Tradisi Unik Masyarakat Mandailing Desa Rambah Rohul

Sabtu, 13 April 2019 - 13:57 WIB   [58 Klik]
Redaktur : Oce E Satria

Tradisi Unik Masyarakat Mandailing Desa Rambah Rohul


KORANMX.COM, PASIR PENGARAIAN - Sejarah pertama kalinya masyarakat Mandailing datang ke Kabupaten Rokan Hulu (Rohul), Riau harus diketahui dan dijadikan bahan studi karena menyimpan banyak kearifan lokal.  Karena itu, penting dilakukan penulisan yang komprehensif.

Demikian dikatakan Bupati Rohul, Sukiman saat menghadiri kegiatan tahunan Mandai Ulu Taon di Bagas Rarangan Huta Haiti Desa Rambah Tengah Barat, Kecamatan Rambah tahun 2019, Rabu (10/4/2019),

Mandai Ulu Taon Haiti adalah tra‎disi masyarakat Mandailing di Rohul, dan dilakukan setiap tahun setelah masa panen raya.

Acara tersebut juga sebagai ajang silaturrahmi dan membangun gotong royong masyarakat Mandailing, sebab mulai masak nasi dan daging kerbau, serta makan bersama dilakukan secara bersama-sama.

Bupati juga berharap, sebelum tahun 2020 penulisan sejarah tentang masuknya suku Mandailing ke Kabupaten Rohul sudah dilaksanakan, melalui seminar dengan merangkum informasi dari masyarakat Mandailing tentunya.

Diawal kegiatan tersebut terlihat rombongan Bupati Sukiman bersama Sekda Abdul Haris disambut dengan pencak silat kemudian tor tor sabe sabe. Kemudian rombongan mengulosi kain ulos sekaligus diiring ke Balai Bagas Rarangan.

Rombongan Bupati Rohul, Sukiman disertai Sekda Rohul H.Abdul Haris, mantan Sekda Rohul Syarifuddin Nst serta  Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Kadisparbud) Drs Yusmar MSi. Terlihat juga hadir Sutan Na Opat Mangaraja Na Tolu yakni Sutan Laut Api dari Kubu Baru, Sutan Tuah dari Haiti, Sutan Kumala Bulan dari Menaming, Sutan Silindung dari Tangun. Kemudian Mangaraja Timbalan dari Pawan, Mangaraja Liang Sungai Pinang, Mangaraja Timbalan dari Tanjung Berani.

"Tradisi Mandai Ulu Taon ini sangat baik, karena dapat mempertebal rasa kegotongroyongan masyarakat Mandailing, dan akan memberikan pemahaman kepada generasi muda ke depan," kata Bupati Sukiman.

Kepala Disparbud Rohul Yusmar mengatakan, dinasnya akan membuat buku tentang Rumah Rarangan Boru Namora Suri Andung Djati‎, termasuk sejarah pertama kalinya masyarakat Mandailing datang ke Kabupaten Rohul

Pembuatan buku sejarah Mandailing diakui Yusmar, membutuhkan waktu yang lama. Karena harus dilakukan study serta seminar, dan harus didudukkan bersama. Kemudian untuk mengenalkan Rumah Rarangan ini, Disparbud Rohul bersama masyarakat juga berencana membuat even tingkat sumatera yang berhubungan dengan suku Mandailing.

Konon lokasi sejarah Rumah Rarangan Boru Namora Suri Andung Djati diketahui sebagai awal sejarah tentang masyarakat Mandailing pertama kali datang ke Kabupaten Rohul. Dari sinilah datangnya masyarakat Mandailing yang ada saat ini di tujuh huta (kampung). Diperkirakan sekarang ada 21 desa di Rohul.

Di masa lalu bukan hanya ada Rumah Rarangan Boru Namora Suri Andung Djati saja, tapi ada beberapa rumah tinggal, termasuk rumah tempat pertemuan.

Bupati disaksikan sejumlah tokoh formal dan informal baik tokoh agama, adat maupun pemuda meresmikan Balai Adat Pertemuan, Balai Adat Rumah Rarangan Boru Namora Suri Andung Djati. Pembangunannya bersumber dari dana revitalisasi desa adat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Rp585 juta lebih tahun anggaran 2018. Tahun ini, pemerintah daerah Rohul melalui Disparbud untuk acara adat sekitar Rp45 juta untuk Mandai Ulu Taon.

Bupati, Sekda dan rombongan, juga menyempatkan ziarah ke jejak terakhir Boru Namora Suri Andung Djati, diiringi alat musik ogong (gong), dipimpin Panghulu Somba Muhammad Yamin, dilanjutkan makan bersama di Balai atad Bagas Rarangan.***

 

Penulis: Oce E Satria (dari berbagai sumber)



Berita Terkait

Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook