Sidang Proyek Jalan di Bengkalis

Orang Kepercayaan Mantan Bupati Bengkalis Kembali Bersaksi

Rabu, 15 Mei 2019 - 14:32 WIB   [50 Klik]

Orang Kepercayaan Mantan Bupati Bengkalis Kembali Bersaksi

Ribut Susanto dan Jefri Ronal kembali dihadirkan jaksa KPK untuk bersaksi. Kali ini mereka berdua bersaksi untuk terdakwa M Nasir.

PEKANBARU—Mantan Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Dumai M Nasir dihadirkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) ke Pengadilan Tipikor pada Pengadilan Negeri Pekanbaru, Rabu (15/5).

M Nasir dihadirkan sebagai terdakwa dalam perkara dugaan korupsi proyek peningkatan Jalan Batu Panjang-Pangkalan Nyirih, Kabupaten Bengkalis. Yang mana dalam proyek ini, M Nasir menjabat sebagai Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Bengkalis.

Dalam persidangan yang beragendakan pemeriksaan saksi itu, JPU KPK menghadirkan dua orang saksi. Mereka adalah Ribut Susanto dan Jefri Ronal Situmorang. Ribut diketahui dalam perkara ini merupakan tangan kanan mantan Bupati Bengkalis Herliyan Saleh. Sedangkan Jefri, mantan GM PT Multi Struktur.

Dalam kesaksian Ribut, proyek peningkatan Jalan Batu Panjang-Pangkalan Nyirih itu, merupakan salah satu proyek multiyears Kabupaten Bengkalis. Yang mana, proyek ini merupakan janji politik Herliyan Saleh kala kampanye menjadi calon Bupati Bengkalis.

“Ada enam paket pekerjaan jalan dalam multiyears itu. Tapi tak ada hubungan saya dengan  proyek itu. Saya hanya diminta bantu oleh Pak Herliyan untuk menyelesaikan. Maksudnya seperti sosialisasi, hambatan-hambatan di DPRD (Bengkalis),” ucapnya.

Hambatan-hambatan di DPRD Bengkalis tersebut, menjadi pertanyaan JPU KPK Feby Dwiandospendy SH. Feby menanyakan kepada Ribut, apa maksud dari hambatan di DPRD Bengkalis tersebut.

“Misalnya mengenai pengesahan APBD,” jawab Ribut. “To the point saja, maksudnya apa itu,” tanya JPU lagi. “Minta duitlah kawan-kawan di DPRD ini,” jawab Ribut lagi.

Diterangkan Ribut, terkait dengan proyek multiyears itu, banyak pihak kontraktor yang minta bertemu dengannya. Beberapa di antaranya PT Merangin Karya Sejati (MKS), PT Multi Struktur, Wasko dan

BUMN-BUMN lainnya. “PT merangin itu, yang bertemu dengan saya, Ismail. Saat itu dia (Ismail) minta bantuan melalui Hamdi, untuk bisa ikut di proyek Mmultiyears ini. Hamdi ini sepupu Pak Herliyan (Bupati Bengkalis). Itu pertengahan 2011,” terang Ribut.

Dalam perjalanannya, Ribut menerangkan kepada Ismail, jika lolos atau menang dalam proyek multiyears itu, ada bagian sekitar 7 sampai 10 persen yang harus dibayarkan. “Bagian 7 sampai 10 persen dari nilai kontrak itu untuk ketua panita, bupati,” terangnya.

Masih dalam kesaksian Ribut, pada akhir 2011, ada pertemuan di sebuah hotel di Jakarta. Pertemuan itu dengan pihak kontraktor yang direkomendasikan untuk proyek multiyears tersebut.

“Pertemuan itu inisiatifnya Pak Nasir (terdakwa). Yang hadir bupati, Nasir, saya, Viktor, Aan, Ismail dan Kukuh. Tidak ada pembahasan, hanya perkenalan saja. Untuk meyakinkan para pihak yang direkomendasikan untuk mengerjakan proyek itu,” ujarnya.

Dilanjutkannya, dalam perjalanannya, PT MKS milik Ismail tidak memenangi salah satu proyek multiyears itu. Akan tetapi dalam hal ini, Ismail ada kontribusinya.

“Nilainya Rp1,3 miliar. Rp1 miliar untuk beli apartemen di Jakarta, untuk bupati. Rp300 juta untuk acara syukuran dengan bupati. Tapi uang ini semuanya melalui Aan. Terkait uang ini, antara saya dengan Ismail tidak ada hubungan,” lanjutnya.

Masih dalam kesaksiannya, pada tahun 2012, tepatnya seminggu sebelum pengumuman, Ribut mengaku memberikan uang ke M Nasir sebanyak Rp2 miliar dalam bentuk dollar Amerika Serikat.

“Uang itu saya bungkus pakai kertas. Saat itu Nasir ke rumah saya yang di Pekanbaru. Uang itu dari Multi Struktur dan Wasko,” ungkapnya.

“Kemudian Rp4 miliar ke Jamal, itu dua kali. Untuk pengesahan APBD 2012 dan 2013. Saya kasi sebelum ketuk palu,” sambungnya.

Terkait dengan kesaksian Ribut ini, terdakwa M Nasir tidak membenarkan pengakuan Ribut. Yang mana, M Nasir mengaku tahun 2011 belum di Kabupaten Bengkalis.

“Saya (tahun) 2011 belum di Bengkalis. 2011 saya masih di Tembilahan,” ucapnya.

Terkait pengakuan M Nasir itu, Ribut menanggapinya. Dalam tanggapannya, Ribut mengatakan lupa waktu. Akan tetapi kejadian yang telah disampaikannya dalam bersaksi, benar adanya. “Waktu saya lupa, tapi kejadian ada,” tanggapnya.

Tidak sampai di situ, M Nasir juga membantah telah menerima uang dari Multi Struktur sebanyak Rp1 miliar dalam bentuk dollar Amerika Serikat, yang diambilnya melalui Ribut. “Tidak ada saya terima uang itu,” ucap M Nasir.

Menanggapi hal ini, lagi-lagi Ribut menjawabnya dengan tenang. “Hanya Allah yang tahu,” tanggapnya lagi.

Untuk diketahui, dalam perkara ini ada seorang terdakwa lainnya. Dia adalah Hobby Siregar, Direktur PT Mawatindo Road Construction (MRC). PT MRC merupakan pihak rekanan yang mengerjakan proyek tersebut. =MX10



Berita Terkait

Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook