”Tak Ada Niat dari Kampung untuk Jadi Pencuri”

Minggu, 11 Februari 2018 - 14:44 WIB | dibaca : 95 pembaca

Siak--Janji taubat nasuha. Kalimat itu meluncur dari mulut Ali Nuddin Siregar, tersangka pencurian dengan kekerasan spesialis alat berat. Kini dia menghuni bui Polres Siak.

Menjawab pertanyaan Pekanbaru MX terkait proses hukum yang sedang dijalaninya, nada Ali tegas, nyaris tanpa jeda begitu pertanyaan dilontarkan. Pun saat Pekanbaru MX  mengutarakan keraguan niat taubat nasuha-nya, pria kelahiran Gunung Tua, Sumut 11 Desember 1989 ini dengan tegas kembali mengulangi ucapannya. “Yakin kak, tulus ikhlas aku bertekad untuk taubat nasuha. Mungkin beginilah jalanku menuju pertaubatan,” serunya.

Hanya saja, imbuhnya, kini dirinya sangat mengkhawatirkan istri dan anaknya nun di kampung. “Jaga kesehatanmu dek, rawatlah anak kita baik-baik,” pintanya lirih. Dari balik sebo yang dikenakannya, terlihat matanya mulai basah.

Ali mengaku sangat mencintai istri dan anak semata wayangnya. Dia takut dengan kasusnya ini, sang istri jadi sakit karena memikirkan nasib dan masa depan keluarganya.

“Anakku cewek umur enam tahun. Tahun ini mestinya masuk SD, butuh biaya, sementara aku, bapaknya malah begini. Maafkanlah nak,” ujarnya dengan suara parau.

Dalam isak tertahannya, Ali menyampaikan harapan agar keluarga terutama orangtua dan istrinya sudi memaafkannya. “Tiada maksudku menelantarkan kalian. Semua sudah terjadi dan harus dijalani. Maafkanlah, aku janji tidak akan berbuat lagi. Aku akan taubat nasuha. Menyesal sekali, sungguh menyesal, tak ada niatanku dari kampung untuk jadi pencuri. Entahlah kenapa begini jadinya,” keluhnya.

Untuk beberapa saat, Ali hanya menunduk menekuri lantai sel Mapolres. Sesekali sedu-sedannya terdengar. Berulangkali dia menghela nafas panjang. Akhirnya Ali pun berbagi cerita tentang awal mula keterlibatannya dalam kawanan curas.

Dikisahkannya, dirinya berangkat dari kampung Sumut ke Pekanbaru awalnya untuk mencari pekerjaan demi menafkahi istri dan anak semata wayangnya. Di Pekanbaru, Ali mengontrak rumah di Garuda Sakti, Payung Sekaki. Sayangnya, sekian lama di ibukota Provinsi Riau, dia tak kunjung mendapat pekerjaan yang menjanjikan. Untuk sekedar memenuhi kebutuhan, diapun bekerja serabutan.

Seiring waktu, Ali berkenalan dengan Ak (DPO) dan Tod yang kebetulan juga berasal dari Sumut serta Ab warga Siak (ditangkap dalam kasus yang sama). Dari sinilah awal mula keterlibatannya dalam kasus curas. Ali berkomplot dengan AK, Tod dan Ab melakukan pencurian dengan sasaran alat berat yang sedang berada di lahan.

Bersama komplotannya tersebut, Ali telah dua kali beraksi. Dua-duanya di wilayah hukum Polres Siak, yakni di Dayun pada tanggal 6 Desember 2017 dan di Rawang Air Putih pada 27 Desember 2017.

Da pekan setelah beraksi, tepatnya tanggal 17 Januari 2018, Ali ditangkap tim opsnal Sat Reskrim Polres Siak bersama Ab dan Tod. Sementara Ak hingga kini masih buron. Atas perbuatannya, Ali dan komplotannya dijerat Pasal 365 KUHPidana ayat 1 dan ayat 2 ke (2) jo 480 KUHPidana dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara. ***

=
Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Tulis Komentar