Tujuh Colon Kades di Meranti Menggugat

Minggu, 08 September 2019 - 16:09 WIB   [50 Klik]

Tujuh Colon Kades  di Meranti Menggugat

Proses sidang pleno pemilihan suara Pilkades Nipah Sendanu.

MERANTI--Perebutan tampuk kepemimpinan desa di Kabupaten Kepulauan Meranti semakin memanas. Bahkan, 7 dari 48 desa yang menggelar pesta demokrasi serentak, melakukan gugatan kepada panitia pemilihan kabupaten.

Berdasarkan data yang diperoleh Pekanbaru MX, ke tujuh calon kades yang menggugat tersebut di antaranya dari Desa Mantiasa, Mengkopot, Kuala Merbau, Batang Meranti, Kepau Baru, Sendanu Darul Ihsan, dan Desa Nipah Sendanu.

Gugatan dilakukan setelah sempat terjadi kericuhan pada sidang pleno sebelumnya di tingkat desa.

Seperti kericuhan yang terjadi pada sidang pleno rekapitulasi suara di Desa Nipah Sendanu, Kecamatan Tebingtinggi Timur pada 28 Agustus lalu.

Mengingat suasana tidak kondusif, akhirnya sidang pun  ditunda pelaksanaannya. Bahkan, sidang lanjutan terpaksa dilakukan di Kota Selatpanjang, Kecamatan Tebingtinggi, Sabtu (7/9).

Pantauan di lapangan, sidang pleno lanjutan tersebut berlangsung di Gedung Darma Wanita Selatpanjang. Proses sidang juga dijaga ketat puluhan personel Polsek Tebingtinggi yang dipimpin langsung Kapolsek Iptu Aguslan.

Pada sidang lanjutan tersebut diagendakan pembacaan hasil rekapitulasi, namun penggugat bersikeras meminta kepada ketua panitia untuk mengesahkan surat suara yang sebelumnya dibatalkan oleh KPPS. Juliadi yang membawa dua kuasa hukumnya sempat meminta kepada panitia agar kuasa hukumnya bicara. Namun, hal itu tidak dibenarkan panitia.

Informasi yang diperoleh, kericuhan saat sidang pleno beberapa waktu lalu berawal saat penghitungan di TPS.

Dari penghitungan suara yang dilakukan, calon nomor urut 1 atas nama Kasino menang dengan perolehan suara 321, sementara calon petahana dengan nonor urut 2 atas nama Juliadi mendapatkan 320 suara.

Kenyataan itu malah membuat Juliadi keberatan. Dia mengklaim bahwa ada satu suaranya yang dibatalkan oleh KPPS karena dinilai tidak sah.

Surat suara tersebut dinilai tidak sah karena dicoblos berbentuk love. Sementara panitia menilai bahwa bentuk tersebut tidak dicoblos dengan alat yang disediakan panitia, melainkan memakai alat yang dibawa sendiri oleh pemilih.

“Kejadian itu berawal saat penghitungan surat suara di TPS 02. Saat itu panitia menemukan lobang besar berbentuk love pada kertas suara,’’ kata salah seorang panitia yang tidak ingin namanya disebutkan.

Kemudian tambahnya, setelah dirinya perlihatkan kepada saksi nomor 1 dan 2, lalu dia tanyakan apakah ini sah atau tidak. ‘’Kemudian kami meminta asumsi kepada masyarakat,” tuturnya.

Ternyata masyarakat Nipah Sendanu yang hadir saat itu, juga punya pandangan berbeda. Sebagian besar di antara mereka menilai tidak sah.

Dari pendapat itulah akhirnya panitia membuat kesimpulan bahwa suara tersebut tidak sah. Sejak itulah kericuhan mulai terjadi. Bahkan, saksi nomor urut 2 yang diminta panitia menandatangani berita acara langsung menolaknya.

Berbeda dengan sikap Kasino. Dia terus meminta untuk melanjutkan sidang pleno agar gugatan yang ada bisa segera diselesaikan setelah itu. Namun, permintaannya tidak disetujui.

Sidang pleno akhirnya menemui jalan buntu dan terpaksa diskor hingga dua kali.***



Berita Terkait

Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook