Ninik Mamak Khawatir, Proyek BPCB di Candi Muara Takus Dapat Merusak Situs Sejarah

Rabu, 09 Oktober 2019 - 08:00 WIB   [396 Klik]
Reporter : Aulia MH
Redaktur : Oce E Satria

Ninik Mamak Khawatir, Proyek BPCB di Candi Muara Takus  Dapat Merusak Situs Sejarah


KORANMX.COM, KAMPAR -- Proyek pemugaran cagar budaya di Candi Muara Takus, Kecamatan XIII Koto Kampar, dengan nilai Rp1,7 miliar banyak mendapat kritikan dari ninik mamak dan masyarakat. Karena pelaksanaannya dinilai tanpa ada kordinasi dan dapat merusak situs budaya dan sejarah.

Dalam hal ini‎ Pucuk Andiko 44, Nasrul Datuk Rajo Dubalai mengaku kecewa, sebab pekerjaannya diduga melanggar aturan. "Karena itu kami sudah mengirimkan somasi ke Badan Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Sumatera Barat. Namun belum ada respon dari mereka," katanya, Selasa (8/10/2019).

Ia juga mengatakan, pekerjaan itu jelas merusak. Karena kalau pekerjaan di dalam candi harusnya dilarang. Tetapi, kalau di luar candi tidak masalah pekerjaan dilaksanakan. "Jadi kami harap BPCB yang tahu aturan pekerjaan, jangan malah melanggar aturan," jelasnya sembari menyebutkan bahwa perkerjaan di sana membuat 25 sumur resapan.

Nasrul Datuk Rajo Dubalai, juga menyesalkan  Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kampar tidak merespon apa yang sudah disampaikan. "Malahan yang merespon masalah pekerjaan BPCB ini dari Sumbar  yang meminta agar jangan merusak sejarah,"tuturnya.

Sedangkan Pengamat Sejarah Kampar, Abdul Latif menyebutkan, pekerjaan itu tindakan yang salah karena dapat merusak situs sejarah. Karena penggalian lubang yang dilakukan merusak situs. Sebab situs Candi Muara Takus masih ada di dalam tanah.

"Kalau dilakukan penggalian, tentunya akan rusak dan dapat merobohkan Candi Muara Takus," ungkapnya.

Ia juga menjelaskan, berdasarkan buku kuno yang ia baca, situs itu sebagian besar masih ada dalam tanah. "Harusnya hal-hal yang tidak terungkap ini yang dimunculkan sama pihak BPCB," katanya.

Bahkan lanjut Abdul Latif, dalam buku kuno itu juga dinyatakan situs Candi Muara Takus itu terdiri dari 24 candi. Sedangkan yang ada sekarang terlihat ada 4 candi yaitu Sulung, Bungsu, Maligai Stupa dan Palangka. "Berarti masih ada 20 candi lagi di sekitar itu. Kalau itu digali tentu akan dapat merobohkan candi yang tersimpan tersebut," ungkapnya lagi.

Sedangkan mengenai pekerjaan BPCB ini, kata Abdul Latif, sudah dari 2009 ditegur. Namun hal ini terus berlanjut tanpa  mempedulikan  teguran yang disampaikan.

"Karena itu kami minta pihak BPCB dapat kordinasi. Sebab situs sejarah ini bukan sembarangan pekerjaan, jadi perlu kehati-hatian," pungkasnya. ***



Berita Terkait

Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook