Tambak Udang di Desa Cingam, Kelompok Tani Diduga Hanya Jadi Tameng

Jumat, 15 November 2019 - 01:53 WIB   [366 Klik]

Tambak Udang di Desa Cingam, Kelompok Tani Diduga Hanya Jadi Tameng


KORANMX.COM, RUPAT—Pemerintah Provinsi dan Kabupaten Bengkalis menggesa Pulau Rupat menjadi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata. Berada pada gugus terluar, Pulau Rupat berbatasan langsung dengan Negeri Malaysia.

Kunjungan Menpar Arief Yahya ke Rupat dalam rangka percepatan mewujudkan Rupat sangat strategis sebagai Pulau KEK Pariwisata. Menpar mencontohkan dua potensi industri pertanian dan pariwisata bisa berbarengan membangun KEK di Rupat, seperti agrowisata, kelapa sawit, karet, perikanan, dan kelapa.
Seiring geliat mewjudkan KEK, pihak investor terlihat mulai membuka usaha pertambakan/tambak udang. Salah satunya pengusaha telah membuka usaha tambak udang di bibir Pantai Ketapang, di Desa Sugai Cingam, Kecamatan Rupat Selatan.

Hadirnya usaha tambak udang yang disinyalir ratusan hektar ini, menuai plus-minus tanggapan masyarakat maupun para tokoh masyarakat.
Dipastikan areal lahan pertambakan akan mengorbankan hutan bakau, di sisi lain pemerintah pusat dan daerah sedang disibukkan temuan abrasi yang tinggi yang dalam waktu panjang akan berdampak pada pulau tersebut.

Dengan dalih kelompok tani, pengusaha membuka lahan pertambakan hingga ratusan hektar di bibir Pantai Ketapang. Usaha mengatasnamakan kelompok tani ini, disyalir dimanfaatkan pengusaha berinisial SN asal Malaysia dengan AK sebagi orang kepercayaan SN.

Ratusan hektare lahan pertambakan, diduga dijaga ketat oknum BKO satuan tempur. Keberadaan para oknum tersebut dipastikan membuat nyaman sang pengusaha, namun sebaliknya jadi momok menakutkan bagi masyarakat setempat.

“Untuk melancong ke Pantai Ketapang aja sudah ada pembatasan, tidak bisa asal masuk. Semua sudah dijaga,” ujar Candra Maulana yang juga warga setempat.

Kejadian ini sangat miris dan bertolak belakang, jauh jauh saat Menpar RI turun ke Rupat, demi jadikan daerah tersebut sebagai Wilayah KEK Pariwisata. Fakta yang terjadi saat ini, Pantai Ketapang berubah jadi kawasan terlarang.

Kelompok tani atau koperasi yang digagas AK, menurut warga diduga hanya sebuah tameng dalam memuluskan usahanya. Lahan yang sebelumnya perkebunan sawit milik SN, saat ini dialihkan ke usaha pertambakan, juga penambahan areal di daerah bibir pantai, dengan bendera Kelompok masyarakat Rupat.

Dari informasi yang berkembang, pihak BPN (Badan Pertanahan Negara) belum dapat menerbitkan sertifikat diatas areal tersebut, disebabkan dari pihak provinsi maupun kabupaten lahan masuk kawasan hutan register/lindung.

Sejauh ini legalitas usaha pertambakan tersebut belum jelas, begitu juga soal keanggotaan koperasi dan perizinan dari dinas terkait masih dipertanyakan.Pihak manajemen/humas yang mewakili pengusaha belum memberikan jawaban atas polemik yang berkembang di masyarakat.=*1



Berita Terkait

Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook