Berjuang Sampai Makamah Agung

Setahun Hidup di Penjara, Akhirnya IRT di Siak Dibebaskan

Selasa, 12 Maret 2019 - 15:54 WIB   [207 Klik]

Setahun Hidup di Penjara, Akhirnya IRT di Siak Dibebaskan

Ramona, memegang selembar kertas yang isinya menyatakan dirinya tidak bersalah dan divonis bebas oleh Makamah Agung.

PEKANBARU—Setelah merasakan dinginnya dinding penjara selama satu tahun lebih, Ramona Safni akhirnya menghirup bebas. Wanita yang sehari-hari sebagai ibu rumah tangga (IRT) itu divonis bebas di tingkat kasasi oleh Makamah Agung.

Putusan Kasasi bebas itu diputuskan dalam rapat musyawarah majelis hakim pada Selasa (19/2) oleh Prof Dr Surya Jaya SH MHum, selaku Hakim Agung yang ditetapkan oleh Ketua Makamah Agung sebagai Ketua Majelis, serta Dr H Margono SH MHum MM dan Maruap Dohmatiga Pasaribu SH MHum, Hakim-Hakim Agung sebagai hakim anggota.

Wanita 34 tahun itu sebelumnya ditangkap oleh tim Opsnal Satuan Reserse Narkoba Polres Siak di Jalan Datuk Kampar, Kampung Dayun, Kecamatan Dayun, Kabupaten Siak. Penangkapan itu dilakukan polisi pada tanggal 2 Januari 2018. Dalam penangkapan itu, polisi menemukan empat paket narkotika jenis sabu.

Selang beberapa waktu, Ramona akhirnya dihadapkan ke persidangan. Dalam persidangan itu, ia divonis lima tahun penjara. Menurut majelis hakim Pengadilan Negeri Siak, ia terbukti melanggar Pasal 112 Jo Pasal 114 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.

Tidak terima dengan vonis itu, Ramona melalui penasehat hukumnya mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi Pekanbaru. Hasilnya, banding tersebut menguatkan putusan Pengadilan Negeri Siak.

Merasa belum mendapatkan keadilan, Ramona pun mengajukan kasasi ke Makamah Agung. Hasilnya, Ramona divonis bebas.

"Puji syukur, perjuangan kami selama ini membuahkan hasil yang sangat memuaskan. Klien kami akhirnya vonis bebas di tingkat kasasi," ucap Rudi Jamrud SH bersama Yosi Mandagi SH dan Wan Ahmad Rajab SH, dari Kantor Hukum Syiar Keadilan, saat ditemui Pekanbaru MX, Selasa (12/3).

Menurut kuasa hukum Ramona ini, putusan di tingkat pertama dan banding itu tidak mengedepankan fakta persidangan. Alasannya, ada beberapa hal dalam fakta dipersidangan yang tidak dapat dibuktikan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Siak.

"Ada beberapa hal yang tidak dapat dibuktikan oleh JPU di persidangan. Salah satunya berkas perkara. Dalam berkas perkara klien kami itu, disebutkan ada saksi yang merupakan RT di TKP (tempat kejadian perkara), telah dimintai keterangannya di penyidik Polres. Faktanya di persidangan, saksi RT ini tidak pernah dimintai keterangannya di Polres. Jadi patut diduga berkas itu dikarang oleh penyidik atau direkayasa," jelasnya.

Tidak sampai di situ, barang bukti yang menjadi acuan polisi untuk menangkap kliennya pun disinggung. Lagi-lagi menurut Rudi, Yos dan Rajab, barang bukti narkotika tersebut bukan milik kliennya.

"Jadi penangkapan terhadap klien kami itu patut diduga dibuat-buat oleh mereka. Ya akhirnya semua terbukti. Klien kami divonis bebas ditingkat kasasi," pungkasnya. =MX10



Berita Terkait

Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook