Perusahaannya Dipakai untuk Makan Minum

Direktur CV Giovani Ngaku Tak Tahu

Rabu, 10 Juli 2019 - 01:12 WIB   [39 Klik]

PEKANBARU—Kejaksaan Tinggi (Kejati) Riau memeriksa Direktur CV Giofani Juliana, Selasa (9/7). Juliana diperiksa untuk dimintai keterangannya sebagai saksi dalam dugaan korupsi dana hibah penelitian tahun 2011-2012 di Universitas Islam Riau (UIR).

Berdasarkan informasi yang dirangkum, Juliana datang ke Kantor Kejati Riau di Jalan Arifin Achmad sekitar pukul 09.00 WIB. Dia langsung menuju ruang penyidik untuk memberikan kesaksiannya.

Kepala Seksi (Kasi) Penerangan Hukum (Penkum) dan Humas Kejati Riau Muspidauan SH MH membenarkan pemanggilan saksi terkait perkara dugaan korupsi dana hibah di UIR. “Kami memanggil sejumlah saksi untuk dimintai keterangan,” ujar Muspidauan.

Selain Juliana, Kejati juga memanggil tiga saksi lain. Mereka adalah Zul Efendi selaku tenaga ahli dan dua pegawai UIR Mawan dan Tengku Edianto.

Pemeriksaan terhadap keempat orang tersebut, dilakukan secara terpisah, untuk melengkapi berkas tersangka Abdullah Sulaiman, mantan Pembantu Rektor IV UIR. “Pemeriksaan untuk berkas perkara tersangka AS,” terang Muspidauan.

Juliana yang ditemui di sela-sela pemeriksaan tidak menampik kalau dirinya dari CV Giofani. “Dari CV Giofani, bergerak di bidang makan minum,” kata Juliana yang menjabat Direktur CV Giofani.
Juliana menyebutkan, dirinya diperiksa karena CV Giofani digunakan dalam proyek dana hibah di UIR. Sementara, dia tidak mengetahui kalau perusahaannya digunakan. “Perusahaan dipakai tapi saya tidak tahu,” ucap Juliana.

Penanganan perkara ini merupakan kelanjutan dari perkara yang pernah disidik Kejaksaan Tinggi (Kejati) Riau pada tahun 2015 lalu. Saat itu, dua orang sudah dinyatakan bersalah di persidangan. Mereka yaitu Emrizal selaku bendahara penelitian dan Said Fhazli selaku sekretaris panitia yang juga menjabat Direktur CV Global Energy Enterprise (GEE). Keduanya divonis masing-masing 4 tahun penjara.

Dalam perkara ini, Juliana mengaku pernah diperiksa penyidik saat proses penyidikan terhadap Emrizal dan Said Fhazli saat masih berstatus tersangka. “Dulu pernah,” kata Juliana.
Dalam proses penyelidikan lanjutan ini, sebanyak 12 orang telah diundang untuk diklarifikasi. Di antaranya, mantan Wali Kota Dumai Wan Syamsir Yus yang saat itu menjabat Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Riau.

Berikutnya mantan Kepala Bagian (Kabag) Tata Usaha (TU) di Biro Umum Sekretariat Daerah (Setda) Provinsi Riau Taufik dan Rektor UIR Detry Karya serta dua terpidana, Emrizal dan Said Fhazli.
Korupsi bantuan dana hibah tahun 2011 hingga 2012, terjadi ketika pihak UIR mengadakan penilitian bersama Institut Alam dan Tamandun Melayu, Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM). Lantaran tidak memiliki dana, UIR kemudian mengajukan bantuan dana ke Pemprov Riau dan mendapat dana Rp2,8 miliar yang bersumber dari APBD Provinsi Riau tahun 2011-2012.

Penelitian itu dilaksanakan dan berjalan dengan lancar. Dalam laporannya, terjadi penyimpangan bantuan dana tersebut. Ditemukan beberapa item penelitian yang sengaja di-mark up. Kedua terdakwa, Emrizal dan Said Fhazli, membuat laporan dan bukti pertanggungjawaban fiktif atas kegiatan yang direncanakan.

Emrizal mencairkan anggaran dan meminta terdakwa Said Fhazli membuat laporan pertanggungjawaban (LPJ) kegiatan dengan mencari bukti-bukti penggunaan kegiatan, seolah-olah kegiatan telah dilaksanakan. Hasil audit Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Perwakilan Riau ditemukan kerugian negara Rp1,5 miliar. =MX10



Berita Terkait

Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook