Ada Dugaan Uang TPPU Mengalir ke Pihak Lain

Senin, 09 Juli 2018 - 15:33 WIB   [121 Klik]

PEKANBARU—Dalam waktu dekat, berkas Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) dalam perkara perdagangan ilegal 70 ekor trenggiling, akan dilimpahkan ke Pengadilan Negeri (PN) Pekanbaru. Artinya, dalam waktu dekat perkara yang melibatkan oknum polisi ini akan disidang.

‘’Kalau tidak ada halangan, hari Selasa (10/7) kita limpahkan berkasnya,’’ ucap Kepala Seksi (Kasi) Pidana Khusus (Pidsus) Kejari Pekanbaru, Sri Odit Megonondo SH didampingi Jaksa Penuntut Umum (JPU) Hamiko SH saat dikonfirmasi Pekanbaru MX.

Dalam persidangan nanti, akan terungkap fakta-fakta terkait TPPU tersebut. Tak menutup kemungkinan adanya keterlibatan pihak lain. Bisa saja, uang itu mengalir ke pihak lain. Bahkan, ada dugaan pihak lain itu adalah juga oknum polisi. ‘’Kita lihat saja nanti fakta di persidangannya,’’ ujar Odit.

Mantan Kasi Intelijen Kejari Rohil ini menyebutkan, perkara tersebut sudah berada di tangan jaksa, setelah dilakukan tahap II, atau pelimpahan barang bukti dan tersangka dari Penyidik Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Dit Reskrimsus) Polda Riau.
‘’Tahap II-nya minggu lalu. Sekarang kita lagi susun isi dakwaan sebelum dilimpahkan ke Pengadilan,’’ terangnya.

Sebelumnya, pelimpahan tahap II dilakukan Polda Riau di Kejari Pekanbaru, pekan lalu. Dalam perkara tersebut, ada nama Muhammad Ali Honopoiah, sebagai tersangka.

Ali Honopoiah ini merupakan oknum polisi yang bertugas di Indragiri Hilir (Inhil). Dia juga dijerat dengan Undang-undang tentang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistemnya, dalam hal penyelundupan 70 trenggiling itu.

Ali Honopoiah diduga sebagai otak penyelundupan 70 ekor trenggiling yang digagalkan jajaran Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Riau pada Oktober 2017 lalu. Dalam aksinya, dia dibantu dua rekannya, Ali dan Jupri.

Dalam perkara asalnya, Ali Honopoiah tengah menjalani proses persidangan di PN Pangkalan Kerinci, Kabupaten Pelalawan. Saat ini dia ditahan dalam perkara tersebut.

Tidak sampai di situ, penyidik Polda Riau mengembangkan perkara untuk mengusut aliran dana hasil penyelundupan satwa dilindungi itu, dengan menjerat Ali Honopoiah dengan TPPU.

Dalam perkara itu terdapat barang bukti berupa uang sebesar Rp320 juta. Uang itu diduga hasil penjualan dari penyelundupan ilegal trenggiling itu. ‘’BB-nya (barang bukti) uang sebesar Rp320 juta,’’ kata Odit.

Ali Honopoiah kata Odit, dijerat dengan Pasal 3 UU Nomor 8 Tahun 2010 tentang TPPU. ‘’Kita juga kenakan Pasal 5 ayat (1) UU Nomor 8 Tahun 2010 tentang TPPU,’’ tambahnya.

Untuk diketahui, Kasus penyeludupan 70 ekor trenggiling ini, diungkap Ditreskrimsus Polda Riau pada Oktober 2017 lalu. Dalam dakwaan JPU di pidana awalnya, diterangkan kronologis pengungkapan penyeludupan satwa yang dilindungi negara itu.

Di mana tersangka Ali Honopoiah menghubungi temannya bernama Ali dan Jupri untuk berangkat ke Lubuk Jambi Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing) menjemput 70 ekor trenggiliing dari pengepul.

Ali Honopoiah mengirimkan uang sebesar Rp2 juta kepada Ali untuk biaya operasional serta merental mobil. Selanjutnya satwa yang memiliki nama latin manis javanica itu diangkut menggunakan lima kotak berwarna orange dalam keadaan hidup seberat 300 kilogram lebih. Dimana harga satu kilogramnya mencapai Rp350 ribu.

Selanjutnya satwa-satwa itu dibawa menuju Sungai Pakning, Kabupaten Bengkalis dengan melintasi Kota Pangkalan Kerinci, Pelalawan.

Di tempat lain, tim Ditreskrimsus Polda Riau menerima informasi terkait ada penyeludupan hewan yang dilindungi dan akan melintasi daerah Pangkalan Kerinci.

Tim buru sergap diterjunkan ke lokasi untuk menangkap dan menggagalkan penyeludupan.
Setelah posisinya diketahui, barulah dilakukan pencegatan tepat di jembatan Pangkalan Kerinci. Hingga kasusnya dikembangkan polisi dan mengamankan Ali Honopoiah.

Saat penangkapan, ternyata terdakwa Ali Honopoiah berupaya melobi polisi agar perbuatannya tidak dilanjutkan ke proses hukum.

Proses lobi itu dilakukan saksi Ali yang menghubungi terdakwa Ali Honopoiah dan memberitahu jika mereka ditangkap polisi. Oknum polisi itu hanya menjawab minta saja sama polisinya biar dibantu.

Ternyata komunikasi berjalan terus dimana saat itu posisi oknum polisi Polres Inhil itu berada di Tembilahan. Terdakwa berupaya terus melobi polisi penangkap dengan berbagai alasan. Namun usaha itu ditolak. Hingga pengembangan dan pengungkapan kasus mengarah ke dirinya serta dilakukan penangkapan. =MX10



Berita Terkait

Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook