Dakwaan Empat Tersangka Kredit Fiktif BRK Ditargetkan Bulan Juni

Minggu, 16 Juni 2019 - 15:39 WIB   [13 Klik]

Dakwaan Empat Tersangka Kredit Fiktif BRK Ditargetkan Bulan Juni


PEKANBARU—Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Tinggi (Kejati) Riau belum merampungkan isi dakwaan empat tersangka dugaan korupsi kredit fiktif di Bank Riau Kepri (BRK) Cabang Pembantu (Capem) Dalu-dalu, Rokan Hulu (Rohul). Saat ini dakwaannya tengah disusun.

“Belum rampung, masih disusun sama JPU-nya,” ucap Kepala Seksi (Kasi) Penerangan Hukum (Penkum) dan Hubungan Masyarakat (Humas) Kejati Riau Muspidauan SH MH saat dikonfirmasi Pekanbaru MX, Ahad (16/6).

Empat calon terdalwa dalam kasus ini yakni mantan Kepala BRK Capem Dalu-dalu Ardinol Amir dan tiga analis kredit Zaiful Yusri, Syafrizal dan Heri Aulia.

Terkait dengan target rampungnya dakwaan, mantan Kasi Perdata dan Tata Usaha Negara (Datun) Kejaksaan Negeri (Kejari) Pekanbaru ini mengatakan, akan secepatnya dilimpahkan ke Pengadilan Tipikor pada Pengadilan Negeri Pekanbaru. “Target bulan ini sudah dilimpahkan (ke pengadilan). Nanti kalau sudah siap (dakwaannya), kita kabarin,” lanjutnya.

Dalam perkara ini, terdapat satu nama lagi yang juga ditetapkan sebagai tersangka. Dia adalah Muhammad Dhuha. Terhadap berkas perkaranya, telah dikembalikan lagi oleh jaksa peneliti ke pihak penyidik.

Diyakini, pengembalian itu terkait dengan kondisi M Dhuha yang saat ini mengalami gangguan jiwa berat. Saat ini, penyidik masih menunggu petunjuk yang diberikan jaksa peneliti terkait kelanjutan perkara M Dhuha.

Perbuatan para tersangka terjadi dalam rentang waktu 2010 hingga 2014. Di mana kredit berupa kredit umum perorangan itu dicairkan sekitar Rp43 miliar kepada 110 orang debitur. Umumnya para debitur itu hanya dipakai nama dengan meminjam Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan Kartu Keluarga (KK).

Sejumlah debitur ada yang dijanjikan plasma atau pola kerja sama dalam pembentukan kebun kelapa sawit. Hal itu dilakukan karena ada hubungan baik antara debitur dengan Kacapem BRK Dalu-dalu saat itu.

Kenyataanya, para debitur tidak menerima pencairan kredit. Mereka hanya menerima sekitar Rp100 ribu hingga Rp500 ribu karena telah meminjamkan KTP dan KK guna pencairan kredit. Kuat dugaan ada oknum BRK yang menggunakan nama para debitur untuk pengajuan kredit.

Saat pihak bank melakukan penagihan, baru diketahui bahwa sebagian besar debitur tidak pernah mengajukan dan menerima pencairan kredit. Kerugian negara diduga mencapai Rp32 miliar yang sejauh ini diketahui belum ada pengembalian kerugian negara. =MX10



Berita Terkait

Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook