Dialog Kebudayaan

Jadi Acuan Design Kebudayaan Melayu Riau 2045

Senin, 29 April 2019 - 16:32 WIB   [69 Klik]

Jadi Acuan Design Kebudayaan Melayu Riau 2045

Ketua Yayasan Sagang Kazzaini KS bersalaman dengan Wagubri Edy Natar Nasution dalam acara Dialog Budaya di Balai Pauh Janggi Gubernuran di Jalan Diponegoro, Pekanbaru.

PEKANBARU--Yayasan Sagang menghelat dialog kebudayaan. Kegiatan ini mendapat apresiasi dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau yang disampaikan oleh Wakil Gubernur Riau, Edy Natar Nasution.

Ratusan Budayawan Riau, tuan dan puan para undangan berkumpul di Balai Pauh Janggi, Gubernuran, Jalan Diponegoro, Pekanbaru, Senin. Mereka menghadiri helat dialog kebudayaan bertajuk

"Menimbang Posisi Kebudayaan Melayu Dalam Kemajuan Riau Kedepan (Meneroka Riau Tahun 2045)", Senin (29/4).

"Kami sangat berterima kasih kepada Yayasan Sagang atas inisiasinya melaksanakan dialog kebudayaan," kata Wakil Gubernur Riau, Edy Natar Nasution dalam sambutannya.

Melayu, kata Edi, menjadi kesatuan bahasa persatuan, namun saat ini hanya menjadi bahasa ibu dan tidak dijadikan pelajaran di sekolah. Sehingga menjadikannya tidak berkembang.

"Sejak Juni 2018 kita sudah menjadikan muatan lokal menjadi salah satu materi pelajaran di sekolah namun masih banyak lagi sekolah di kabupaten/kota yang belum menerapkannya," sebutnya.

Pemeliharaan objek kebudayaan, kata dia, perlu dilakukan dengan beberapa cara. Di antaranya dengan menjaga nilai keluhuran budaya, menghidupkan dan menjaga ekosistem serta menurunkan objek budaya tersebut pada generasi berikutnya.

"Visi dan misi menjadikan Riau sebagai pusat ekonomi kebudayaan Melayu dalam masyarakat agamis di Asia Tenggara tahun 2020 merupakan modal besar yang merupakan sikap optimis kita untuk mencapainya," ucapnya.

Di akhir sambutannya, Edy berharap hasil dari dialog kebudayaan ini diharapkan dapat memberikan pandangan dan masukan kepada Pemerintah Provinsi Riau untuk kemajuan Riau ke depan. "Hasil ini dapat menjadi acuan dan grand design kebudayaan Melayu Riau tahun 2025," sebutnya.

Sementara itu sederet Budayawan Riau yang hadir di antaranya, UU Hamidi, Dr Chaidir, Prof Ashaludin Jalil tampak hadir sebagai pembicara dalam dialog yang berlangsung hingga petang tersebut.

Dalam dialog itu Prof Ashaludin Jalil mengatakan, visi dan misi Riau 2020 masih jauh dari harapan alias belum tercapai. "Visi dan misi 2020 apakah sudah tercapai? Jawabnya tidak, karena tidak ada implementasinya," ucapnya.

Mantan Rektor Universitas Riau dua periode ini mengatakan, tidak tercapainya visi dan misi itu karena tidak adanya implementasi dari visi dan misi itu.

Masing-masing daerah, katanya hanya menjalankan visi dan misinya masing-masing tidak mengacu pada visi dan misi Riau 2020 karena semangat otonomi daerah.

"Riau belum mencerminkan budaya Melayu, coba lihat di Bandara SSK apa ada implementasi budaya Melayu di sana? Belum," ucapnya.

Menurutnya, perlu dukungan penuh pemerintah daerah untuk mencapai tujuan tersebut yang masih jauh dari harapan semua.

"Saya tidak melihat kearifan lokal di bandara kita, berbeda dengan derah lainnya seperti Sumatera Selatan, Kalimantan Utara dan daerah lainnya di Indonesia yang saat tiba di bandara sudah mencerminkan kearifan budaya lokal mereka, ini perlu dukungan semua steakholder," pungkasnya. ***



Berita Terkait

Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook