Sorotan YLKI: Bom Waktu Penyakit Kanker

Senin, 03 Juni 2019 - 01:10 WIB   [169 Klik]
Redaktur : Oce E Satria

Sorotan YLKI: Bom Waktu Penyakit Kanker

Mantan Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono saat mendampingi Ibu Ani Yudhoyono yang dirawat di rumah sakit NUH Singapura.

KORANMX.COM, JAKARTA -- Wafatnya Ani Yudhoyono karena serangan kanker darah, Harusnya memberi warning kepada pemerintah Indonesia bahwa betapa pentingnya perhatian bagi upaya melawan penyakit kanker!

Hal tersebut diingatkan Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) melalui rilis Ketua Pengurus Harian,Tulus Abadi yang diterima koranmx.com, Ahad (2/6/2019).

"Beberapa hari lalu kita juga kehilangan Ustadz Arifin Ilham, juga karena kanker," ujarnya.

Kasus ini menurutnya harus  diperhatikan secara seksama, bahwa potensi penyakit kanker di Indonesia sangatlah tinggi dan malah mengalami peningkatan prevalensinya dalam lima tahun terakhir.  

"Lihatlah faktanya, jika pada hasil Riskesdas 2013 prevalensi penyakit kanker hanya 1,4 persen saja. Namun tragisnya pada hasil Riskesdas 2018, prevalensi penyakit kanker malah naik menjadi 1,8 persen! Jadi, ada bom waktu yang mengerikan terkait penyakit kanker di Indonesia," katanya.

Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) adalah salah satu riset skala nasional yang berbasis komunitas dan telah dilaksanakan secara berkala oleh Badan Litbangkes Kemenkes RI, yang hasilnya telah banyak dimanfaatkan untuk tujuan perencanaan, pemantauan, dan evaluasi program pembangunan kesehatan baik di tingkat nasional, provinsi maupun kabupaten/kota.

Dalam data Riskesdas 2018, prevalensi penyakit tidak menular (PTM) mengalami kenaikan jika dibandingkan dengan Riskesdas 2013, antara lain kanker, stroke, penyakit ginjal kronis, diabetes melitus, dan hipertensi.

Prevalensi kanker naik dari 1.4% (Riskesdas 2013) menjadi 1,8%. Lalu, prevalensi stroke naik dari 7% menjadi 10.9%, dan penyakit ginjal kronik naik dari 2% menjadi 3,8%. Berdasarkan pemeriksaan gula darah, diabetes melitus naik dari 6.9% menjadi 8.5%; dan hasil pengukuran tekanan darah, hipertensi naik dari 25.8% menjadi 34.1%.

Kenaikan prevalensi penyakit tidak menular ini berhubungan dengan pola hidup antara lain merokok, konsumsi minuman beralkohol, aktivitas fisik, serta konsumsi buah dan sayur.

BERITA TERKAIT:

Sederet Tokoh dan Seleb yang Meninggal Karena Kanker

Diingatkan Tulus, fakta tersebut adalah  bukti bahwa masih ada masalah serius terkait perilaku hidup sehat masyarakat, dan arah kebijakan kesehatan yang belum menyentuh hulu persoalan. Kalau arah kebijakan pembangunan kesehatan itu benar, katanya, maka seharusnya prevalensi penyakit menular itu turun, bukan malah naik. Termasuk prevalensi penyakit kanker.

"Oleh karena itu, YLKI mendesak pemerintah untuk fokus pembangunan kesehatan untuk menekan tumbuh kembangnya penyakit tidak menular," tegasnya.

Yang tak kalah penting dipikirkan kata Tulus, adalah data dan fakta menunjukkan terbukti penyakit jenis ini menjadi benalu yang paling dominan bagi financial deficit  BPJS Kesehatan.

"Jika kebijakan pemerintah tidak mendukung untuk menekan wabah penyakit tidak menular, maka prevalensi penyakit tidak menular seperti kanker, hanyalah bom waktu saja. Bom waktu bagi generasi emas yang digadang gadang oleh pemerintah, dan kita semua," tandasnya. ***



Berita Terkait

Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook