Meugang, Tradisi Sambut Ramadan di Aceh

Sabtu, 04 Mei 2019 - 13:01 WIB   [132 Klik]
Redaktur : Oce E Satria

Meugang, Tradisi Sambut Ramadan di Aceh


KORANMX.COM, BANDA ACEH -- Dalam perayaan tradisi meugang, masyarakat berbondong bondong mendatangi pasar tradisional untuk membeli daging sapi, kambing dan unggas. Inilah yang disebut tradisi Meugang. Tradisi Meugang atau dikenal dengan sebutan masyarakat Aceh Makmeugang.

Makmuegang berasal dari kata  yakni Makmue, artinya makmur, semua lapisan ikut menikmati. Gang, artinya Gang di dekat Pasar ( Kumpulan para penjual daging yang berjualan di gang-gang pasar,biasanya satu gang ini terapat puluhan bahkan ratusan lapak,tiap lapak para pedagang seluas ukuran meja,di atas meja inilah daging sapi dipajang sementara diatasnya dipajang bamboo tempat gantungan daging masi utuh dengan pahanya)
merupakan tradisi membeli daging tanpa ada perbedaan miskin dan kaya, daging sapi diolah untuk disantap bersama keluarga.

Tradisi warisan leluhur itu biasanya dirayakan tiga kali dalam setahun, yaitu menjelang datangnya bulan Ramadan, hari raya Idulfitri, dan jelang  Iduladha. Dalam perayaan tradisi Meugang, para penjual daging mulai menyembelih sapi dan membuka lapak dagangan sejak tengah malam atau menjelang dinihari. Daging daging segar digantung di bawah bambu berlangitkan terpal, beda halnya dengan hari-hari biasa.

BERITA TERKAIT

Semarak Petang Megang di Pekanbaru

Dalam sejarah, tradisi Meugang sudah berlaku di Aceh sekitar abad ke-14 Masehi, bersamaan dengan penyebaran agama Islam di Aceh. Ajaran Islam menyakini masyarakat Aceh menyambut setiap datangnya bulan Suci Ramadan, hari raya Idulfitri dan Idul ladha.

Dulu kala, setiap datangnya hari Meugang, para raja dan orang-orang kaya membagikan daging sapi kepada fakir miskin yang diyakini salah satu cara memberikan sedekah serta  membagi kenikmatan dan kebahagian kepada masyarakat dari kalangan tidak mampu.

Pada masa Kerajaan Aceh Darussalam, hari Meugang pun dirayakan oleh para Sultan, para pembesar kerajaan dan alim ulama, bahkan pada masa Aceh dalam kekuasaan kolonial Hindia Belanda, tradisi Meugang tetap dilaksanakan di Aceh. Pemerintah Belanda kala itu memberlakukan libur kerja pada hari Meugang, turut memberikan daging kepada masyarakat Aceh.

Untuk memenuhi kebutuhan daging pada setiap datangnya hari Meugang, para pendahulu masyarakat Aceh jauh hari sebelumnya melakukan musyawarah desa menentukan iuran uang untuk membeli sapi yang akan disembelih bersama. Dengan cara bahu membahu inilah warga membeli sapi untuk dipotong pada hari Meugang dan dibagi rata.

Seiring dengan perkembangan jaman, menjelang pelaksanaan Meugang seperti sekarang ini masyarakat Aceh ramai ramai mendatangi pasar tradisional tempat penjualan daging sapi, meningkatnya permintaan daging itu pun mengakibatkan lonjatan harga daging lebih mahal dari harga biasanya.

Seperti terlihat suasana Pasar Induk Lambaro Jumat pagi  tak hanya ramai dipadati warga, pusat pasar induk sayuran di Aceh Besar itu juga dijejali lapak pedagang sapi di setiap sudut.

Kemeriahan di Pasar Induk Lambaro merupakan fenomena tahunan menjelang bulan Ramadan di Kota Serambi Mekkah itu. Dua hari menjelang puasa, warga bakal keluar rumah sejak pagi hari dan memadati lapak-lapak penjual daging --yang juga mendadak hadir menjamur di jalanan ataupun di pasar-pasar.

Tradisi unik warga Aceh dalam menyambut bulan Ramadan itu dikenal dengan istilah Meugang. Kebiasaan turun-temurun ini diyakini sudah berlangsung ketika bumi Nanggroe Aceh Darussalam masih berada di bawah kepemimpinan Sultan Iskandar Muda, pada 1607 hingga 1636.

Muhammad Ali (76), salah seorang warga yang turut berbelanja pagi itu, mengatakan bahwa istilah Meugang berasal dari kalimat ‘makmu that gang nyan’, yang berarti 'makmur sekali pasar itu'.

Kalimat itu muncul, kata Muhammad, lantaran keramaian di pasar menjelang Ramadan tak seperti hari-hari biasanya. Sehingga kata Meugang, yang diambil dari kata ‘makmeugang’, kemudian menjadi istilah yang melabeli fenomena tersebut.



Aktivitas penjual daging dan pembeli saat tradisi Meugang menyambut Ramadan di Pasar Induk Lambaro, Banda Aceh. (CNN Indonesia/Safir Makki)

"Kalau bukan untuk menyambut hari-hari besar Islam, mana ada pasar di Aceh bisa seramai begini," ujar Muhammad saat ditemui di Pasar Induk Lambaro.

Tradisi Meugang pada dasarnya merupakan rangkaian aktivitas dari membeli, mengolah, dan menyantap daging sapi selama dua hari menjelang puasa. Aktivitas makan daging sapi menjadi simbol bahwa menu santap 'mewah' bisa dinikmati semua orang dalam menyambut hari-hari besar Islam, tanpa melihat status ataupun golongan.

Budayawan Aceh, Barlian AW mengatakan, tradisi Meugang bermula ketika para uleebalang (hulubalang atau bangsawan) di Aceh berbagi rezeki dengan membagi-bagikan zakat berupa makanan dan pakaian kepada kaum duafa, yatim piatu dan fakir miskin di Aceh.

Kebiasaan bangsawan di Aceh berbagi dengan rakyat biasanya juga ditandai dengan sembelih sapi yang kemudian dagingnya dibagi-bagikan kepada masyarakat secara merata. Tradisi itu juga dilakukan ketika Aceh menyambut hari raya Idul Adha dan Idul Fitri.

"Tradisi ini sudah ada sejak masa kerajaan tempo dulu, ketika para bangsawan menyembelih sapi di hari Meugang untuk rakyatnya," ujar Barlian.

Seiring pergantian zaman, kata Barlian, setiap keluarga Aceh menjadi terbiasa membawa pulang daging di hari Meugang. Tradisi itu kemudian bergeser menjadi aktivitas jual-beli daging di pasar-pasar dan berubah menjadi kebiasaan turun-temurun.

"Anak-anak di rantau pun akan pulang untuk menyantap daging bersama keluarga. Akan terasa sedih bagi orang tua menyambut puasa tanpa kehadiran anak-anaknya di hari Meugang," kata Barlian.

Aktivitas Meugang tentunya tak hanya terjadi di Pasar Induk Lambaro. Kegiatan jual-beli dan santap daging itu juga dilakukan di hampir semua pasar dan rumah yang tersebar di sejumlah wilayah di sana.

Musliadi (37), salah satu penjual daging di Pasar Lambaro, mengatakan untuk memasok kebutuhan para pembeli selama dua hari meugang, Musliadi membeli dua ekor sapi besar.

"Alhamdulillah kemarin satu ekor sudah habis terjual," kata Musliadi.

Warga biasanya meracik daging yang mereka beli menjadi menu santap berupa rendang, gulai, ataupun digoreng dan direbus seadanya. Seperti yang dilakukan Juariah (36), warga asal Peunayong itu berniat menjadikan satu kilogram daging sapi yang dia beli untuk diolah dengan bumbu kari.

"Siang ini harus cepat-cepat dimasak, supaya nanti malam usai Tarawih kami bisa makan sama-sama keluarga di rumah," kata Juariah. (MX, dari berbagai sumber)



Berita Terkait

Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook