Audisi Umum Beasiswa Bulu Tangkis Diprotes KPAI, PB Djarum "Ngambek"

Senin, 09 September 2019 - 09:20 WIB   [494 Klik]
Redaktur : Oce E Satria

 Audisi Umum Beasiswa Bulu Tangkis Diprotes KPAI, PB Djarum "Ngambek"

Chelsea Marvelyn, peserta Audisi Umum Beasiswa Bulutangkis 2019 asal Merauke. [Foto:pbdjarum.org]

KORANMX.COM, PURWOKERTO -- PB Djarum akhirnya mengambil langkah surut atas protes Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) bahwa ajang Audisi Umum Beasiswa Bulu Tangkis memanfaatkan anak-anak untuk mempromosikan merek Djarum yang identik dengan produk rokok.

PB Djarum pun memutuskan untuk meniadakan event Audisi Umum Beasiswa Bulu Tangkis tahun depan.

"Tahun ini merupakan tahun perpisahan dari kami. Tahun depan event audisi ditiadakan," ujar Direktur Program Bakti Olahraga Djarum Foundation, Yoppy Rosimin, saat konferensi pers di Hotel Aston Imperium, Purwokerto, Sabtu (7/9/2019).

Keputusan mengakhiri acara pencarian bibit-bibit pebulu tangkis di Indonesia tersebut terkait dengan klaim Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) bahwa ajang tersebut memanfaatkan anak-anak untuk mempromosikan merek Djarum yang identik dengan produk rokok.

Sebenarnya, kata Yoppy, pihaknya setakat ini sudah mengusulkan dua opsi jalan tengah. Maksudnya supaya  Audisi Umum Beasiswa Bulu Tangkis tetap berjalan. Diusulkan agar tidak ada nama "Djarum" untuk nama ivennya, termasuk pada jersey yang dipakai peserta.

"Mereka bisa memakai kaos yang dibawa sendiri," ujar Yoppy.

Sayangnya, kata. Yoppy, opsi tersebut ditolak KPAI. Pihak KPAI tetap bersikukuh meminta untuk meniadakan sama sekali brand Djarum.

Penolakan dan permintaan tersebut tidak bisa diterima pihak PB Djarum.

"Saya tidak bisa menghapus nama Djarum sama sekali. Wong ini juga menurut saya sudah sangat berkurang embel-embel Djarum-nya," ungkapnya.

Sebelumnya, KPAI menilai  Djarum Foundation telah memanfaatkan anak-anak untuk mempromosikan brand image rokok Djarum dalam kegiatan audisi bulu tangkis.

Sejumlah lembaga negara pun mengamini sikap KPAI, seperti l Kemenko PMK, Kemenpora, Kemenkes, Bappenas, dan BPOM dalam pertemuan di Kantor KPAI awal Agustus lalu.

Dalam pandangan KPAI, Audisi Umum Djarum Beasiswa Bulu Tangkis dinilai telah mengeksploitasi anak dengan mengacu kepada Peraturan Pemerintah Nomor (PP) 109 tahun 2012 tentang Pengamanan Bahan yang Mengandung Zat Adiktif berupa Produk Tembakau bagi Kesehatan, termasuk perlindungan khusus bagian anak dan perempuan hamil.

Dikecam

Menyikapi permasalahan itu,
Politisi muda Partai Demokrat, Jansen Sitindaon mengecam sikap KPAI yang dinilainya kurang kerjaan.

"Kurang kerjaan ini KPAI! Padahal banyak kasus diluar sana yang lebih eksploitatif terhadap anak. Pada kasus ini publik pasti lebih mendukung PB Djarum. Orang tua anak yang bersangkutan juga tidak ada komplain. Bisa runyam prestasi bulutangkis Indonesia jika Djarum sampai ngambek," tulis Jansen di laman Twitternya.

Kecaman juga datang dari Pengurus Pusat Persatuan Bulutangkis Indonesia (PP PBSI). Menurut Sekertaris Jenderal (Sekjen) PP PBSI, Achmad Budiharto hal ini bisa dibilang tragis.

"Masalah ini tragis. Jujur di awal saya datang ke Purwokerto ini dengan berbunga-bunga, karena saya pikir masalah audisi ini sudah menemukan jalan keluar," ungkap Budiharto, dalam konferensi pers jelang Audisi Umum Beasiswa Bulutangkis 2019 di Hotel Aston Purwokerto, Sabtu (8/9/2019).

Ia menyatakan jika Audisi Umum Beasiswa Bulutangkis yang sudah berlangsung sejak 2006 silam, tak hanya sekedar mencari bibit. Namun juga secara langsung memasarkan bulu tangkis ke seluruh penjuru Indonesia.


Mimpi Anak Merauke

Dari sebanyak 904 peserta Audisi Umum Beasiswa Bulutangkis 2019 di GOR Satria Purwokerto, satu di antaranya adalah seorang atlet yang berasal dari Merauke, Papua. Ia adalah Chelsea Marvelyn.

Peserta U13 putri bernomor punggung 0247 itu rela datang jauh dari timur Indonesia ke Purwokerto, demi mengejar mimpinya yang ingin menjadi seorang bintang bulu tangkis masa depan, dan berharap bisa lulus audisi umum tahun ini hingga menjadi atlet PB Djarum.

"Saya ingin sekali masuk PB Djarum. Semoga saya bisa lulus audisi umum tahun ini. Soalnya di Merauke kepelatihan cukup susah tidak seperti di sini, terus kalau di sana jarang ada kompetisi," tutur gadis kelahiran Mearuke 10 Mei 2007 seperti disiarkan pbdjarum.org. ***



Berita Terkait

Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook