Selewengkan Dana KUR Rp1,7 M

Dua Pegawai BRI Jadi Tersangka

Jumat, 09 November 2018 - 03:07 WIB   [39 Klik]

Dua Pegawai BRI Jadi Tersangka

Petugas Kejaksaan Negeri Meranti menggiring seorang tersangka korupsi ke Rutan.

SELATPANJANG—Dua pegawai PT Bank BRI Unit Teluk Belitung, Kecamatan Merbau ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan tindak pidana korupsi dana KUR (Kredit Usaha Rakyat) oleh Kejaksaan Negeri Kepulauan Meranti, Kamis (8/11).

Tersangka adalah DH dan FD. Usai menjalani pemeriksaan, tersangka DH langsung ditahan dengan cara dititipkan di Cabang Rutan Bengkalis di Selatpanjang. Sementara tersangka FD ditetapkan sebagai DPO karena diduga melarikan diri.

‘’Modusnya memalsukan atau membuat seakan-akan asli dokumen agunan, surat keterangan usaha, dan meminjam KTP nasabah tanpa diketahui oleh nasabah itu sendiri. Sementara uang realisasi kredit fiktif itu diambil tersangka dan dipakai untuk keperluan pribadi,’’ kata Kepala Kejaksaan Negeri Kepulauan Meranti Budi Rahrjo SH MH didampingi Kasi Pidsus Robby Prasetya SH MH, Kasi Intel Zea Ulfa SH, Muhammad Ulinnuha, dan Sabar Gunawan dalam konfrensi pers yang digelar bertempat di Kantor Kejari Kepulauan Meranti, Kamis (8/11) siang.

Menurut Budi, PT Bank BRI merupakan salah satu bank BUMN yang ditunjuk pemerintah dakam hal mempercepat pembangunan perekonomian negara melalui berbagai program. Salah satunya program Kredit Usaha Rakyat (KUR).

Dan, program tersebut juga dilakukan di Bank BRI Unit Teluk Belitung. Namun, dalam prosesnya terjadi kecurangan administrasi (fraud).

‘’Berdasarkan hasil penyelidikan, memang benar telah terjadi dugaan tindak pidana korupsi dalam penyaluran kredit. Atau lebih dikenal dengan istilah kredit fiktif di Bank BRI Unit Teluk Belitung pada 2015-2016,’’ ungkap Budi.

Ditambahkan Kasi Pidsus Robby Prasetya, dugaan korupsi tersebut berawal dari laporan Cabang BRI Selatpanjang. Berdasarkan surat perintah penyelidikan Kepala Kejaksaan Negeri Kepulauan Meranti Nomor: Print-01/N.4.14/Fd.1/03/2018 tanggal 12 Maret 2018, perkara tersebut kemudian ditingkatkan ke tahap penyidikan.

Hasilnya cukup maksimal. Bahkan selama beberapa bulan melakukan pemeriksaan, Tim Tipikor juga berhasil mengumpukkan bukti-bukti.

‘’Keterbukaan informasi nasabah di Perbankan memang sulit. Kita harus jemput bola mencari nasabah satu per satu. Makanya ditingkatkan statusnya. Dari hasil tersebut telah dikumpulkan bukti untuk menjadikan terang suatu perkara yang sama,’’ ujarnya.

Menurut Robby, kedua tersangka diduga telah menyalahgunakan kewenangan selaku mantri (bagian kredit) dalam menganalisa permohonan kredit. Modusnya pun sangat sederhana.

Keduanya dengan sengaja memalsukan atau membuat seakan-akan asli dokumen agunan, surat keterangan usaha, dan meminjam KTP nasabah tanpa diketahui oleh nasabah itu sendiri yang rata-rata tidak bisa baca-tulis. Sementara uang realisasi kredit fiktif itu diambil tersangka dan dipakai untuk keperluan pribadi.

Tidak tanggung-tanggung, dengan cara itu tersangka DH telah berhasil meraup keuntungan sebesar Rp926.782.543. Sedangkan tersangka FD mendapat untung sebesar Rp842.267.378. Sehingga jika ditotalkan kerugian negara mencapai Rp1.782.062.261.

Jumlah kerufian tersebut dihasilkan kedua tersangka melalui sekira 70 kredit/nasabah.

‘’Dalam kasus ini, keduanya melanggar Pasal 2 Ayat (1) Jo Pasal 18 UU RI Nomor 31 Tahun 1999 tentang Tipikor sebagaimana telah diubah dengan UU RI Nomor 20 Tahun 2001 tentang tindak pidana korupsi atau Pasal 3 Jo Pasal 18 UU RI Nomor 31 tahun 1999 tentang pemberantasan Tipikor sebagaimana telah diubah dengan UU RI Nomor 20 tahun 2001 tentang tindak pidana korupsi,’’ pungkas Robby.

Menurut dia kemungkinan bertambahnya tersangka bisa saja terjadi karena pemgembangan kasus terus dilakukan oleh tim penyidik.

‘’Nantikan saja perkembangannya. Bisa jadi akan ada tersangka baru. Karena dalam memverifikasi berkas juga melibatkan banyak orang,’’ ujarnya.

Dia juga yakin kasus tersebut akan tuntas. Apalagi dalam menangani kasus korupsi pihaknya telah membentuk tim yang langsung diketuai Kasi Pidsus.

‘’Sekarang, kita tidak khawatir lagi. Kami sudah banyak, mata dimana-mana. Jadi, kepada siapa pun jangan caba-coba melakukan tindak pidana korupsi jika tidak mau berurusan dengan hukum,’’ tambahnya.

Terkait pengejaran tersangka FD, ditambahkan Kasi Intel Zea Ulfa SH, saat ini pihaknya telah bekerja sama dengan Kejati dan Kejagung. Bahkan, pihaknya juga telah mengeluarkan surat perintah cekal terhadap tersangka FD yang melarikan diri.

‘’Namun, dari hasil pelacakan tersangka FD masih berada di sekitar sini. Tinggal menunggu waktu yang tepat untuk menangkapnya. Kita hanya berharap tersangka proaktif, jika tidak mau dihukum seberat mungkin,’’ pungkas Zea. =mx13



Berita Terkait

Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook