Soal Disertasi Kontroversial, Rocky Gerung Nilai Abdul Azis Bukan Intelektual

Sabtu, 07 September 2019 - 09:17 WIB   [860 Klik]
Redaktur : Oce E Satria

Soal Disertasi Kontroversial, Rocky Gerung Nilai Abdul Azis Bukan Intelektual


KORANMX.COM, JAKARTA -- -Menurut Mantan Dosen Filsafat Universitas Indonesia (UI), Rocky Gerung perdebatan soal agama memang kerap menuai kontroversi karena menyangkut ideologi.

Hal itu dikatakannya menanggapi kontroversi disertasi Mahasiswa Pascasarjana IAIN Yogyakarta Abdul Aziz tentang Seks Nonmarital atau Seks Halal di Luar Nikah.

Disertasi tersebut menuai kehebohan di ruang publik. Banyak yang geram dengan pemikiran Abdul Azis yang dianggap ingin melegalkan perzinahan

Protes dan kecaman dari berbagai pihak, termasuk dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) akhirnya memaksa Abdul Aziz akhirnya meminta maaf karena karya akademiknya menuai heboh.

Namun keputusan Abdul Aziz meminta maaf justru dikritik filsuf Rocky Gerung (RG).

Meski mengaku tidak tahu mengapa penelitian Abdul Aziz itu menjadi kontroversi,
RG justru menilai Abdul Aziz  tak perlu meminta maaf.

"Kan pengujinya akan tersinggung. Diluluskan kok minta maaf?" kata RG dalam talkshow Kupas Tuntas CNN, Jumat malam.

Menurut dia disertasi itu tak dibatalkan oleh pengujinya, tapi dibatalkan oleh kemarahan publik.  Yang terjadi saat ini kata Rocky, Abdul Aziz justru membatalkan hasil ujiannya sendiri.

Kasus seperti Itu sebutnya, memang sudah jadi problem dalam ilmu pengetahuan.

"Saya justru menganggap bahwa saudara Abdul Aziz bukan seorang intelektual," terang Rocky.

Akan lain halnya, kata Rocky, jika Abdul Aziz minta maaf dengan alasan ada kontradiksi internal. "Jika ada kesalahan dalam metodologi penelitiannya," ucapnya.

Diakuinya, ruang debat di publik tidak terlalu menggembirakan. Yang ada justru marah-marah. Rocky melontarkan sindiran.

"Dalam situasi sekarang satu-satu tempat kita marah-marah adalah soal agama. Karena soal lain kita sudah tak bisa marah-marah," katanya.

Ganti Judul

Abdul Azis sendiri rencananya
akan mengganti judul disertasinya menjadi 'Problematika Konsep Milk al-Yamin dalam Pemikiran Muhammad Syahrur'.

"Berdasarkan arahan penguji dan promotor," kata dosen yang menempuh program doktoral Interdisciplinary Islamic Studies di Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, itu.

Sebelumnya disertasi yang diluluskan penguji adalah 'Konsep Milk al-Yamin Muhammad Syahrur sebagai Keabsahan Hubungan Seksual Nonmarital'.

Penguji meminta Aziz  memperluas kajiannya pada bagian kritik kepada Syahrur yakni menekankan pada subjektivitas Syahrur dalam membuat pandangan tersebut.

Muhammad SyaŠł•rur merupakan seorang pemikir kelahiran Syria (Suriah) yang dapat digolongkan sebagai pemikir berhaluan liberal.

Syahrur, sering pula ditulis Muhammad Shahrour, dilahirkan di Damaskus, Suriah, tanggal 11 April 1938. Ia menuntaskan pendidikan dasar dan menengah di kampung halamannya sebelum hijrah ke Moskow, Rusia, pada 1957 untuk menempuh studi teknik sipil berkat beasiswa dari pemerintah Suriah.

Syahrur tidak bergabung dengan kelompok Islam manapun. Ia juga tak pernah menempuh pelatihan resmi atau memperoleh sertifikat dalam ilmu-ilmu keislaman. Namun, Syahrur adalah profesor (emeritus) Universitas Damaskus di bidang Teknik Sipil yang sering menulis tentang Islam.

Beberapa karya Syahrur memantik kontroversi di dunia Islam, bahkan dilarang beredar di sejumlah negara. ***



Berita Terkait

Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook