Diskusi dan Buka Bersama Wartawan Riau

Ngopi PWI Riau: Kearifan Melayu Menjaga Sumber Daya Alam Hayati

Senin, 13 Mei 2019 - 18:00 WIB   [278 Klik]
Redaktur : Oce E Satria

Ngopi PWI Riau: Kearifan Melayu Menjaga Sumber Daya Alam Hayati

Ngobrol Pintar (Ngopi) PWI Riau di Kaliandra Room, Graha Pena Riau. [Foto:Irwan/MX]

KORANMX.COM, PEKANBARU -- Kearifan lokal, utamanya Melayu di Riau setidaknya ikut menjadi penyangga dan penjaga kekayaan sumber daya hayati. Hutan sudah sejak dahulu dijadikan sumber marwah dan tuah bagi masyarakat.

Hal tersebut diungkapkan pakar lingkungan Riau, DR Elviriadi dalam Ngopi (Ngobrol Pintar) PWI Riau, Senin (13/5/2019).

Ngopi PWI Riau dan buka bersama ini bekerjasama dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) RI digelar di Kaliandra Room lantai 2 Gedung Graha Pena Riau, Pekanbaru dengan tema "Konservasi Sumber Daya Alam Hayati".

Selain DR Elviriadi, sejumlah narasumber  dihadirkan, yakni Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (Dirjen KSDAE) Kemen LHK RI Ir Wiratno MSc, Direktur Pencegahan dan Pengamanan Hutan, Ditjen Penegakan Hukum (Gakkum) LHK, KLHK Ir Sustyo Iriyono MSi.

Lebih jauh Elviriadi menyampaikan, kearifan lokal Melayu Riau ke depannya harus bersinergi dengan pemerintah dan stakeholder dalam upaya menjaga sumber daya hayati terkait hutan dan lahan gambut.

Elviriadi dikenal sebagai akademisi sekaligus aktivis lingkungan yang concern dengan pemeliharaan hutan dan lahan gambut. Keduanya menurut Elviriadi adalah pusat peradaban dan ruh orang Melayu.

"Dalam budaya dan sastra Melayu Riau justru banyak dibicarakan soal lingkungan hidup, hutan dan semua kekayaannya," kata Elviariadi.

Hutan dalam perspektif Melayu itu ada 3 fungsi, yaitu sebagai sumber falsafah hidup, sebagai sumber marwah, dan sumber nafkah (ekonomi). Jadi aspek ekonomi itu hanya pelengkap prinsip hidup.

"Hutan dan tanah gambut itu pusat peradaban orang Melayu dengan empat pengaturan," kata penulis beberapa buku ini.

Seperti sering ia ulas, ada empat pengaturan luhur yang dipahami budaya dan masyarakat Melayu, antara lain; gambut dan kekayaannya sebagai rimba peladangan, rimba pecadangan, rimba larangan, dan lahan perkarangan. Sementara yang boleh dimanfaatkan dari empat tata ruang melayu itu hanya rimba peladangan dan lahan pekarangan.

Nara sumber lainnya, Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (Dirjen KSDAE) Kemen LHK RI Ir Wiratno MSc mengaku senang kegiatan dialog dan diskusi yang ditaja PWI Riau ini yang ia nilai sangat positif.

"Ngobrol Pintar PWI Riau ini patut dicontoh oleh daerah-daerah lain di Indonesia," katanya.


Tambah Wawasan Wartawan

Ketua PWI Riau H Zulmansyah Sekedang menyebutkan, Ngopi PWI Riau-KLHK ini merupakan kegiatan yang ketiga, dimana sebelumnya sudah dilaksanakan pada 8 April 2019 dan 22 April 2019 dengan tema yang berbeda.

Ia berharap agar dialog bersama KLHK ini mampu menambah wawasan wartawan, khususnya tentang kehutanan dan konservasi.

"Kegiatan kali ini sekaligus berbuka puasa bersama. Kita harapkan ke depannya, kegiatan ngopi ini semakin banyak pesertanya, dan mampu menambah wawasan," kata Zulmansyah Sekedang.

Selain bekerjasama dengan KLHK, lanjutnya, PWI nantinya juga akan kembali mengadakan kegiatan ngopi bersama narasumber yang berbeda. ***



Berita Terkait

Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook