Dugaan Kredit Fiktif Rp 7,2 M

Eks Kacab BRI Ujung Batu Diklarifikasi

Rabu, 07 Agustus 2019 - 19:15 WIB   [94 Klik]
Reporter : Fanny Rizano
Redaktur : Raja Mirza

Eks Kacab BRI Ujung Batu Diklarifikasi

Kasipenkum, Muspidauan SH MH

KORANMX.COM, PEKANBARU--Rusdi diklarifikasi oleh Jaksa Penyelidik pada bidang Pidana Khusus (Pidsus) di Kejaksaan Tinggi (Kejati) Riau, Selasa (6/8/2019). 

Klarifikasi terhadap Rusdi itu, dalam rangka penyelidikan dugaan kredit fiktif senilai Rp7,2 miliar di Bank Rakyat Indonesia (BRI) Cabang Ujung Batu, Rokan Hulu (Rohul). 

Saat itu Rusdi menjabat sebagai Kepala Cabang (Kacab) di bank milik pemerintah itu. 

Kepala Seksi (Kasi) Penerangan Hukum (Penkum) dan Hubungan Masyarakat (Humas) Kejati Riau, Muspidauan SH MH saat dikonfirmasi tidak menampik adanya proses klarifikasi terhadap Rusdi. Menurutnya, itu dilakukan guna pengusutan perkara yang terjadi tahun 2017-2018 lalu.

"Ini sifatnya masih klarifikasi, bagian dari penyelidikan," ujar Muspidauan di ruang kerjanya. 

Proses klarifikasi tersebut kata dia telah dilakukan dalam beberapa hari terakhir. Permintaan keterangan itu untuk pengumpulan bahan dan keterangan (Pulbaket).

"Pihak-pihak yang diduga mengetahui perkara itu pasti akan dipanggil. Namun itu tergantung kebutuhan (Jaksa) Penyelidik," kata mantan Kasi Perdata dan Tata Usaha Negara (Datun) Kejaksaan Negeri (Kejari) Pekanbaru itu.

Pengusutan perkara itu dilakukan berdasarkan laporan manejemen BRI ke Kejati Riau beberapa waktu lalu. Atas hal itu, Kejati Riau itu langsung menerbitkan surat perintah penyelidikan (sprindik). 

Menindaklanjuti sprindik itu, Korps Adhyaksa Riau mengundang sejumlah pihak untuk diklarifikasi. Termasuk memanggil belasan orang yang namanya tercatat sebagai nasabah di bank plat merah itu. 

Dari keterangannya, diketahui masing-masing mereka meminjam uang senilai Rp500 juta. Namun yang mereka terima tidak sebanyak itu, melainkan bervariasi sekitar Rp3 juta hingga Rp4 juta perorang.

Dalam pengajuan kredit saat itu, mereka didatangi oleh seseorang warga yang bernama Sudir. Lalu, Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan Kartu Keluarga (KK) milik mereka dipinjam sebagai syarat untuk pengajuan kredit.

Kredit yang diajukan untuk membuka veron atau tempat penyimpanan sementara tandan buah sawit. Meski begitu, para nasabah itu tidak mengetahui agunan dalam pengajuan kredit tersebut. Begitu juga dengan pembayaran kredit.

Dari informasi yang dihimpun, kredit yang dicairkan mengalami macet. Belakangan, pihak bank diketahui sulit untuk eksekusi terhadap agunan, karena diduga fiktif. (***) 



Berita Terkait

Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook