Diduga Lakukan Kriminalisasi

Kapolsek Tapung Dilaporkan ke Polda Riau

Rabu, 11 Juli 2018 - 15:37 WIB | dibaca : 145 pembaca

KUASA hukum Imam Nawawi (18), Freddy Simanjuntak SH MH, melaporkan Kapolsek Tapung beserta Kanit Reskrim dan penyidiknya ke Polda Riau. Hal itu dilakukan, untuk mencari rasa keadilan serta perlindungan hukum terhadap Imam Nawawi.

Imam Nawawi ditangkap tim opsnal Polsek Tapung atas dugaan tindak pidana pencurian dan kekerasan (Curas). Namun, menurut Freddy Simanjuntak, penangkapan Imam Nawawi dinilai sarat dengan kriminalisasi, pelanggaran Hak Azasi Manusia (HAM) dan rekayasa.

Oleh pihaknya, diduga adanya proses salah tangkap yang dilakukan pihak Polsek Tapung. Tidak hanya itu, penangkapan dan penahanan Imam Nawawi tanpa adanya surat perintah (Sprint) penangkapan dan penahanan yang diterima pihak keluarga Imam Nawawi.

Atas hal tersebut, orangtua Imam Nawawi, Slamet beserta kuasa hukumnya, melaporkan terjadinya tindakan kriminalisasi pihak Polsek Tapung ke Mapolda Riau.

Dalam keterangan Freddy Simanjuntak, Selasa (26/6) sekitar pukul 21.00 WIB, Imam Nawawi ditangkap anggota Polsek Tapung atas tindak pencurian kendaraan bermotor (Curanmor).

Penangkapan Imam Nawawi tersebut atas laporan Ariani selaku korban. Yang mana pada Sabtu (23/6) sekitar pukul 23.00 WIB, bertempat di Jalan Poros Flamboyan 8, Desa Tanjung Sawit, Kecamatan Tapung Kabupaten Kampar, Imam Nawawi diduga mencuri satu unit sepeda motor Yamaha NMax milik Ariani.

Dalam laporan tersebut, pelaku berjumlah dua orang dan Imam Nawawi mengenakan baju berwarna putih. Padahal berdasarkan fakta, pada hari itu, Imam Nawawi sedang minum juice bersama rekannya, Binsar, Riki, Feri, Nanat dan seorang teman mereka tukang bengkel motor di Caffe Aisyah yang berlokasi di Pasar Flamboyan, Tanjung Sawit.

‘’Saat itu Imam Nawawi pakai kaos berwarna hitam, bukan warna putih. Kita ada bukti fotonya,’’ kata Freddy sambil memperlihatkan foto (selfie) Imam bersama temannya di cafe pada Sabtu malam itu.

Dari laporan (pelapor) korban sangat berbeda dengan alibi sebenarnya. Selain itu dilanjutkan Freddy, pada saat Imam ditangkap pihak Polsek Tapung tidak menyertai atau memberikan surat perintah penangkapan.

‘’Surat perintah penangkapan dan surat perintah penahanan, baru disampaikan kepada Kepala Desa Indra Puri, Senin (2/7) lalu. Jadi terhitung sejak klien kami ditangkap dan ditahan sudah berlangsung selama 6 hari, dan kemudian baru dikeluarkan surat perintahnya. Dalam hal ini, ada tindakan kriminalisasi yang dilakukan pihak Polsek Tapung dalam proses penangkapan,’’ jelas Freddy.

Terjadinya tindakan kriminalisasi serta tidak adanya alat bukti yang kuat, pihaknya melaporkan tindakan Kapolsek Tapung, Kompol Indra Rusdi beserta jajarannya ke Mapolda Riau.

‘’Kapolsek, Kanit (Reskrim) dan penyidiknya kita laporkan. Kita juga minta ke Polda Riau agar mengambil alih kasus itu, serta dilakukan reka ulang supaya semuanya menjadi jelas,’’ terang Freddy.

Terkait dengan hal diatas, Kapolsek Tapung, Kompol Indra Rusdi saat dikonfirmasi Pekanbaru MX menanggapinya dengan santai. ‘’Silahkan saja, itu hak mereka. Tetapi yang jelas perkara itu sudah mau P21. Berkasnya sedang di Jaksa,’’ ucapnya singkat. ***

=
Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Tulis Komentar