2 Oknum Pegawai Imigrasi Disebut Terlibat Pungli Pengurusan Paspor

Minggu, 22 Maret 2020 - 15:56 WIB  
Reporter : Fanny Rizano
Redaktur : Raja Mirza

2 Oknum Pegawai Imigrasi Disebut Terlibat Pungli Pengurusan Paspor

(Foto : Ilustrasi)

KORANMX.COM, PEKANBARU--Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri Pekanbaru melimpahkan berkas dakwaan tersangka Wandri Zaldi ke Pengadilan Tipikor Pekanbaru. Yang mana, Direktur PT Fadilah menjadi pesakitan dalam perkara calo atau pungutan liar (Pungli) pengurusan paspor di luar tarif yang ditentukan oleh pemerintah.

"Benar, berkas dakwaannya sudah kita terima," ucap Panitera Muda (Panmud) Tipikor Pengadilan Tipikor Pekanbaru, Rosdiana Sitorus SH saat dikonfirmasi koranmx.com, Ahad (22/3/2020).

Dilanjutkannya, dengan telah menerima berkas dakwaan itu, pihaknya juga telah menetapkan majelis hakim yang akan mengadili serta jadwal sidang perdananya.

"Sidang perdana hari Selasa (31/3/2020). KM (Ketua majelis hakim, red) pak Iwan," lanjutnya.

Dalam dakwaan yang disusun JPU itu, perbuatan tersangka Wandri diatur dan diancam pidana melanggar Pasal 5 ayat (1) huruf (b) Undang-undang No 31 tahun 1999 sebagaimana telah diubah dan ditambah dengan Undang-undang No 20 tahun 2001 tentang perubahan atas Undang-undang No 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHPidana.

Masih dalam dakwaan tersebut, diketahui ada 2 orang oknum dari kantor Imigrasi Kelas I TPI Pekanbaru, yang diduga terlibat dalam Pungli pengurusan paspor itu. Mereka adalah Krisna Olivia, selaku selaku Ajudikator atau Supervisor di kantor Imigrasi Kelas I TPI Pekanbaru, dan Salman Alfarisi, selaku Analisis Keimigrasian di kantor Imigrasi Kelas I TPI Pekanbaru.

Terkait keterlibatan kedua oknum tersebut, Kepala Seksi (Kasi) Pidana Khusus (Pidsus) Kejari Pekanbaru, Yuriza Antoni SH mengatakan, dalam berkas dakwaan tersangka Wandri, Krisna Olivia dan Salman Alfarisi masih berstatus saksi.

"Statusnya dalam perkara ini saksi. Untuk sejauh mana peran mereka, silahkan tanya ke Polresta (Pekanbaru). Kami kan hanya menerima berkas," ucapnya.

Dilanjutkannya, pihaknya dalam perkara ini ada menerima Surat Perintah Dimulainya Penyidikan (SPDP) di luar tersangka Wandri. Namun dalam SPDP itu, belum ada nama tersangkanya.

"Ada 2 SPDP tanpa nama tersangka," lanjutnya.

Sementara itu, Kapolresta Pekanbaru, Kombes Pol Nandang Mu'min Wijaya melalui Kasat Reskrim, Kompol Awaluddin Syam mengatakan, pihaknya masih akan melakukan pendalaman lebih lanjut terkait keterlibatan dua orang oknum dari kantor Imigrasi Kelas I TPI Pekanbaru itu.

"Masih didalami ya (keterlibatannya)," ucapnya.

Dalam dakwaan itu, Krisna Olivia dan Salman Alfarisi disebut orang yang melakukan atau turut serta melakukan bersama-sama dengan tersangka Wandri. Tidak hanya itu, dalam dakwaan tersangka Wandri, Krisna Olivia dan Salman Alfarisi juga disebut masing-masing dilakukan penuntutan dalam berkas perkara secara terpisah.

Untuk diketahui, pada hari Kamis (9/1/2020) lalu, tim Pokja Tindak Unit Pemberantasan Pungli Polresta Pekanbaru melakukan penangkapan terhadap tersangka Wandri di parkiran kantor Imigrasi Kelas I TPI Pekanbaru, yang berada di Kelurahan Pulau Karam, Kecamatan Sukajadi.

Dari penangkapan itu, pihak kepolisian selanjutnya melakukan interogasi terhadap tersangka Wandri. Tidak sampai disitu, polisi juga menemukan uang sebanyak Rp6.950.000 dari kantong celana tersangka Wandri. Uang itu, untuk pengurusan paspor dari pemohon dan keuntungan dari pengurusan paspor yang diterima tersangka Wandri. Polisi juga mengamankan beberapa buah paspor yang akan diurus tersangka Wandri.

Berdasarkan hasil ininterogasi, dalam pengurusan pembuatan paspor maupun perpanjangan paspor masyarakat atau pemohon secara online dikantor Imigrasi Kelas I TPI Pekanbaru, tersangka Wandri dibantu oleh Krisna Olivia dan Salman Alfarisi.

Peran Krisna Olivia dalam membantu tersangka Wandri yakni, untuk menyelesaikan Ajudikator dan menyelesaikan permohonan paspor VIP. Sedangkan peran Salman Alfarisi yakni, membantu tersangka Wandri memberikan formulir PERDIM dan surat pernyataan.

Dalam pengurusan paspor untuk paket biasa, tersangka Wandri meminta biaya kepada pemohon atau masyarakat sebesar Rp600.000. Sedangkan untuk paket VIP, tersangka Wandri meminta biaya sebesar Rp1,5 juta sampai Rp1,7 juta.

Dari keuntungan yang diperoleh tersangka Wandri dalam pengurusan paspor paket biasa maupun VIP, diketahui juga mengalir ke Krisna Olivia dan Salman Alfarisi. Yang mana, keuntungan itu ditransfer tersangka Wandri ke rekening bank milik Krisna Olivia dan Salman Alfarisi. Adapun jumlah, ke rekening BNI milik Krisna Olivia sebesar Rp19.350.000 dan ke rekening BRI milik Salman Alfarisi sebanyak Rp2.250.000.***



Berita Terkait

Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook