Soal Uang Pengganti, Jaksa Pikir-Pikir

3 Terdakwa Korupsi Pipa Transmisi Divonis Berbeda

Selasa, 18 Juni 2019 - 16:06 WIB   [44 Klik]

3 Terdakwa Korupsi Pipa Transmisi Divonis Berbeda

TIGA terdakwa korupsi pipa transmisi di Inhil mendengarkan pembacaan vonis majelis hakim.

PEKANBARU—Majelis hakim Pengadilan Tipikor pada Pengadilan Negeri Pekanbaru menyatakan bahwa tiga terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan telah melakukan korupsi dalam proyek pengadaan pipa transmisi di Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) yang merugikan negara Rp2,6 miliar.

Tiga terdakwa yang dimaksud yakni Direktur PT Panatori Raja Sabar Stevanus P Simalongo, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Edi Mufti BE dan konsultan pengawas proyek Syahrizal Taher.

“Menyatakan ketiga terdakwa terbukti bersalah dan meyakinkan telah melanggar Pasal 2 ayat (1) jo Pasal 18 Undang-undang RI Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU RI Nomor 20 Tahun 2001 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 Ayat (1) ke- 1, sebagaimana dalam dakwaan primer Jaksa Penuntut Umum (JPU),” ucap majelis hakim yang dipimpin oleh Mahyuddin SH MH, Selasa (18/6) siang.

Terdakwa Edi Mufti BE dan Sabar Stevanus, divonis pidana penjara masing-masing selama 5 tahun dan denda Rp200 juta atau subsider 3 bulan kurungan.

“Terhadap terdakwa Sabar Stevanus, uang sebanyak Rp35 juta yang telah dititipkan ke penyidik (Polda Riau), dianggap sebagai uang pengganti (UP) kerugian negara,” ujar hakim ketua.

Dilanjutkannya, terhadap terdakwa Syahrizal Taher, majelis hakim sepakat memvonisnya dengan pidana penjara selama 4 tahun, denda Rp200 juta atau subsider 3 bulan kurungan. “Uang sebanyak Rp92.500.000 yang telah dititipkan ke penyidik, dianggap sebagai uang pengganti kerugian negara,” lanjutnya.

Atas vonis tersebut, terdakwa Syahrizal Taher menerimanya. Sedangkan terdakwa Edi Mufti dan Sabar Stevanus, menyatakan pikir-pikir selama 7 hari ke depan, apakah menerima vonis tersebut, atau menyatakan banding ke Pengadilan Tinggi Pekanbaru. JPU dari Kejari Inhil pun menyatakan pikir-pikir selama 7 hari ke depan.

Terkait dengan UP kerugian negara yang diberikan majelis hakim kepada terdakwa Sabar Stevanus, JPU akan melaporkannya ke Asisten Pidana Khusus (Aspidsus) Kejati Riau Subekhan SH MH. Hal tersebut dikarenakan, dalam tuntutan JPU, terdakwa Sabar Stevanus, dituntut UP kerugian negara sebanyak Rp2,5 miliar.

“Tuntutan kita kan kemarin itu UP untuk terdakwa Sabar kan sebanyak Rp2,5 miliar. Ini dalam vonis UP-nya menjadi Rp35 juta. Artinya tuntutan UP kita ditolak. Ini yang mau dilapor dulu ke Kejati (Riau).

Makanya kita pikir-pikir dulu. Langkah selanjutnya, tunggu arahan dari Aspidsus,” jawabnya.

Dalam tuntutan JPU, ketiga terdakwa dituntut berbeda. Sabar Stevanus P Simalongo, dituntut pidana penjara selama 6 tahun. Sabar Stevanus juga dituntut membayar denda Rp200 juta atau subsider 6 bulan kurungan.

Tidak sampai di situ, JPU juga menuntutnya untuk membayar UP kerugian negara sebesar Rp2,5 miliar. Jika tidak dibayarkan, maka harta benda miliknya disita dan dilelang untuk mengganti kerugian negara. Dan jika harta bendanya tidak mencukupi untuk menutupi kerugian negara, maka diganti dengan hukuman 2 tahun kurungan.

Sedangkan terhadap Edi Mufti, JPU menuntutnya dengan pidana penjara selama 4 tahun 6 bulan, denda Rp200 juta atau subsider 6 bulan.

Terakhir, untuk Syahrizal Taher, JPU menuntutnya dengan pidana penjara selama 4 tahun, denda Rp200 juta atau subsider 6 bulan kurungan. Syahrizal, juga dituntut untuk membayar UP kerugian negara sebesar Rp92.500.000. Uang sebanyak Rp92.500.000 itu, telah dititipkannya ke kejaksaan, dan dianggap sebagai pengganti kerugian negara. =MX10



Berita Terkait

Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook