Sangat Dibutuhkan Petani

Sekolah Lapang Petani Gambut Ajarkan Peserta Membuat Pupuk Organik

Rabu, 15 Mei 2019 - 10:32 WIB   [143 Klik]
Reporter : Fanny Rizano
Redaktur : Raja Mirza

Sekolah Lapang Petani Gambut Ajarkan Peserta Membuat Pupuk Organik

Puluhan petani tampak mengikuti program BRG

KORANMX.COM, PEKANBARU--Puluhan masyarakat petani dari berbagai daerah di Provinsi Riau, berkumpul di Sekretariat Kelompok Keswadayaan Masyarakat (KKM) Kampung Jati Baru, Kecamatan Bunga Raya, Kabupaten Siak, Ahad (13/5/2019).

Berkumpulnya puluhan petani itu, dalam rangka kegiatan yang diadakan oleh Badan Restorasi Gambut (BRG), yakni Sekolah Lapang Petani Gambut. Dalam kegiatan itu, mereka belajar ‎tentang proses pembuatan pupuk organik, yang dipraktekkan langsung oleh instruktur atau fasilitator dari BRG.

Dalam pantauan, ‎mereka terlihat sangat antusias dan sibuk mempersiapkan sejumlah bahan, untuk diolah menjadi pupuk. Ada yang sedang mencacah enceng gondok, menyerut kunyit, mengurai sabut kelapa dan lain-lainnya.‎ Sejumlah bahan alami inilah yang akan dipakai masyarakat untuk membuat pupuk, yang selanjutnya akan diaplikasikan di tanah gambut, maupun juga pada tanaman.

Instruktur program Sekolah Lapang Petani Gambut, Joko Wiryanto yang berasal dari Kalimatan Barat (Kalbar) ini, dihadirkan BRG dalam kegiatan tersebut untuk ‎berbagi pengetahuannya kepada masyarakat petani.

Joko diketahui merupakan petani inovatif yang sukses ‎menciptakan formula pupuk yang bernama F1-Embio. Yang mana, dalam pembuatan F1-Embio ini, Joko harus menghabiskan waktu sekitar 5 tahun untuk melakukan serangkaian penelitian.

“Sebagai pegiat pertanian, saya memang hanya fokus bagaimana untuk bisa meningkatkan kesejahteraan petani,” papar pria asli kelahiran Jawa Barat ini.

Dalam pengaplikasiannya, Joko menjelaskan bahwa F1-Embio bisa membantu untuk memperbaiki tanah gambut. Yang mana, tanah gambut memiliki tingkat keasaman cukup tinggi. Maka dari itu, F1-Embio didesain ‎sebagai isolat yang berguna untuk merombak gula tanah dan menambah retensi air di lahan gambut. 

"Bahan-bahan untuk membuat F1-Embio ini terbilang sangat mudah didapat. Seperti tepung kanji, air, terasi, nenas, gula pasir, vitamin B kompleks, kotoran ternak ayam kampung dan lain-lainnya. ‎Bahan-bahan ini harganya total hanya sekitar Rp30 ribu. dan tinggal dicampur air lagi 50 sampai 60 liter, bisa dipakai untuk 5 hektar lahan,” jelasnya.

Diterangkannya, F1-Embio bisa ‎meningkatkan hasil panen 11 hingga 13 persen. Penggunaan F1 Embio juga bisa menghambat penguapan air karena tanah tetap terjaga kelembapannya. 

"F1-Embio ini sudah dipakai di berbagai daerah di 7 Provinsi Gambut. Selain di gambut, ada juga yang di tanah mineral," terangnya.

Sementara itu, pria bernama Badri, yang merupakan mantan peserta Sekolah Lapang Petani Gambut di Indragiri Hilir (Inhil) pada tahun lalu, kini sudah berhasil menerapkan ilmu yang didapatnya di lahan Demplot yang digarapnya sendiri.

Badri sekarang juga berperan sebagai asisten instruktur. Dia sudah bisa ikut mementori masyarakat petani yang ingin belajar bagaimana mengolah lahan gambut tanpa bakar.

“Selama ini gambut selalu menjadi momok, yang ditanam selalu tidak bagus. Tapi Alhamdulillah lewat Sekolah Lapang BRG ini, kita bisa belajar. Bagaimana membuat tanah gambut menjadi subur. Bahkan tidak kalah dengan tanah mineral,” tuturnya.

Badri mengungkapkan, perbandingan yang dia rasakan sangatlah signifikan. Sebelum ikut Program Sekolah Lapang Petani Gambut, dengan sesudahnya.

“Kalau untuk tanaman yang ditanam, kita tidak terpatok pada 1 jenis saja. Semua bisa, seperti padi, terong, cabe dan bermacam-macam tanaman lainnya,” ungkapnya.

Disisi lain, ‎seorang Ibu Rumah Tangga (IRT) warga asal Desa Air Putih, Kabupaten Bengkalis bernama Neneng, tampak sangat antusias dalam kegiatan Sekolah Lapang Petani Gambut tersebut.

Disamping IRT, Neneng yang juga merupakan petani didaerahnya, terlihat sangat aktif ‎bertanya kepada para instruktur, yang memberikan materi pembelajaran. Neneng mengaku selama ini tidak tahu, jika sebenarnya ada bahan-bahan alami non kimia yang bisa diolah menjadi pupuk.

"Di sini saya belajar bagaimana cara membuat pupuk alami yang tidak berbahaya. Bahkan bahannya bisa didapat dengan mudah dan harganya murah. Selama ini saya biasanya pakai (pupuk) kimia, untuk antisipasi hama," ujar Neneng.

"Ditempat saya itu, ada beberapa jenis tanaman yang biasa ditanam petani. Seperti cabe merah, kangkung, bayam, dan kacang panjang," tambahnya.

Diterangkannya, dari Program Sekolah Lapang Petani Gambut BRG ini, dirinya mengaku sudah banyak memetik manfaatnya. Kegiatan seperti ini kata Neneng, baru pertama kali diikutinya. Selain dapat pembelajaran secara materi, dia juga bisa melihat langsung bagaimana praktiknya di lapangan.

"Kalau nanti pulang, saya akan mengajak masyarakat di desa saya untuk bangkit. Saya sudah dapat ilmunya, bagaimana cara bercocok tanam di lahan gambut. Bersyukur ada program dari BRG ini. Inilah yang kami para petani butuhkan selama ini," terangnya.‎

Terpisah, Kasub Pokja Edukasi, Sosialisasi dan Edukasi BRG, Deasy Efnidawesty menjelaskan, pada intinya BRG memiliki tiga program. Yakni, R1 (Rewetting), R2 (Revegetasi) dan R3 (Revitalisasi).

“Tujuan Revitalisasi ini adalah meningkatkan kapasitas dan partisipasi masyarakat kita yang sebagian besar adalah petani. Konsep yang dibawa, salah satu konsepnya adalah lewat Program Sekolah Lapang Petani Gambut ini,” ujarnya.

Dilanjutkannya, lewat program tersebut, BRG ingin supaya masyarakat bisa mengolah lahan gambut yang lebih efektif, tanpa harus membakarnya. Tidak sampai disitu, lewat program ini, BRG berharap agar masyarakat bisa saling berbagi pengetahuan, keterampilan, hingga pengalaman.

“Ini yang ingin kita hindari. Jika sebelumnya mengolah lahan gambut dengan cara dibakar dilakukan sudah turun-temurun, ini yang kita pangkas. Untuk itu kita ingin perkenalkan metode pertanian alami tanpa bakar, yaitu dengan penggunaan pupuk alami. Kita ajarkan bagaimana pembuatannya, sampai pengaplikasiannya,” ucapnya.

“Karena sejatinya mengolah lahan gambut dengan cara dibakar, yang diyakini masyarakat bisa membuat gambut menjadi subur, padahal itu malah membuat rusak komposisi gambut tersebut,” sambungnya.

Untuk diketahui, program Sekolah Lapang Petani Gambut ini sudah berjalan selama 2 tahun belakangan. Pesertanya berasal dari petani Desa Peduli Gambut (DPG) yang ada di Provinsi Riau.Total, ada 20 DPG yang tersebar di 3 Kabupaten di Provinsi Riau. Yaitu Kabupaten Bengkalis, Pelalawan, dan Inhu.

Secara keseluruhan, ada 7 Provinsi target penyelenggaraan Sekolah Lapang Petani Gambut. Diantaranya Provinsi Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, dan Papua. (***) 

 



Berita Terkait

Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook