Lebih Ringan dari Tuntutan Jaksa

Mantan Anggota Q-Net Pembunuh Driver Online Divonis 17 Tahun

Rabu, 04 Juli 2018 - 15:43 WIB | dibaca : 102 pembaca

EMPAT terdakwa pembunuhan driver (sopir) online Go Car, Ardhie Nur Aswan, divonis hukuman pidana selama 17 tahun penjara, oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Pekanbaru, Selasa (4/7).

Vonis majelis hakim yang dipimpin oleh Basman SH itu lebih ringan dibandingkan tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Pekanbaru. Dimana dalam tuntutan JPU itu, para terdakwa di jatuhi hukuman 20 tahun penjara.

Adapun keempat terdakwa tersebut adalah Victorianus Hendrik Siburian alias Victor, Kian Pranata Sipayung, Fine Sanje Tarihoran alias Fije, dan Maringan Tua Gultom. ‘’Terdakwa terbukti bersalah melanggar Pasal 340 ayat (1) ke-1 KUHP, tentang pembunuhan berencana,’’ ujar Basman hakim ketua.

Dalam vonis hakim menyebutkan,  selama berlangsungnya persidangan tidak ditemukan adanya hal pembenaran atau pemaaf terhadap para terdakwa. Perbuatan terdakwa harus mendapat hukuman setimpal. ‘’Menghukum para terdakwa dengan pidana penjara selama 17 tahun. Memerintahkan terdakwa ditahan,’’ terang Hakim.

Adapun hal yang memberatkan hukuman, perbuatan para terdakwa bersama-sama telah menimbulkan kerugian materil sebesar Rp180 juta. ‘’Para terdakwa juga telah menghilangkan nyawa orang lain,’’ tutur JPU.

Atas vonis itu, ke 4 terdakwa maupun JPU menyatakan pikir-pikir selama 7 hari kedepan, apakah akan mengajukan banding atau menerima putusan majelis hakim tersebut.

Pembunuhan terhadap Ardhie berawal ketika para terdakwa  sepakat memesan Go Car menggunakan email palsu yang sudah dibuat pada 22 Oktober 2017. Awalnya, terdakwa sudah memesan dua mobil.

Mobil pertama dibatalkan karena berukuran kecil. Pada pemesanan kedua, para terdakwa mendapatkan mobil Toyota Avanza tapi kembali dibatalkan karena dinilai harga jualnya murah.

Pada pemesanan ketiga, terdakwa mendapatkan mobil Ertiga yang disopiri oleh Ardhie. Mobil ini dipesan di depan Karaoke Koro-koro, Jalan HR Soebrantas.

Setelah mobil tiba, para terdakwa dan seorang rekannya yang kabur meminta di antarkan ke sebuah loket bus di daerah Air Hitam, Payung Sekaki. Di perjalanan, seorang terdakwa minta berhenti dengan alasan ingin buang air kecil.

Saat mobil berhenti di pinggir jalan, terdakwa Victor yang duduk di kursi belakang korban, menjerat leher korban dengan menggunakan tali yang memang sudah dipersiapkan.

Sampai akhirnya korban lemas dan tak bernyawa, korban ditarik ke bangku belakang. Terdakwa Victor mengambil alih kendali mobil dan mereka menuju ke Sumatera Utara.

Sesampainya di daerah Kandis, Kabupaten Siak, terdakwa  berhenti dan membuang jasad korban ke hutan dan semak belukar di daerah itu. Mereka melanjutkan perjalanan ke Simalungun.

Pada 7 November 2017, seorang warga yang hendak mencari kayu menemukan kerangka manusia di kawasan hutan di Kandis. Saat dilakukan serangkaian penyelidikan dan tes DNA diketahui kalau kerangka itu adalah Ardhie.

Sedangkan para terdakwa, berhasil ditangkap oleh Satuan Reserse Kriminal Polresta Pekanbaru pada bulan November 2017, dengan lokasi yang berbeda-beda. Terdakwa Victorianus Hendrik Siburian alias Victor dan Maringan Tua Gultom di tangkap di Kecamatan Tampan.

Sedangkan terdakwa Kian Pranata Sipayung, ditangkap di Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, dan terdakwa Fine Sanje Tarihoran, ditangkap di Cilegon. Kini para terdakwa akan menjalani hukumannya, setelah divonis hami selama 17 tahun penjara. ***

=
Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Tulis Komentar