Workshop Kehumasan SPS Riau Dibuka, Ketua BPP Perhumas : Jangan Hindari Media

Jumat, 04 Oktober 2019 - 21:20 WIB   [76 Klik]

Workshop Kehumasan SPS Riau Dibuka, Ketua BPP Perhumas : Jangan Hindari Media

Ketua SPS Cabang Riau, H Zulmansyah Sekedang menyerahkan sertifikat kepada Ketua BPP Perhumas, Agung Laksamana

KORANMX.COM, PEKANBARU--Workshop kehumasan "How to handle communication crisis in disruption era" yang diselenggarakan Serikat Perusahaan Pers (SPS) Cabang Riau resmi dibuka. Berlangsung di Ansellia 1 Meeting Room Batiqa Hotel, Jumat (4/10/2019). 

Menghadirkan tiga narasumber, masing-masing, Ketua Badan Pengurus Pusat (BPP) Perhumas, Agung Laksamana MSc, Ketua SPS Cabang Riau, Zulmansyah Sekedang dan Dosen Pasca Sarjana Ilmu Komunikasi FISIP Unri, Dr Suryanto SSos MSc. 

"Workshop kehumasan dengan tajuk "How to handle communication crisis in disruption era" secara resmi saya buka," kata Ketua SPS Cabang Riau, H Zulmansyah Sekedang saat membuka workshop. 

Dalam sambutannya, Zulmansyah mengatakan seluruh perusahaan pers berada di bawah naungan SPS. Saat ini ada 34 media yang bernaung di bawah SPS Cabang Riau dan yang sudah terverifikasi sebanyak 28 media, terdiri dari 16 media cetak dan 12 media online. 

Selama ini kata dia, rekan-rekan Humas di berbagai instansi banyak yang mendapat gangguan terkait pemberitaan wartawan yang tidak sesuai fakta sebenarnya. Rumah sakit, Puskesmas dan guru juga sering mengalami, sehingga teman-teman Humas merasa terganggu atau dirugikan oleh pemberitaan itu. 

"Kita bisa cek di Dewan Pers, apakah dia benar-benar media atau bukan, di Riau ini ada banyak media, online saja ada sekitar 500 lebih," ucapnya. 

Nantinya, Dewan Pers juga akan mengecek orang-orang yang bekerja di dalamnya, seperti wartawan apakah sudah kompetensi atau belum. "Kompetensi wartawan itu ada tiga, Muda, Madya dan Utama. Pemimpin redaksinya harus memiliki kompetensi utama," terangnya. 

Terkait adanya pemberitaan yang tidak sesuai fakta yang dilakukan oleh media resmi dan terdaftar, Zulmansyah menjelaskan hal itu bisa dikoreksi melalui hak jawab dan disarankan ke dewan pers, namun bila bukan media resmi bisa dibawa ke ranah hukum. 

Sementara Ketua BPP Perhumas, Agung Laksamana mengatakan, Disruption Era adalah sebuah era dimana segala sesuatu terjadi secara random dan begitu cepat. Baik hal positif maupun negatif dapat menjadi viral hanya dalam hitungan detik.

"Era ini memberikan kemudahan bagi siapapun untuk melakukan apa saja di dunia maya dengan begitu mudah, namun juga bisa jadi berbahaya," kata Agung dalam materinya. 

Menurut Agung, pada semua instansi yang memberi pelayanan kepada masyarakat, termasuk di RS atau Puskesmas, keberadaan PR atau Humas sangat menentukan. Terutama berkaitan dengan nama baik dan reputasi sebuah RS.

Karena sangat pentingnya PR atau Humas di RS, Agung memberikan tips apa dan bagaimana yang harus dilakukan disaat krisis atau terjadi sebuah peristiwa. 

"Saat ini ada 47 ribu media di Indonesia, membangun komunikasi dengan media sangat penting, jangan menghindari wartawan dan jalin hubungan baik dengan media sebelum krisis itu terjadi," sebut Agung. 

Sementara Ketua Panitia Workshop, Khairul Amri mengatakan pihaknya sengaja menggagas kegiatan ini bersama SPS karena SPS merupakan tempat bernaungnya media. 

Kemudian kata dia workshop bersama Humas ini penting dilakukan untuk mengetahui bagaimana cara berkomunikasi yang tepat dengan media. 

"Di era disruption ini menuntut PR atau Humas bisa berkomunikasi dengan tepat dengan media. Karena bila salah cara berkomunikasi bisa berakibat fatal bagi instansi itu sendiri," ucapnya. 

Workshop dihadiri Humas di berbagai Rumah Sakit dan Puskesmas juga mahasiswa. (***) 

 



Berita Terkait

Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook