Penyebab Anjloknya Harga Kelapa Sawit

Banyak Perusahaan Kelapa Sawit Tak Punya ISPO

Kamis, 11 Juli 2019 - 15:55 WIB   [50 Klik]

Banyak Perusahaan Kelapa Sawit Tak Punya ISPO


DINAS Peternakan dan perkebunan (Disnakbun) Kabupaten Rokan Hulu (Rohul) angkat bicara terkait anjloknya harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di Kabupaten Rohul.

Umumnya, yang mesakan dampak dari anjloknya harga TBS kelapa sawit ini adalah petani kelapa sawit dengan status kebun pribadi.

Plt Kepala Dinas Peternakan dan Perkebunan (Disnakbun) Rohul Ir Sri Hardono MM mengatakan, berdasarkan penetapan harga TBS yang ditetapkan bersama tim penetapan harga TBS kelapa sawit Provinsi Riau.

Diketahui, untuk periode 10 hingga 16 Juli 2019 penurunan harga sawit tidak terlalu signifikan yakni sekitar Rp 32,41/kg untuk umur 10-20 tahun.

Dan harga yang ditetapkan tersebut, menjadi standar harga pembelian TBS di seluruh perusahaan kelapa sawit (PKS) di Riau.

Terlapas dari adanya ketetapan harga tersebut, fakta di lapangan menunjukan, masih banyak petani sawit di Rohul yang mengeluhkan murahnya harga TBS yang bahkan telah menyentuh harga terendah yakni diantara Rp500 hingga Rp700 perperkilonya.

Menanggapi hal itu, Sri Hardono menjelaskan, harga TBS yang hanya berkisar Rp500 sampai Ro700 rupiah perkilo itu umumnya dirasakan petani berstatus kebun pribadi, bukan kerjasama dengan perusahaan.

Sri Hardono menyebut, ada 3 faktor yang mempengaruhi anjloknya harga TBS kebun pribadi, seperti rendahnya rendemin TBS karena perawatan yang tidak sesuai standar, kemudian, adanya biaya lansir karena lokasi kebun yang jauh dan menjual kepada pengepul yang pastinya harganya di bawah harga pabrik.

“Karena panjangnya alur distribusi inilah menyebab biaya yang dikeluarkan petani untuk menjual ke pabrik pun semakin besar sehingga berdampak kepada harga jual TBS itu sendiri,” kata Sri Hardono, Rabu (10/7).

Untuk itu Sri Hardono menyarankan kedepan para petani kebun pribadi agar dapat mengurus Surat Tanda Daftar Perkebunan (STDP) agar bisa menjual TBS ke pabrik dan pabrik tidak bisa menekan harga.

Meski demikian, sambung Sri Hardono, secara global harga TBS mengalami penurunan. Hal tersebut disebabkan karena anjloknya harga crude palm oil (CPO) khusunya CPO yang berasal dari Indonesia.  

Diterangkanya Sri Hardono, ada beberapa penyebab anjloknya harga CPO dari Indonesia, salah satunya banyaknya perusahaan, khususnya di Rohul yang belum memiliki Sertifikat Indonesian Sustainable Palm Oil System (ISPO) sebagai standarisasi tata kelola sawit berkelanjutan.

Dalam ISPO ini, diatur tata kelola usaha perkebunan sawit yang menjamin produksi tetap mengedepankan aspek-aspek lingkungan seperti tidak berada di kawasan hutan, pembukaan lahan yang ramah lingkungan dan tidak dilakukan dengan cara membakar dan lain sebagainya.

“Di luar negeri itu konsumen selalu menanyakan legalitas CPOnya resmi nggak ini. Kalau nggak legal mereka tak mau beli. Nah ISPO ini semacam bukti, tapi faktanya, di Rohul saja, hanya beberapa perusahaan yang punya ISPO.

Yang tak punya ISPO jual CPO-nya ke perushaaan yang punya ISPO dengan harga murah. Ujung-ujungnya perusahaan yang tak punya ISPO ini tekan harga TBS,” tutup Sri hardono. ***

 



Berita Terkait

Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook