyesali perbuatannya dan minta maaf. Ia menanyakan Dian, anak kami.

Mengingat kembali betapa ia telah mengkhianati pernikahan kami, mau rasanya aku mengabaikan rasa iba. Bayangan perselingkuhan yang dilakukannyai, mau rasanya aku membalas sakit hati ini dengan kata-kata makian.

Namun menerima dirinya kembali dalam hidupku rasanya menjadi sesuatu yang menakutkan. Bayangan kelam masa lalu tak bisa ku hapus begitu saja. Setelah ranjang pengantin kami mereka nodai, tak mungkin ku terima lagi dirimu. Maafkan aku, suamiku.  Khianatmu telah membekukan hatiku. ***

=
Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Tulis Komentar