Kejati Riau dan Bali Tangkap Terpidana Korupsi Tiket Garuda di Pekanbaru

Senin, 02 Desember 2019 - 13:23 WIB   [195 Klik]
Reporter : Fanny Rizano
Redaktur : Raja Mirza

Kejati Riau dan Bali Tangkap Terpidana Korupsi Tiket Garuda di Pekanbaru


KORANMX.COM, PEKANBARU--Tim Intelijen Kejaksaan Tinggi (Kejati) Riau dan Bali menangkap terpidana kasus korupsi penjualan tiket di PT Garuda Indonesia di Kota Pekanbaru. Terpidana itu bernama Tutin Apriyani. Wanita berusia 47 tahun itu diamankan di rumahnya, di Perumahan Puri Indah, yang berada di Jalan Sudirman, Senin (2/12/2019) sekitar pukul 06.00 WIB.

Penangkapan itu dilakukan berdasarkan putusan Mahkamah Agung (MA) RI Nomor: 2121/K/Pid.Sus/2016 tanggal 26 Juli 2017. Yang mana, dalam putusan MA itu, Tutin harus menjalankan hukuman 1 tahun penjara.

"Kejati Riau dan Kejati Bali, berhasil tangkap buronan terpidana TA (Tutin Apriyani). Berdasarkan putusan MA, yang bersangkutan telah dinyatakan terbukti bersalah melakukan tindak pidana korupsi," ujar Asisten Intelijen Kejati Riau, Raharjo Budi Kisnanto SH MH.

Dijelaskannya, Tutin Apriyani merupakan mantan karyawan BUMN PT Garuda Indonesia. Dia  sempat dibebaskan demi hukum karena masa penahanannya telah habis.

"Setelah itu, bersangkutan pulang ke Pekanbaru," kata Raharjo.

Keberadaan Tutin di Kota Pekanbaru sudah terdeteksi sejak satu bulan yang lalu.

"Dari nomor telepon yang bersangkutan, memang aktifnya di rumah tersebut (Perumahan Puri Indah)," kata Raharjo didampingi  jaksa dari Kejati Bali.

Dengan telah dilakukannya penangkapan itu, selanjutnya Tutin dibawa ke Bali untuk menjalani masa hukuman.

"Sebagai tindak lanjut, jaksa eksekutor pada Kejaksaan Negeri Denpasar membawa terpidana ke Denpasar guna pelaksanaan eksekusi putusan (MA)," tambah Raharjo.

Tutin Apriyani terlibat korupsi pengadaan tiket bersama dua rekannya, Suhaimin Nidhom dan Anak Agung Istri Wahyuni, karyawan DPSDK GA PT Garuda Indonesia, Bandara Ngurah Rai, Bali. Korupsi itu, terjadi pada September 2005 hingga Maret 2006.

Perbuatan terpidana berawal, ketika menerima kedatangan 15 orang penumpang Continental Airline rute Guam (Amerika Serikat), Denpasar-Jakarta. Mereka  transit di Denpasar karena Continental Airline tidak punya rute ke Jakarta.

Berdasarkan multilateral Interline Traffic Agreement antara Continental Airline dan Garuda Indonesia, maka penumpang diangkut dengan pesawat Garuda tapi tetap menggunakan tiket Continental.

Dalam perjalanannya, terpidana dan rekannya melakukan exchange, MCO dan refund sebagaimana mestinya. Harusnya tiket yang dikeluarkan mendapat persetujuan dari  kantor yang mengeluarkan tiket Continental tapi itu tidak dilakukan terpidana.

Terpidana mendapatkan uang dari exchange tiket  dan penerbitan MCO balance dari kelompok masing-masing penumpang sebesar Rp 14,3 juta. Uang itu dikumpulkan dan dibagi rata untuk kepentingan pribadi.

Akibat perbuatan itu, Tutin dan kawan-kawan  melanggar Pasal 3 Jo Pasal 18 ayat(1) huruf b Undang-undang RI Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU RI Nomorb20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo Pasal 55 ayat(1) ke-1 Jo Pasal 64 KUHP. ***



Berita Terkait

Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook