Antara Ada dan Tiada

Minggu, 11 Februari 2018 - 14:50 WIB

Siapapun tidak pernah tahu jika pernikahan yang aku jalani bukan berdasar cinta atau kasih saying. Bahkan mungkin sebagian besar orang yang melihat kedamaian rumah tangga kami,  mengira kami berdua adalah pasangan suami istri yang hidup harmonis, saling mencinta.

Itu lantaran kami tidak pernah bertengkar atau membuat keributan. Walau ada perselisihan, tidak satu orangpun mengetahuinya apa yang aku permasalahan. Sehingga, kami dianggap baik-baik. Tetapi kenyataannya?

Melalui rubrik ini aku ingin menuangkan sesuatu yang mungkin bisa membuat aku bernapas lega. Jauh sebelum aku menikah, aku memiliki seorang kekasih yang amat ku cinta. Tapi karena beda kepercayaan akhirnya hubungan kami terhenti. Waktu itu aku masih mahasiswi. Aku lalu fokus untuk menyelesaikan kuliahku.

Empat tahun kemudian, kuliahku selesai. Tinggal membuat skripsi. Dalam kesibukan menuntaskan urusan kampus, aku bertemu seorang pria. Namanya Jaka.

Pertemuan dan berlanjut dengan perkenalan itu membuat aku kembali merasa seperti dulu, di mana impian untuk segera berumah tangga akan kesampaian. Namun tetap saja ada keraguan. Ternyata aku masih belum mampu membuka pintu hati untuknya walau ia sudah mengatakan berulang kali kalau dia ingin menikahi aku setelah nanti aku lulus sarjana.
 

Bagaimana aku bisa mempercayai dia, kalau dia rupanya terkenal suka bergonta-ganti pacar. Itu ku ketahui dari info dari banyak teman di kampus.
 

Banyak penilaian tentang dia yang buruk-buruk. Selain pacarnya banyak, dia juga suka mabuk. Hobi menenggak minuman keras sampai membuat dia muntah  darah hingga dia harus menjalani opname di rumah sakit berulang kali.
 

Seandainya dia ku terima jadi pasanganku, apa aku mampu hidup berdampingan dengan suami seperti itu? Pemabuk dan pemain wanita. Pertanyaan itu selalu menggangguku setiap hari.
 

Ketika masih dalam kebimbangan, mendadak kedua orangtuanya datang ke rumah melamarku.  Tentu saja aku bingung, lebih-lebih orangtuaku yang tidak melakukan persiapan apa-apa. Bagaimana aku harus mengatakan pada orangtuaku tentang perasaanku yang sesungguhnya. Bisa-bisa mereka terkejut dan marah serta kecewa. Kalau sesungguhnya aku belum sepenuhnya yakin dengan masa depan bersama dia.
 

Namun akhirnya orangtuaku menerima lamaran tersebut.  Tidak bisa menolak. Sanggup atau tidak  aku harus menerima dengan lapang, karena orangtuaku sudah menentukan semuanya.
 

Dua bulan kemudian aku benar-benar menjadi istri Jaka. Singkat cerita, tanpa terasa sebelas bulan sudah kami membina rumah tangga. Selama itu pula aku tidak tahu jika suami yang ku dampingi selama itu memiliki kebiasaan yang menjengkelkan. Dan aku mulai hamil empat bulan. Sedangkan suamiku jarang di rumah. Kalaulah dia pulang hanya ganti pakaian, mandi lalu pergi lagi. Seolah dia tidak memiliki keinginan untuk memperhatikan janin dalam perutku. Dan aku, tidak dapat memantau ke mana dia pergi, setiap hari selalu pulang pagi.
 

Jika seperti itu jadinya, aku menyesal membina rumah tangga dengannya. Tapi aku tidak dapat berbuat apa-apa karena aku sedang mengandung anaknya. Hanya bisa meratap sedih dan menangis sendiri sebagai luapan kekecewaan yang ku pendam  diam-diam. Bahkan sampai tiba saatnya aku melahirkan anak pertama, suami tak ada di sisiku. Bahkan hingga kisah ini ku sampaikan, rumahtanggaku masih dalam situasi yang sangat mengkhawatirkan. Suamiku antara ada dan tiada.***

=
Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Tulis Komentar