4000 Ha Lahan TORA Jadi Pilot Uji Tanaman Komoditi Ramah Gambut

Kamis, 11 Juli 2019 - 21:40 WIB   [48 Klik]
Reporter : Fanny Rizano
Redaktur : Raja Mirza

4000 Ha Lahan TORA Jadi Pilot Uji Tanaman Komoditi Ramah Gambut

Wakil Gubernur Riau, Edy Natar Nasution bersama Kepala BRG, Nazir Foead meninjau sekat kanal di Siak Kecil, Bengkalis

 

​​KORANMX.COM, PEKANBARU--Kepala Badan Restorasi Gambut (BRG) Nazir Foead, bersama Wakil Gubernur Riau, Edy Natar Nasution dan Bupati Siak, Alfedri, menggelar pertemuan di Kantor Bupati Siak, Selasa (9/7/2019).

Pertemuan itu membahas persiapan pilot uji penanaman komoditi ramah gambut pada tanah objek reforma agraria (TORA), yang ada di Kabupaten Siak.

Usai pertemuan tersebut, orang nomor satu di BRG tersebut, ‎merasa optimis bahwa program yang akan diterapkan dari hasil penelitian pihaknya, bakal berdampak positif bagi daerah, dalam berbagai aspek.

"Ini salah satu kontribusi BRG di Kabupaten Siak. Dengan penanaman komoditi ramah gambut di lahan TORA, akan meningkatkan perekonomian masyarakat. Sekaligus efektif sekali dalam mencegah kebakaran lahan dan hutan (Karhutla) di lahan gambut," ucap Nazir Foead usai pertemuan.

"Dengan pembudidayaan ini maka akan meningkatkan produktivitas, menaikkan ekonomi masyarakat (petani) dan lahan gambut terjaga dari Karhutla. Kita yakin ini bisa 100 persen mengantisipasi kebakaran lahan," sambungnya.‎

Diterangnya, dengan penanaman komoditi ramah gambut di kawasan TORA itu, membuat lahan yang akan digunakan lebih produktif dan terjaga.

"Apalagi pengolahan lahannya tanpa bakar, tata air dijaga karena ada alat ukur. Sekat kanal serta sumur bor yang kita punya pasti kelembapan gambut terjaga dan produktivitasnya tinggi. Yang pasti, Petani akan menjaga kawasan mereka dan tak ingin terbakar," optimisnya.

Dilanjutkannya, kawasan TORA di Siak akan ditanam komoditi ramah gambut, seperti kayu-kayuan berupa Mahang, Belangiran dan Meranti. Tidak hanya itu, tanaman musiman yang bisa menghasilkan cepat seperti nanas, jahe, lidah buaya, hingga jenis buahan semisal kelapa dan kopi, juga akan ditanami di kawasan TORA.

"Jadi kawasan TORA ini luasnya ada 4000 hektar. Ini yang nantinya ditanami tanaman komoditi ramah gambut, seperti kayu-kayuan dan buah-buahan," lanjutnya.

Pemprov dan Pemkab Dukung Penuh 

Wakil Gubernur Riau, Edy Natar Nasution menyambut positif rencana BRG terkait program tanaman komoditi ramah gambut di kawasan TORA tersebut. Bahkan, purnawirawan TNI ini pun memberi sinyal akan menerapkan hal serupa di kabupaten lainnya.

"Siak jadi ujicoba, dan jika ini berjalan sukses, tentunya akan menjadi barometer untuk daerah lain. Nah peluang ini yang kita tangkap. Tentunya kita mendukung program BRG, tidak hanya di Siak namun juga daerah lain di Riau. Kalau perlu semua daerah di Riau kita terapkan," terangnya.

Hal yang sama juga disampaikan oleh Bupati Siak, Alfedri. Secara pribadi, dirinya mengapresiasi langkah penerapan program BRG tersebut. Apalagi selama ini wilayahnya aman dari Karhutla atas dukungan berbagai program BRG tersebut.

"Nantinya secara bertahap akan dijalankan program penanaman komoditi ramah gambut ini," ucapnya.

Buat Sekat Kanal Untuk Cegah Karhutla

Usai menggelar pertemuan di Kantor Bupati Siak, rombongan Kepala BRG bersama Wakil Gubernur Riau melanjuti perjalanannya ke Kecamatan Siak Kecil, Kabupaten Bengkalis, tepatnya di Desa Sadar Jaya.‎

Disana, mereka langsung melihat Pembangunan Infrastruktur Pembasahan Gambut (PIPG), berupa sekat kanal hingga sumur bor. Dalam Program PIPG itu, BRG menggandeng masyarakat untuk bersama-sama membangun, menjaga dan menjamin agar Karhutla tak terulang lagi.

"Sebelum ada sekat kanal disini, tiap tahun terjadi Karhutla. Pada 2018 dibangun sekat kanal, ada 29 titik dibuat dan tersebar di lima dusun. Pembangunannya dari BRG dan pelaksanaannya dari Pokmas (masyarakat setempat)," ucap Kepala Desa (Kades) Sadar Jaya Selamet Widodo.‎

Sekat kanal itu memberi dampak besar. Tidak hanya menjadi sumber air saat desa dilanda kemarau, namun juga membuat gambut tetap basah, sehingga tidak mudah terbakar.‎

"Polanya begini, ketika volume air tinggi misalnya saat musim hujan, sekat kanal akan membuang air sesuai ketinggiannya. Jika (musim) kemarau, akan otomatis menahan air, sehingga lahan di sekitar tetap basah (lembab). Saat kemarau, sekat kanal menjadi penolong kami karena menjadi sumber air," terangnya.‎

Sementara itu, Ketua Kelompok Masyarakat (Pokmas) Amanah Sadar Jaya, Jundan Suanto mengatakan, sebelum ada sekat kanal, sering terjadi Karhutla.‎

"Itu luasannya jika terbakar bisa mencapai 10 hektar. Semenjak ada sekat kanal ini, Karhutla 99 persen berkurang," ucapnya dengan berharap agar BRG menambah jumlah sekat kanal.

Menanggapi hal itu, Nazir Foead berjanji akan terus menambah sekat kanal serta sumur bor di daerah yang rawan terjadi Karhutla.

"Nah, tempatnya tergantung analisis dan kajian, area yang pernah terbakar dan mudah terbakar," tanggapnya.‎

Program BRG Jadi Sumber Baru Mata Pencaharian Masyarakat

Selain PIPG, BRG juga memberikan alternatif kepada masyarakat Desa Sadar Jaya untuk menciptakan sumber mata pencarian yang baru. Yang mana, BRG merevitalisasi ekonomi masyarakat dengan menggandeng Pokmas lewat program beternak sapi.

"Ya selain bisa dijual, kotoran sapi juga bisa dimanfaatkan sebagai pupuk alami untuk perkebunan masyarakat setempat," ucap Kades.

"Jadi manfaatnya banyak program beternak sapi ini. Ini jadi sumber mata pencarian masyarakat yang baru," pungkasnya. (***) 

 



Berita Terkait

Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook