Benarkah Ratu Wilhelmina Jatuh Cinta Pada Sutan Syarif Kasim II?

Sabtu, 10 November 2018 - 12:54 WIB   [178 Klik]

Benarkah Ratu Wilhelmina Jatuh Cinta Pada Sutan Syarif Kasim II?


SIAK--Hubungan spesial pahlawan nasional asal Riau, Sutan Syarif Kasim II dengan Ratu Wilhemina dari Belanda sampai kini masih menjadi tanda tanya banyak orang. Ada yang meyakini  bahwa Ratu Wilhemina benar-benar jatuh cinta pada Sutan Syarif Kasim II. Meski banyak juga yang meragukannnya.

Bagaimana cerita sebenarnya tentang kisah kedua pemilik dua kerajaan dari benua yang berbeda ini? Benarkah seperti kutipan lagu "Isabella" yang dinyanyikan penyanyi Malaysia, Amy Search: "kisah cinta dua dunia yang terpisah karena adat yang berbeda"?

Berikut koranmx.com mencoba menukilkannya kembali dari beberapa sumber.

Kesultanan itu didirikan oleh Raja Kecil bergelar Sultan Abdul Jalil Rakhmat Syah pada 1723. Sultan Syarif Kasim II yang lahir di Siak Sri Indrapura, Riau, 1 Desember 1893 adalah Sultan Siak Sri Indrapura ke-12. Dia menggantikan ayahnya, Sultan Assyaidin Hasyim I Abdul Jalil Syaifuddin yang wafat pada 1908.

Posturnya diketahui gagah karena memang dalam tubuhnya mengalir darah keturunan Arab. Ia lelaki yang memesona setiap wanita yang melihatnya. Tak terkecuali, mungkin Ratu Wilhemina juga terpesona.

Adanya kedekatan hubungan Sutan Syarif Kasim II dengan Ratu Wilhemina setidaknya bisa diketahui dari banyaknya memorabilia (benda-benda kenangan) dari Sang Ratu dari Belanda itu di Istana Siak Sri Indrapura.

Ada potret sang ratu, baik seorang diri atau dengan suami yang terpampang di sana. Yang menarik, ada patung pahatan berbentuk ratu yang menjabat dari 1890—1948 ketika masih muda.

Sejumlah peninggalan kenang-kenangan bisa dilihat berupa patung berbentuk dirinya yang saat itu masih muda. Kedua saling bertukar kado. Sebagai kenang-kenangan Ratu Wilhemina kemudian meminta patung Sultan Syarif Kasim II untuk dibawa pulang ke Belanda.

Ratu Wilhemina memang pernah berkunjung ke Istana Siak Sri Inderapura saat Sultan Syarif Kasim II menjabat. Saat itulah, Ratu Wilhemina konon jatuh hati pada Sultan yang memiliki darah Arab ini.

Namun akhirnya, kisah cinta Ratu Wilhemina pada Sultan Syarif Kasim II tak berlanjut. Karena memang keduanya berbeda secara ekstrim baik adat, agama maupun bangsa.

“Karena berbeda agama, Sultan Syarif Kasim II ini menjauh secara perlahan. Biar persahabatan tak putus juga,” kata Sukri, seorang pemandu wisata istana Siak, seperti dikutip majalah Intisari.

Sampai kembali ke Negeri van Oranye juga Wilhemina masih menjalin hubungan baik dengan Sultan Syarif Kasim II. Terbukti Wilhemina mengundang Sultan Syarif Kasim II berkunjung ke Belanda saat ulang tahunnya.

Sultan Syarif Kasim II kemudian mengabadikan perjalanannya pada sebuah potret suasana ramai jalanan Belanda bewarna hitam putih. Foto tersebut sampai sekarang dapat dilihat di Istana Siak Sri Inderapura.

Saat memerintah Sultan Syarif Kasim II memiliki 12 wilayah pemerintahan dari Siak sampai Kalimantan. Kerajaannya berakhir setelah Sultan Syarif Kasim II yang tak punya keturunan berbesar hati menyerahkan kerajaan beserta segala kekayaanya kepada NKRI. Namanya kini dikenang sebagai bandara di Riau.

Kesetiaan Sutan Syarif Kasim II pada Republik


Sutan  Syarif Kasim II sangat berjasa bagi Indonesia. Saat menyatakan kesetiaan pada Republik Indonesia, mahkota, pedang, dan sebagian hartanya diserahkan kepada Soekarno-Hatta.

Ia dinobatkan menjadi sultan pada 13 Maret 1915, dengan gelar Sultan Assyaidis Syarif Kasim Sani Abdul Jalil Syaifuddin. Dia berkuasa hingga 1946.

Sejak dinobatkan sebagai sultan, dia menegaskan sikap bahwa Kerajaan Siak adalah kerajaan yang berkedudukan sejajar dengan Belanda. Hal ini tidak seperti isi kontrak perjanjian antara Kesultanan Siak dengan Belanda yang menyatakan bahwa Siak adalah milik Kerajaan Belanda yang dipinjamkan kepada sultan.

Demi mencerdaskan rakyatnya, Sultan Syarif Kasim II menyelenggarakan program pendidikan dengan mendirikan Hollandsch Inlandsche School (HIS) di samping sekolah berbahasa melayu yang diperuntukkan bagi semua lapisan penduduk.

Untuk mempermudah transportasi bagi para siswa, dia membuat perahu penyeberangan gratis. Bahkan, bagi para siswa yang berbakat diberikan beasiswa untuk melanjutkan sekolah ke luar daerah seperti Medan, Padang, dan Batavia.

Dia juga mendirikan sekolah agama khusus laki-laki dengan nama Taufiqiah Al-Hasyimah. Tak tanggung-tanggung, tenaga pengajar didatangkan dari Padang dan Mesir.

Selama memimpin, dia sangat menentang dan menolak kebijakan Belanda yang mewajibkan agar rakyat melakukan kerja rodi. Penentangan ini oleh pihak Belanda dianggap sebagai penolakan pribadi Sultan.

Belanda tak bisa terima. Sultan Syarif Kasim II dianggap memberontak. Untuk menumpas pemberontakan itu, Belanda melakukan pembakaran terhadap rumah-rumah penduduk. Bahkan, Belanda mendatangkan bala bantuan di bawah pimpinan Letnan Leitser yang telah berpengalaman dalam Perang Aceh.

Namun, usaha Leitser untuk menumpas pemberontakan tersebut gagal. Bahkan, Leitser tewas bunuh diri pada 1932.

Di masa pendudukan Jepang, Sultan Syarif Kasim II juga tetap konsisten membela rakyatnya agar menolak untuk menjadi tenaga Romusha.

Setelah mendapat kabar Soekarno-Hatta memproklamasikan kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945, Sultan Syarif Kasim II mengirim surat kepada Soekarno-Hatta. Surat itu berisi tentang kesetiaan dan dukungan kepada Pemerintah RI. ***

 

Penulis: Oce E Satria



Berita Terkait

Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook