Dugaan Penipuan Akreditasi

STAI Al-Azhar Dilaporkan Ke Polda

Jumat, 13 April 2018 - 16:31 WIB | dibaca : 165 pembaca

PEKANBARU—Aksi protes Rahmad Syahroni Siregar dan Johan, atas kenyataan bahwa akreditasi kampus tempatnya menimba ilmu ternyata hanya C. Hingga membuat hubungan mereka dengan pihak Akademisi menjadi meruncing.

Buntutnya, keduanya me milih menempuh jalur hukum. Dengan membuat laporan pengaduan ke kantor Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus), Pol da Riau, Jalan Gajah Mada, Pekanbaru.

Laporan ini, diakui keduanya sebagai tanda kekecewaan terhadap pihak kampus. Dimana, saat pertama kali mendaftar masuk, mereka diberitahu, kalau akreditasi kampus STAI Al-Azhar adalah B.

‘’Kenyataannya berbeda dengan yang mereka gembar-gemborkan, kalau akreditasi STAI Al-Azhar adalah B. Itu bohong,’’ kata keduanya kompak.

Karena dugaan kebohongan itulah, yang mendasari hingga memutuskan untuk membuat laporan ke Polda Riau.

Menurutnya, pernyataan pihak Akademisi ini tidak sesuai dengan apa yang dicantumkan pada promosi dari Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al-Azhar Pekanbaru, untuk mempromosikan kampusnya.

‘’Pihak kampus nekat “membohongi” publik. Perguruan tinggi yang sebenarnya berakreditasi C, dalam promosinya ditulis berakreditasi B,’’ tutur Johan.

Terkait laporan Rahmad Syahroni Siregar dan Johan mahasiswa yang mengadukan ini ke Polda, dengan bukti surat tanda penerimaan pengaduan (STPP) nomor: STPP/05/IV/2018/Ditreskrimsus.

Pengaduan masuk Selasa (10/4) lalu. ‘’Laporan sudah masuk. Tadi (kemarin, red) saya diperiksa oleh penyidik sebagai saksi pelapor,’’ ujar Johan kepada wartawan, saat ditemui usai pemeriksaan di Ditreskrimsus, Kamis (12/4) petang.

Pelapor Johan merupakan mahasiswa semester VIII. Ia mengakui baru mengetahui kebohongan itu, setelah mengecek akreditasi kampus tempatnya menimba ilmu itu ke Koordinasi Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Swasta (Kopertais) Wilayah II.

Ia menjelaskan, di kampus itu ada tiga program studi (prodi) S1. Yang memiliki akreditasi B, hanya Prodi Pendidikan Agama IsIam. Sementara Prodi Ekonomi Syariah dan Prodi Manajemen Pendidikan Islam masih dalam pengurusan akreditasi.

Johan mengisahkan, saat dia mendaftar pada tahun 2014 di kampus tersebut, dia hanya tahu bahwa kampus berakreditasi B. Dia pun memperlihatkan sejumlah brosur kampus itu.

Pada brosur yang disebar tahun 2017 lalu, juga tertulis nama kampus “akreditasi B”. Seolah, tulisan itu menggambarkan bahwa akreditasi kampus adalah B. ‘’Kalau saat saya masuk tahun 2014 silam, di brosurnya juga tertulis akreditasi B. Makanya saya masuk kampus itu. Tapi ternyata akreditasinya hanya C,’’ ungkapnya.

Masih menurut Johan, itu terbukti berdasarkan keputusan BAN-PT nomor 925/SK/BAN-PT/Akred/PT/VIII/2015 yang menyatakan bahwa Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Azhar Pekanbaru terakreditasi C.

Sedangkan yang berakreditasi B hanyalah Prodi Pendidikan Agama Islam. Itu tertuang dalam Keputusan BAN-PT nomor 842/SK/BAN-PT/Akred/S/VIII/2018 yang menyatakan bah wa Program Studi Sarjana Pendidikan Agama Islam Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Azhar Pekanbaru terakreditasi B. ‘’Ternyata pembohongan publik ini sudah berlangsung sejak lama. Mungkin sejak tahun 1994,’’ ujarnya.

Menanggapi tuntutan itu, Juru Bicara Yayasan juga Wakil Ketua STAI Al-Azhar Pekanbaru, DR Misharti membantah bahwa pihaknya melakukan pembohongan publik. Dia pun sudah mengetahui bahwa sudah ada laporan ke Polda Riau.

Namun, Misharti menilai laporan itu atas adanya pihak yang sakit hati dengan kebijakan kampus. ‘’Terkait laporan Roni dan Johan, ada orang di belakangnya. Orang di belakang itu adalah seorang dosen yang dipecat, inisial MA,’’ kata dia.

‘’Itu merupakan laporan yang tidak benar, ada unsur sakit hati. Johan itu diadu domba MA,’’ jelasnya.

Terkait dengan akreditasi kampus, dia juga mengakui bahwa STAI Al-Azhar berakreditasi C. Tapi salah satu program studi di kampus itu adalah B. ‘’Kami akreditasi B untuk prodi. Ijazah yang dikeluarkan Kopertais berakreditasi B,’’ ujarnya.

Dia menilai, pengaduan itu adalah bohong besar. Namun dia berharap ini tak berkembang luas, agar tak menjadi opini publik. ‘’Kita sayangkan mahasiswa jadi alat emosinya MA yang kami pecat,’’ sebutnya.

Selama ini kata dia, tidak ada yang komplain dengan itu. Bahkan, banyak alumni STAI Al-Azhar yang sudah menjadi PNS. Saat ini, sudah ada 4.000 lebih alumni yang dilahirkan dari kampus itu.

Terkait dengan brosur yang dinilai membohongi publik, dia menilai itu adalah strategi pemasaran. “Iya (strategi pemasaran),” kata dia.

Untuk diketahui, STAI AL-Azhar Pekanbaru, sudah berdiri sejak tahun 1993, dan telah menamatkan 23 angkatan. ‘’Jika memang ijazah dari alumni tidak bisa dipakai mencari pekerjaan, maka banyak yang datang mengadu. Soalnya sekitar 4.000 lebih tamatan, tidak ada yang komplain, bahkan banyak tamatan menjadi PNS,’’ ujarnya. =MX9

=
Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Tulis Komentar