Kejati Periksa Teller dan AMO BRI

Senin, 21 Oktober 2019 - 16:34 WIB   [120 Klik]

Kejati Periksa Teller dan AMO BRI


PEKANBARU—Kejaksaan Tinggi (Kejati) Riau kembali melakukan pemeriksaan saksi dalam perkara dugaan korupsi pemberian Kredit Usaha Rakyat (KUR) di PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) Cabang Ujung Batu, Rokan Hulu (Rohul). Kali ini dua orang diperiksa yang diketahui merupakan pihak internal.

Mereka adalah Jefrizon dan Andri Prawinata. Jefrizon diketahui merupakan teller di bank tersebut. Sedangkan Andri, Asisten Manager Operasional (AMO).

“Benar, keduanya diperiksa hari ini dalam rangka penyidikan perkara tersebut,” ucap Kepala Seksi (Kasi) Penerangan Hukum (Penkum) dan Hubungan Masyarakat (Humas) Kejati Riau, Muspidauan SH MH saat dikonfirmasi Pekanbaru MX, Senin (21/10).

Lebih lanjut dikatakannya, pemeriksaan terhadap kedua orang tersebut, untuk mendalami perkara itu. Yang mana, hingga saat ini jaksa penyidik belum menetapkan orang-orang yang bertanggungjawab sebagai tersangka.

“Pemeriksaan saksi untuk penguatan penyidikan, sebelum dilakukan gelar perkara penetapan tersangka,” lanjutnya.

Dalam pemberitaan sebelumnya, jaksa penyidik mengaku telah mengantongi calon tersangka. Namun, jaksa penyidik belum bisa mengeksposenya dikarenakan belum dilakukan gelar perkara.

Untuk diketahui, pengusutan perkara itu dilakukan berdasarkan laporan manajemen BRI ke Kejati Riau, beberapa waktu lalu.

Atas hal itu, Kepala Kejati Riau langsung menerbitkan Surat Perintah Penyelidikan (Sprinlid) dengan Nomor: Print-08/L.4/Fd.1/07/2019 tertanggal 15 Juli 2019, tentang Penyelidikan Dugaan Korupsi Pemberian Kredit Usaha Rakyat (KUR) Tahun 2017 hingga 2018 pada PT BRI Kantor Cabang Ujung Batu. Atas Sprinlid itu, satu per satu pihak diundang untuk diklarifikasi.

Setelah yakin proses penyelidikan rampung, tim penyelidik kemudian melakukan gelar perkara, Senin (2/9) lalu.

Dari hasil gelar itu, jaksa meyakini adanya peristiwa pidana dalam kegiatan pemberian Kredit Usaha Rakyat (KUR) tahun 2017 hingga 2018 di bank tersebut, dan meningkatkan status perkara ke tahap penyidikan.

Sebelumnya, dari keterangan salah seorang pihak yang diklarifikasi jaksa atas nama Suhaili, terdapat 18 orang nasabah dalam pengajuan kredit itu. Masing-masing mereka meminjam uang senilai Rp500 juta.

Namun yang mereka terima tidak sebanyak itu, melainkan bervariasi sekitar Rp3 juta hingga Rp4 juta per orang.

Dalam pengajuan kredit saat itu, mereka didatangi oleh seseorang warga yang bernama Sudir. Lalu, kartu tanda penduduk (KTP) dan kartu keluarga (KK) milik mereka dipinjam sebagai syarat untuk pengajuan kredit.

Kredit yang diajukan untuk membuka veron atau tempat penyimpanan sementara tandan buah sawit. Meski begitu, para nasabah itu tidak mengetahui agunan dalam pengajuan kredit tersebut.

Begitu juga dengan pembayaran kredit. Dari informasi yang dihimpun, kredit yang dicairkan mengalami macet. Belakangan, pihak bank diketahui sulit untuk eksekusi terhadap agunan, karena diduga fiktif. =MX10



Berita Terkait

Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook