Total 3.654 Anak Stunting di Kabupaten Kampar

Terbanyak se-Kampar, 1.842 Anak Desa Pandau Jaya Alami Stunting

Rabu, 02 Oktober 2019 - 14:10 WIB   [713 Klik]
Reporter : Aulia MH
Redaktur : Oce E Satria

Terbanyak se-Kampar, 1.842 Anak Desa Pandau Jaya Alami Stunting


KORANMX.COM,BANGKINANG -  Dinas Kesehatan (Diskes) Kabupaten Kampar mencatat sebanyak 3.654 anak di Kabupaten Kampar mengalami stunting atau kurang gizi kronis. Jumlah terbanyak terdapat di Desa Pandau Jaya yakni sebanyak 1.842 anak.

Stunting adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam waktu yang cukup lama, sehingga mengakibatkan gangguan pertumbuhan pada anak yakni tinggi badan anak lebih rendah atau pendek (kerdil) dari standar usianya.

Menurut Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kampar Dedi Sambudi, berdasarkan data Juli 2019 terdapat 3.654 anak stunting. Jumlah tersebut tersebar di 10 desa yakni, Desa Aur Kuning 60 anak, Desa Terusan 33 anak, Desa Gajah Bertalut 33 anak, Desa Tanjung Karang 47 anak, Desa Sungai Bunga 6 anak, Desa Bangun Sari 79 anak, Desa Danau Lancang 1247 anak, Desa Ranah Singkuang 155 anak, Desa Pulau Jambu 152 anak, Desa Pandau Jaya 1.842 anak.

Ia mengakatakan, Diskes akan fokus menurunkan angka stunting yang terjadi di Kampar. Agar ini terprogram, Diskes meminta dukungan melalui masing-masing OPD terkait.

“Sehingga dipandang perlu menetapkan program bersama agar dapat menurunkan jumlah stunting dengan cepat,”ujarnya, Rabu (2/10)
Kadis Kesehatan juga menyampaikan di tahun 2019 sebanyak 160 kabupaten se-Indonesia mendapatkan intervensi penanganan stunting di mana salah satunya adalah Kabupaten Kampar.

“Maka dari itu dilakukan penggalangan komitmen para pengambil kebijakan dalam melakukan perencanaan, koordinasi, monitoring dan evaluasi,”ucapnya.

Kondisi ini, lanjut Dedi menuntut semua pihak untuk melakukan upaya menekan stunting melalui upaya peningkatan gizi ibu hamil dan anak-anak.

“Karena stunting merupakan program nasional baik dalam hal peningkatan gizi terutama 1.000 hari mulai dari kandungan. Kita harus bersama-sama dan segera dalam melakukan penanganannya,”jelasnya.

Hal lainnya yang perlu diperhatikan adalah kecukupan gizi sesuai standar, fasilitas sanitasi yang baik dan pertumbuhan balita.

“Sehingga diharapkan untuk segera melakukan mobilisasi dan penanganan dan apabila memiliki berat yang tetap maka dapat dilakukan tindakan secara berkelanjutan dan memberikan pelayanan serta perlakuan khusus,”sebutnya.

Dikutip dari depkes.go.id, stunting merupakan ancaman utama terhadap kualitas manusia Indonesia, juga ancaman terhadap kemampuan daya saing bangsa. Hal ini dikarenakan anak stunted, bukan hanya terganggu pertumbuhan fisiknya (bertubuh pendek/kerdil) saja, melainkan juga terganggu perkembangan otaknya, yang mana tentu akan sangat mempengaruhi kemampuan dan prestasi di sekolah, produktivitas dan kreativitas di usia-usia produktif.

''Terdapat tiga hal yang harus diperhatikan dalam pencegahan stunting, yaitu perbaikan terhadap pola makan, pola asuh, serta perbaikan sanitasi dan akses air bersih'', sebut Menteri Kesehatan RI, Nila Farid Moelok, belum ini.

Diterangkan Menkes Nila Moeloek, kesehatan berada di hilir. Seringkali masalah-masalah non kesehatan menjadi akar dari masalah stunting, baik itu masalah ekonomi, politik, sosial, budaya, kemiskinan, kurangnya pemberdayaan perempuan, serta masalah degradasi lingkungan. Karena itu, ditegaskan oleh Menkes, kesehatan membutuhkan peran semua sektor dan tatanan masyarakat. Berikut sejumlah saran Kemenkes untuk mennghambat laju stunting.

Pola Makan

Masalah stunting dipengaruhi oleh rendahnya akses terhadap makanan dari segi jumlah dan kualitas gizi, serta seringkali tidak beragam.

Istilah ''Isi Piringku'' dengan gizi seimbang perlu diperkenalkan dan dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam satu porsi makan, setengah piring diisi oleh sayur dan buah, setengahnya lagi diisi dengan sumber protein (baik nabati maupun hewani) dengan proporsi lebih banyak daripada karbohidrat.

 Pola Asuh

Stunting juga dipengaruhi aspek perilaku, terutama pada pola asuh yang kurang baik dalam praktek pemberian makan bagi bayi dan Balita.

Dimulai dari edukasi tentang kesehatab reproduksi dan gizi bagi remaja sebagai cikal bakal keluarga, hingga para calon ibu memahami pentingnya memenuhi kebutuhan gizi saat hamil dan stimulasi bagi janin, serta memeriksakan kandungan empat kali selama kehamilan.

Bersalin di fasilitas kesehatan, lakukan inisiasi menyusu dini (IMD) dan berupayalah agar bayi mendapat colostrum air susu ibu (ASI). Berikan hanya ASI saja sampai bayi berusia 6 bulan.

Setelah itu, ASI boleh dilanjutkan sampai usia 2 tahun, namun berikan juga makanan pendamping ASI. Jangan lupa pantau tumbuh kembangnya dengan membawa buah hati ke Posyandu setiap bulan.

Hal lain yang juga perlu diperhatikan adalah berikanlah hak anak mendapatkan kekebalan dari penyakit berbahaya melalui imunisasi yang telah dijamin ketersediaan dan keamanannya oleh pemerintah. Masyarakat bisa memanfaatkannya dengan tanpa biaya di Posyandu atau Puskesmas.

Sanitasi dan Akses Air Bersih

Rendahnya akses terhadap pelayanan kesehatan, termasuk di dalamnya adalah akses sanitasi dan air bersih, mendekatkan anak pada risiko ancaman penyakit infeksi. Untuk itu, perlu membiasakan cuci tangan pakai sabun dan air mengalir, serta tidak buang air besar sembarangan.

''Pola asuh dan status gizi sangat dipengaruhi oleh pemahaman orang tua (seorang ibu) maka, dalam mengatur kesehatan dan gizi di keluarganya. Karena itu, edukasi diperlukan agar dapat mengubah perilaku yang bisa mengarahkan pada peningkatan kesehatan gizi atau ibu dan anaknya'', tutupnya.***



Berita Terkait

Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook