Anakku Sayang, Anakku Malang

Minggu, 25 Maret 2018 - 15:18 WIB   [719 Klik]

Anakku Sayang, Anakku Malang

ilustrasi

AKU benar-benar terpukul. Putriku satu-satunya mengalami peristiwa yang memilukan. Prilakunya berubah menjadi aneh setelah dinodai teman-teman sekolahnya saat melakukan salah satu acara di alam bebas.

Sebut saja nama anakku Citra (bukan nama sebenarnya). Di usianya 21 tahun, ia tumbuh sebagai gadis yang cantik dan sangat cerdas. Ia juga sangat sayang dan perhatian terhadap aku. Namun, saat ini ia begitu benci dan takut kepada laki-laki, termasuk kepada ayah dan kakak serta adik lekakinya. Padahal, kami sudah berkali-kali menjelaskan bahwa tidak semua laki-laki itu jahat.

Sebenarnya Citra bukanlah tipe perempuan yang pendiam dan tertutup, malah sebaliknya. Ia adalah tipikal perempuan yang lincah, aktif dan sedikit tomboy. Tak heran saat di SMP dulu ia lebih cenderung memilih berteman dengan laki-laki dari pada  perempuan.

Menurutnya, laki-laki itu lebih asyik diajak berteman ketimbang perempuan. Namun rupanya kecenderungan itu menjadi bumerang buatnya, karena akhirnya ia justru mendapat perlakuan yang sangat membuatnya trauma terhadap semua laki-laki.

Awal malapetaka yang menimpa putriku sebenarnya terjadi sepuluh tahun yang lalu, saat ia bersama rombongan teman laki-lakinya melakukan kegiatan di alam bebas. Karena hanya satu-satunya perempuan yang ikut, aku sempat melarangnya untuk ikut kegiatan tersebut. Namun ia memaksa. Menurutnya semua teman laki-laki itu sangat ia kenal dan tak akan berbuat yang akan merugikan dirinya.

Rasa was-was yang menghantui diriku ternyata tak menjadi kenyataan. Citra pulang dalam kondisi baik, namun begitu ada sedikit perubahan pada sikapnya. Beberapa hari ia mengurung diri dalam kamarnya dan tampak murung.

Keadaan itu tak berlangsung lama. Citra kembali seperti semula, energik, aktif dan ceria. Menurutnya keadaannya beberapa hari lalu, karena ia telah kehilangan sesuatu, namun itu semua sudah dilupakannya.

Dua hari kemudian, sikap Citra kembali berubah. Kali ini malah bertambah parah. Selama beberapa hari ia sulit sekali untuk ditemui dan diajak berbicara. Dari dalam kamarnya yang aku dengar hanya isak tangis.

Karena khawatir, aku dan ayahnya memaksa dia untuk bercerita. Akhirnya dari mulutnya kudengar pengakuan yang membuatku sangat terpukul. Tujuh hari lalu ia mengaku diperkosa teman-teman sekolahnya.

Dari ceritanya juga terungkap bahwa perkosaan tersebut pernah terjadi saat ia berkegiatan di alam bebas dua tahun silam. Saat itu aku langsung pingsan mendengar apa yang ia tuturkan.

Persoalan perkosaan itu memang selesai setelah pelakunya ditangkap polisi. Namun persoalan lain datang karena Citra sangat sulit melupakan kejadian pahit yang menimpa dirinya. Untunglah, saat pindah rumah ke kota lain, keadaan Citra mulai membaik. Bahkan berencana untuk melanjutkan sekolahnya yang selama lima tahun terhenti.

Tiga bulan menjalani kehidupan barunya, aku kembali dikejutkan dengan tingkahnya yang berubah. Kali ini bukan kemurungan dan kesedihan yang ia tampakan, tetapi justru sebaliknya, luapan kegembiraan yang selama ini belum pernah ia tampakkan.

Rupanya di sekolah ia mendapatkan teman spesial yang membuatnya sangat bahagia. Oh.. Citraku sayang sekarang sudah memiliki kekasih. Aku turut bahagia mendengarnya.

Akan tetapi, prilaku Citra perlahan-lahan mulai kembali murung dan nampak sangat tertekan. Awalnya aku menduga ia tengah bertengkar dengan kekasihnya dan aku mengganggap hal itu adalah hal yang biasa terjadi dalam berpacaran.

Tapi, ternyata dugaanku kali ini meleset, karena hari-hari berikutnya ia sama sekali tak mau keluar dari kamarnya. Bahkan, untuk makanpun ia tak memperdulikannya.

Keadaan itu membuat kami terpaksa mendobrak pintu kamarnya. Alangkah terkejutnya aku dan ayahnya ketika menyaksikan keadaan Citra yang menyedihkan. Wajahnya penuh dengan bekas cakaran tangannya sendiri, sementara di lehernya melilit seutas tali plastik.

Aku menjerit histeris menyaksikan keadaan anak perempuanku. Seketika kurangkul tubuhnya dengan berurai air mata. Karena khawatir, kami lantas membawanya ke rumah sakit. Beruntung, nyawanya berhasil diselamatkan.
=net



Berita Terkait

Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook