Migas untuk Kesejahteraan Masyarakat

Mengubah Nasib dengan Menanam Kakao

Jumat, 08 Maret 2019 - 10:48 WIB   [139 Klik]

Mengubah Nasib dengan Menanam Kakao


Laporan: Hendra Nainggolan


HARGA kelapa sawit yang sering naik turun dan memasuki masa replanting, kini sudah tidak terlalu berdampak bagi masyarakat Desa Palambaian, Kecamatan Tapung, Kabupaten Kampar. Kini mereka mulai mengandalkan hasil dari menanam kakao yang harganya melebihi buah sawit.

Desa yang mulai didiami sejak tahun 1992 silam  awalanya hanya dihuni 30 Kepala Keluarga (KK). Mereka didatangkan pemerintah pusat dari Pulau Jawa, dalam rangka program Transmigrasi.

''Kami ikut program Transmigrasi. Kalau saya dari Cilacap, Jawa Tengah,'' kata Suparjo, salah satu yang ikut program, juga pengawas Kelompok Tani Prima Jaya Tapung (Prijata).

Mencoba peruntungan di bumi Lancang Kuning, Suparjo dan kawan-kawan diberi lahan seluas 2,5 hektar. Bermodalkan tanaman sawit yang ditanam oleh PTPN V, pada tahun 1988 silam. Warga pun, dapat 
menyekolahkan anak-anak mereka setinggi-tingginya.

Lebih kurang 31 tahun berselang, sesuai umurnya, tanaman sawit mulai perlu peremajaan (replanting). Diganti tanaman baru. Menimbang, masa tanaman baru berbuah, maka muncullah ide menanam tanaman lain.

''Ide kami mulai menanam kakao, mengantisipasi efek ekonomi dari replanting sawit. Dan juga dorongan dan dukungan kepala desa,'' ungkap Suparjo.  

Difasilitasi Kepala Desa Pelambaian, Supriono, Suparjo dan 30 orang anggota Kelompok Tani Prijata berangkat ke Aceh, Sumatera Barat, dan Jambi untuk menimba ilmu dengan petani kakao di sana.

Cerita sukses petania kakao di tiga provinsi itu akhirnya membuka mata Suparjo dan kawan-kawan, bahwa kakao bisa dijadikan komoditas penunjang ekonomi baru, setelah sawit terus diombang-ambing harga.. Mereka juga mendapat pemahaman bahwa pohon kakao ternyata sangat cocok ditanam di Riau yang memiliki tekstur tanah panas.

''Tahun 2015 kalau tak salah. Kami kunjungi petani di Aceh, Sumbar dan Jambi. Kami manfaatkan waktu seminggu dengan belajar. Sangat tekun dan serius,'' tutur Suparjo.

Pulang membawa ilmu, Suparjo dan teman-teman satu desanya langsung praktek di lahan masing-masing. ''Kami hanya menggunakan setengah hektar, ditanam kakao,'' terang Suparjo.

Menanam sambil belajar, Suparjo dan kawan-kawan menggunakan  puluhan polybag. Percobaan tersebut kebanyakan berhasil. Setelah cukup layak, bibit yang tumbuh dipindahkan ke tanah.

''Awalnya, pakai modal sendiri. Iseng-iseng,  setelah belajar sebelumnya. Alhamdulillah. Kebanyakan berhasil tumbuh, dengan bibit kakao seharga Rp15 ribu per batang,'' katanya.

Harga per kilo biji kakao sangat menggembirakan dan cenderung naik terus, berkisar Rp22 ribu hingga Rp30 ribu. Jarang turun.  Kondisi ini berbeda dengan harga sawit di pasaran.

Minat kelompok tani semakin besar seiring keterampilan mereka melakukan pembibitan berhasil. Apalagi, bibit yang mereka kembangkan merupakan bibit unggul.

Setelah dicoba dan hasilnya dipasarkan, perbandingan pendapatan berbeda 50 persen. Misalnya, jika hasil sebulan dari kebun sawit berkisar Rp400 ribu, maka hasil panen kakao berkisar Rp800 ribu.

''Jadi memang lebih menjanjikan berkebun kakao,'' ucap Suparjo yakin.

Berbekal dokumentasi hasil menanam dan pembibitan, Kelompok Tani Prijata melayangkan proposal bantuan ke sana-sini. Termasuk PT Chevron Pacific Indonesia (CPI).

Kabar gembira datang di tahun 2017. Dana Rp100 juta diberikan PT CPI sebagai modal mengembangkan bakat Kelompok Tani Prijata.

''Oleh PT Chevron, kami tidak hanya diberikan dana segar. Tapi tenaga ahli, mendidik kami. Alhamdulillah, awalnya banyak biji yang tidak tumbuh, sekarang hampir semua biji dapat tumbuh,'' katanya penuh syukur.

Lebih kurang dua tahun berjalan, Kelompok Tani Prijata juga telah mampu menyalurkan ilmu bertani kakao dengan kelompok tani lainnya. Terhitung, kata Supriyono, ada 10 kelompok tani di Tapung berguru kepada Kelompok Tani Prijata. Bahkan sebaran ilmu mereka sampai kepada kelompok tani di XIII Koto Kampar.

''Kalau soal ilmu kita tidak pelit. Alhamdulillah, sudah banyak kelompok tani lain menimba ilmu menanam kakao sama kita,'' ungkap Supriyono.

Supriyono mengungkapkan, ide mengenalkan warganya menanam kakao berawal dari efek replanting bagi pendapatan warga. Selama ini mereka hanya mengandalkan biaya hidup dari sawit.

''Saya khawatir kalau menunggu sawit kembali berbuah, warga jual para bola, kulkas. Takut jika warga sampai  jual tanahnya,'' ujar Kepala Desa Pelambaian Supriono.

Sedikitnya di tahun 2021 mendatang, luas lahan kelapa sawit yang akan direplanting sekitar 520 hektar. Sementara itu, dari hasil satu hektar sawit dapat menghasilkan sekitar Rp1,8 juta perbulan.

''Jika diremajakan, warga akan kehilangan pendapatan Rp3,6 juta per bulannya. Untuk desa, akan kehilangan pendapatan sebesar Rp936.000.000 per bulan,'' ungkap Supriono.

Terpisah, Sonitha Poernomo selaku Manager Corporate Communication PT Chevron Pacific Indonesia menyebutkan, Desa Pelambaian, Tapung termasuk wilayah Operasi PT CPI. Sejak digulirkan melalui program Prisma di bulan November tahun 2016 di desa tersebut, sudah menjadi cikal-bakal pembentukan Intermediate Servis Provider / Induk Kelompok Tani Binaan (Koperasi Prima Jaya Tapung).

''Bantuan yang dikucurkan dari PT CPI ke Kelompok Tani Prijata. Diberikan satu tahun dari 2016 hingga 2017,'' kata Sonitha Poernomo.

Saat itu, berjalan satu tahun, pihaknya memberikan pendampingan dalam bentuk sosialisasi potensi kakao sebagai sumber penghasilan tambahan. Kemudian, memberikan pengenalan budidaya kakao yang semestinya.

''Masyarakat juga kita berikan pelatihan manajemen pembibitan, teknik sambung bibit. Hingga perawatan dan penyusunan rencana usaha ISP. Pembentukan koperasi Prima Jaya Tapung itu, diharapkan mereka mengelola kegiatan usaha bekerjasama dengan koperasi,'' harap Sonitha Poernomo.


Hasilkan Bibit Kakao yang Unggul

Setelah dimodali dan didukung melalui tenaga ahli, kini Kelompok Tani Prima Jaya Tapung sudah dapat menghasilkan bibit unggul. Bahkan, bibit yang mereka hasilkan sudah memiliki sertifikat dan layak dipasarkan.

Beberapa kesempatan, kata Soleh selaku Kepala Divisi Pembibitan Prima Jaya Tapung, bibit yang mereka hasilkan sudah dipasarkan ke kelompok tani lainnya. Harganya Rp15 ribu per batang dengan usia 6 bulan. Tingginya sekitar 1 meter. 

''Bibit yang kami hasilkan, merupakan kategori bibit unggul. Tentunya, sudah mendapatkan sertifikasi yang legal,'' ungkap Soleh.

Bibit yang mereka hasilkan masuk kategori unggul, dilihat dari panjangnya. Dimana, bibit mereka mampu memiliki panjang 2 sampai 5 sentimeter. Sementara itu, dibandingkan bibit dari provinsi lain seperti dari Aceh hanya sepanjang berkisar 1 sentimeter.


Jadi Percontohan di Riau


Prestasi yang dicapai Kelompok Tani Prima Jaya Tapung ini, kata  Soleh, sudah menjadi percontohan di Riau. Gubernur Riau saat ini, Drs Syamsuar MSi sendiri sudah pernah melakukan kunjungan ke sana. Kala itu masih menjabat sebagai Bupati Siak.

Apa yang sudah mereka lakukan saat ini juga sudah menjadi perhatian dari Dinas Pertanian Kabupaten Kampar dan Provinsi Riau. Saat ini ada permohonan inden bibit dari desa. Dimana untuk kebutuhan yang dimohon desa sebanyak 36 ribu batang.

Jauh hari sebelum melakukan pengembangan, pihaknya sudah menyimpan pemasaran. ''Kami memiliki lima devisi, yakni produksi, pemasaran, penyakit, pelatihan, pembibitan,'' ungkap Soleh.

Terkait kedatangan rombongan, PT CPI dan sejumlah wartawan melakukan peliputan, Kelompok Tani Prima Jaya Tapung berharap apa yang mereka usahakan dapat dipublikasikan. ''Ada permohonan, bahwa kelompok kami tidak akan besar jika tidak ada publikasi. Karena jika dipublikasi, kami akan besar,'' tukas Soleh.

Harapan dan semangat yang besar masih terus terjaga di hati masyarakat dan kelompok tani. Harapannya bisa menjadi ikon Riau. ***

Tulisan ini untuk diikutsertakan  dalam “Lomba Karya Tulis dan Karya Foto Jurnalistik Raja Ali Kelana 2019”



Berita Terkait

Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook