Sidang Perkara TPPU

Oknum Polisi Tunggu Vonis Hakim

Minggu, 04 November 2018 - 03:46 WIB   [40 Klik]

Oknum Polisi Tunggu Vonis Hakim

Trenggiling yang diserahkan ke BBKSDA.

PEKANBARU—Majelis hakim Pengadilan Tipikor pada Pengadilan Negeri Pekanbaru tengah menyiapkan isi putusan (vonis) terhadap seorang oknum polisi yang bertugas di jajaran Polres Inhil, Ali Honopiah.

Ali merupakan terdakwa dalam perkara Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) jual beli ilegal satwa dilindungi. Yang mana sebelumnya, Ali telah ?berstatus terpidana dalam perkara pokoknya, yakni tindak pidana penjualan satwa dilindungi.

Perkara itu telah diputus di Pengadilan Negeri Pelalawan, dengan hukuman tiga tahun penjara. Hukuman itu pun diterima oleh terdakwa Ali.

Terkait dengan perkara TPPU-nya, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Pekanbaru, Hamiko SH saat dikonfirmasi koranmx.com mengatakan, sidang di pengadilan tingkat pertama itu, sudah sampai tahap akhir.

Yang mana, sidang itu tinggal menunggu vonis dari majelis hakim. ‘’Sidang mendengarkan vonis dari hakim digelar hari Selasa (6/11) besok,’’ ucapnya, Ahad (4/10).

Dilanjutkannya, dalam tuntutan JPU, Ali dituntut pidana penjara selama 3 tahun, denda Rp800 juta atau subsidair 6 bulan penjara. Terkait dengan dengan vonis hakim nantinya, Hamiko tidak mau berspekulasi terlebih dahulu.

‘’Vonisnya kan belum dibacakan. Kita dengarkan dululah (vonis hakim). Kalau sudah dibacakan (vonisnya), baru nanti kita akan berkoordinasi dengan pimpinan, seperti apa nantinya (terima atau mengajukan banding),’’ tuturnya.

Dikatakannya, perbuatan Ali dalam perkara TPPU itu menurut JPU, terbukti secara sah dan meyakinkan telah melanggar Pasal 3 Undang-undang nomor 8 tahun 2010, tentang TPPU.

Selain menuntut Ali dengan pidana penjara 3 tahun, JPU juga menyita uang sebanyak Rp320 juta darinya. Yang mana uang tersebut merupakan hasil penjualan 1 unit mobil Mitsubishi Pajero Sport.

Dalam isi dakwaan, disebut bahwa total transaksi di rekening Ali Honopiah mencapai Rp7 miliar selama tahun 2017. Diduga, uang ini berkaitan dengan perniagaan Trenggiling.

Ali Honopiah sendiri sedang berstatus terpidana dalam perkara pokoknya, yakni tindak pidana penjualan satwa dilindungi. Perkara ini telah diputus di Pengadilan Negeri Pelalawan, dengan hukuman tiga tahun penjara. Hukuman itu pun diterima oleh terdakwa Ali.

Kembali ke perkara, transaksi tersebut dilakukan oleh Ali Honopiah, melalui rekening BCA adik iparnya, yang bernama Zabri. Melalui rekening inilah transaksi uang haram itu dilakukan.

Trenggiling yang dibeli oleh terdakwa kepada para pengepul di sejumlah provinsi di Sumatera, lalu dijual ke pembeli di Malaysia.

Hewan yang dilindungi itu, dijual kepada seorang Warga Negara Malaysia yang bernama Mr Lim.

Pembayaran dilakukan oleh Mr Lim melalui Widarto, dan dikirim ke rekening atas nama Zabri. Total transaksi mencapai Rp7 miliar, baik transaksi tunai maupun transfer rekening.

Uang ini juga mengalir ke rekening istri terdakwa yang bernama Mahdalena, dan adik ipar terdakwa yang bernama Nopri Asrida.

Dalam perniagaan satwa dilindungi ini, ada tiga orang yang berbuat. Selain Ali Honopiah, dia punya dua rekan. Yakni Ali dan Jupri. Dua rekan Ali Honopiah ini, telah divonis bersalah oleh hakim Pengadilan Negeri Pelalawan.

Dalam dakwaan yang dibacakan JPU sebelumnya, juga disebut bahwa total transaksi Rp7 miliar ini, adalah untuk modal perniagaan Trenggiling. Selain itu, disebut juga uang ini digunakan oleh terdakwa untuk membeli mobil Mitsubishi Pajero Sport.

Tak hanya itu, uang juga digunakan terdakwa untuk menginap beberapa kali di hotel berbintang di Pekanbaru. Disebut juga untuk pembelian aksesoris mobil. Uang juga digunakan untuk membeli kaca mata yang harganya Rp3 juta.

Agar tak tercium transaksi dugaan pencucian uang ini, terdakwa seolah-olah telah menjual harta benda yang dibeli dengan uang haram ini. Padahal, hanya menitipkan kepada kawannya. Kwitansi penjualannya pun dipalsukan.

Bahwa terdakwa menguasai dan menggunakan rekening BCA milik Zabri, untuk mengalihkan dan mentransfer sebagian uang ke rekening terdakwa, istri terdakwa, dan adik ipar terdakwa untuk kepentingan pribadi.

Terdakwa Ali Honopiah diancam melanggar Pasal 5 ayat (1) Undang-Undang Nomor 8 tahun tentang pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang. =MX10



Berita Terkait

Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook