Bantah Beli Mobil Pakai Uang Trenggiling

Oknum Polisi Divonis Dua Tahun Penjara

Rabu, 07 November 2018 - 04:30 WIB   [39 Klik]

Oknum Polisi Divonis  Dua Tahun Penjara

Oknum polisi M Ali Honopiah mendengarkan vonis majelis hakim atas perkara TPPU.

PEKANBARU—M Ali Honopiah divonis hukuman dua tahun penjara oleh majelis hakim Pengadilan Tindak Pidana korupsi (Tipikor) pada Pengadilan Negeri Pekanbaru, Selasa (6/11) sore.

Oknum polisi yang bertugas di Kabupaten Indragiri Hilir itu disebut terbukti melakukan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) penjualan satwa yang dilindungi, trenggiling.

Dalam persidangan itu, ketua hakim Dahlia Panjaitan SH menjerat Ali Honopiah dengan dakwaan primer yakni Pasal 3 Undang-undang Nomor 8 Tahun 2010 Tentang TPPU.

“Menyatakan terdakwa M Ali Honopiah terbukti bersalah melakukan TPPU. Menjatuhkan pidana penjara selama 2 tahun,” ujar Dahlia.

Selain penjara, Ali Honopiah juga dihukum membayar denda Rp800 juta. Uang itu dapat diganti hukuman penjara selama 3 bulan.

“Hukuman dipotong masa tahanan sementara yang sudah dijalankan terdakwa,” kata Dahlia didampingi hakim anggota Yanuar Anardi SH dan P Sitorus SH.

Majelis hakim menyatakan, hukuman yang diberikan kepada terdakwa karena tidak ada satu pun pembenaran atas tindakan terdakwa. Hasil kejahatan terdakwa disamar, sepeti membeli satu unit mobil Pajero Sport dan harta benda lainnya.

Atas vonis itu, terdakwa berkoordinasi dengan penasehat hukuman dan menyatakan pikir-pikir untuk melakukan banding atau tidak. “Kami juga pikir-pikir,” ujar Jaksa Penuntut Umum (JPU) Hamiko SH.

Sebelumnya, JPU menuntut Ali Honopiah dengan penjara selama 3 tahun. JPU juga menuntut dia membayar denda sebesar Rp800 juta atau subsider  kurungan selama 6 bulan. Tidak sampai di situ, JPU juga menyita uang sebanyak Rp320 juta dari terdakwa.

Uang tersebut merupakan hasil penjualan satu unit mobil Mitsubishi Pajero Sport.

Bantah Beli Mobil dari Jual Beli Trenggiling

Di luar persidangan, Ali Honopiah menyatakan menghormati putusan majelis hakim terhadap dirinya. Namun dia membantah mobil yang dibelinya dari uang penjualan trenggiling.
Menurut Ali Honopiah, mobil itu dibeli dari uang hasil kerja halalnya selama ini. Selain itu juga ada yang pemberian dari orangtuanya.

“Itu uang saya. Perlu saya katakan, itu (beli mobil) bukan uang trenggiling.  Ada dari orangtua saya. Itu akan saya pertanggungjawabkan sampai mati,” tegasnya sambil berjalan menuju sel tahanan sementara Pengadilan Negeri  Pekanbaru.

Untuk diketahui, dalam isi dakwaan JPU, disebut bahwa total transaksi di rekening Ali Honopiah mencapai Rp7 miliar selama tahun 2017.

Diduga, uang ini berkaitan dengan perniagaan trenggiling. Selain itu, disebut juga uang itu digunakan oleh terdakwa untuk membeli mobil Mitsubishi Pajero Sport.

Transaksi dilakukan oleh Ali Honopiah melalui rekening BCA kakak iparnya yang bernama Zabri. Melalui rekening inilah transaksi uang haram itu dilakukan. Trenggiling yang dibeli oleh terdakwa dari para pengepul di sejumlah provinsi di Sumatera, lalu dijual ke pembeli di Malaysia.

Pembelinya  adalah  seorang Warga Negara Malaysia yang bernama Mr Lim. Pembayaran dilakukan oleh Mr Lim melalui Widarto dan dikirim ke rekening atas nama Zabri.

Total transaksi mencapai Rp7 miliar, baik transaksi tunai maupun transfer rekening. Uang ini juga mengalir ke rekening istri terdakwa yang bernama Mahdalena dan adik ipar terdakwa yang bernama Nopri Asrida.

Tak hanya itu, uang juga digunakan terdakwa untuk menginap beberapa kali di hotel berbintang di Pekanbaru.

Disebut juga untuk pembelian aksesoris mobil. Uang juga digunakan untuk membeli kaca mata yang harganya Rp3 juta.

Dalam perniagaan satwa dilindungi ini, ada tiga orang yang berbuat. Selain Ali Honopiah, dia punya dua rekan, yakni Ali dan Jupri.

Dua rekan Ali Honopiah ini telah divonis bersalah oleh hakim Pengadilan Negeri Pelalawan.

Ali Honopiah sendiri sedang berstatus terpidana dalam perkara pokoknya, yakni tindak pidana penjualan satwa dilindungi. Perkara ini telah diputus di Pengadilan Negeri Pelalawan dengan hukuman 3 tahun penjara. ***

 

Liputan   : Fanny Rizano

Redaktur : Kornel Panggabean



Berita Terkait

Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook