Perusahaan Ragukan Keabsahan Tandatangan Orangtua Korban Fly Over

Kamis, 10 Januari 2019 - 16:00 WIB   [143 Klik]
Redaktur : Oce E Satria

Perusahaan Ragukan Keabsahan Tandatangan Orangtua Korban Fly Over


KORANMX.COM, PEKANBARU -- Kecelakaan kerja yang menimpa Agus Andriansyah (20), pekerja asal Sukabumi Jawa Barat, saat bekerja di pembangunan fly over Pasar Pagi Arengka pada 20 Desember 2018 silam menimbulkan sengkarut. Tuntutan keluarga korban ditepis pihak perusahaan.

Seperti diketahui, korban yang jatuh dari ketinggian saat memplester dinding fly over, kemudian meninggal dunia pada 25 Desember 2018 setelah sempat dirawat lima hari di rumah sakit.

Direktur Pengawasan Teritorial LSM BPKP Provinsi Riau, Rion Satya, Selasa (8/1/2019) angkat bicara. Ia menyayangkan besar santunan yang diterima keluarga korban hanya sebesar Rp10 juta.

Phak perusahaan PT Dewanto Cipta Pratama, kata Rion,  wajib memenuhi hak-hak pekerja tersebut melalui ahli warisnya sesuai dengan peraturan perundang-undangan berlaku

"Santunan yang diberikan Rp10 juta kepada istri korban itu tidak layak. Karena kecelakaan kerja itu menyebabkan kematian suaminya. Wajar saja istri korban menolak santunan seperti ini. Berarti nyawa suaminya tidak berharga. Harga seekor sapi saja melebihi Rp10 juta. Nah ini manusia, apakah pantas? " tegas Rion.

Namun bantahan dilontarkan Perwakilan  PT Dewanto Cipta Pratama di Riau, Supriyo. Ia membantah akan menyerahkan uang santunan sebesar Rp10 juta yang kemudian ditolak isteri korban.

"Soal nilai sama sekali tidak pernah membahas hal tersebut . Karena itu bukan wewenang saya. Itu menjadi tanggung jawab legal perusahan dalam penyelesaiannya," kata Supriyo.

Pri mengaku pihaknya memang belum memberikan uang santunan kepada isteri korban karena yang bersangkutan tidak bisa menunjukkan buku nikah.

Kemudian, pihak perusahaan juga meragukan keabsahan tanda tangan orang tua korban yaitu Tuti yang diduga palsu. Begitu juga no rekeningnya tidak jelas punya siapa. "Kalau terbukti itu palsu, kita akan usut sesuai hukum berlaku," kata Pri.

Faktor itu juga menjadi pertimbangan ketika akan menyerahkan santunan kepada istri korban. "Pihak perusahan ingin menyerahkan uang santunan kepada orang yang berhak menerimanya, tepatnya keluarga korban," ujar Pri sebagaimana dilansir toRiau.co.

Bilamana sudah mendapatkan jawaban dari pimpinan perusahaan, bahwa benar orang tua korban Tuti yang menandatangani surat kuasa kepada Dewi (isteri korban), pihaknya akan menyerahkan santunan kematian secara tunai ke istri korban.

"Sementara total biaya keseluruhan, baik rawat inap rumah sakit sampai penerbangan jenazah dari Pekanbaru - Sukabumi berkisar Rp40 juta ditanggung oleh pihak perusahaan sepenuhnya," tutup Pri.

Menurut Kepala Dinas Tenaga kerja dan transmigrasi Provinsi Riau, Rasidin Siregar, apabila sampai korban meninggal dunia, BPJS Ketenagakerjaan wajib memberikan santunan berkisar 80 bulan gaji jika pekerja  didaftarkan perusahaan. Tetapi bilamana tidak terdaftar di BPJS, maka kewajiban dibebankan kepada perusahaan.

Informasinya, almarhum bekerja  dengan penerimaan sekitar Rp3,2 juta sebulan. Dengan begitu, jika maksimal dia mendapatkan 80 bulan gaji sebagai santunan, setidak-tidaknya perusahaan harus membayar sekitar Rp250 juta. ***

Sumber: toRiau.co



Berita Terkait

Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook